
'Haidar, kenapa aku malah takut dengan perlakuan kamu yang seerti ini?' gumam Yumna dia tak henti menatap punggung Haidar.
"Hei, Yumna! Yumnaaa!" panggil Haidar. Yumna tersadar dan melihat tangan Haidar yang melambai di depan wajahnya.
"Malah bengong! Yuk berangkat!" Haidar menggenggam tangan Yumna dan membawanya pergi dari sana.
"Eh, belum di bayar kan?" tanya Yumna saat Haidar malah membawanya ke pintu keluar.
"Elo ngelamun ya? Udah di bayar tadi!" ucap Haidar, kembali dia menarik tangan Yumna berjalan dengan cepat.
"Elo ngelamunin apaan sih?" tanya Haidar. Yumna hanya terdiam, tidak juga mengerti dengan dirinya sendiri.
"Pakai sepatu flat gak apa-apa kan? Kalau yang heels gue takut elo gak bisa jalan nanti!" ucap Haidar. Yumna mengangguk.
'Ternyata dia bisa perhatian juga!' gumam Yumna.
Mereka kembali berkendara hingga akhirnya tak berapa lama mereka sampai di rumah mewah milik Agnes. Seorang sekuriti datang menyambut Haidar. Dia membukakan pintu gerbang untuk mereka.
Yumna dan Haidar turun dari mobil, seorang maid membukakan pintu untuk mereka berdua.
Agnes datang menyambut kedua sepupunya dengan suka cita.
"Akhirnya kalian datang juga! Gue kira gak akan datang, makan malam udah hampir lewat!" ucap Agnes sambil memeluk Haidar dengan mesra, sekilas jika tidak tahu hubungan keluarga di antara mereka pastilah orang lain akan menyangka kalau mereka punya hubungan spesial.
"Iya, gara-gara tuan putri nih, tadi ngambek! Jadi ada sedikit insiden, harus di bujuk dulu!" ucap Haidar sambil menunjuk Yumna dengan dagunya. Agnes melirik Yumna lalu tertawa terkekeh.
"Ah biasa! Kalau pengantin baru kan gitu, kalau marah-marah solusinya yaaa main di atas ranjang!" ucapnya ambigu. Membuat Yumna merasa sangat malu dengan perkataan Agnes.
'Dia tidak tahu aja insiden macam apa tadi!' batin Yumna melirik kesal ke arah Haidar.
__ADS_1
"Yumna. Aku seneng kita bisa ketemu secara pribadi!" Agnes beralih memeluk Yumna.
"Iya kak. Aku juga seneng ketemu Kak Agnes! Trimakasih atas undangannya!" ucap Yumna.
"Panggil Agnes aja. Lagian meskipun dia kakak sepupu, tapi umurnya juga masih di bawah kita!" ucap Haidar lalu berjalan meninggalkan kedua wanita itu.
"Iya panggil aku Agnes aja. Biar lebih akrab!" ucap Agnes lalu membawa Yumna masuk ke dalam. Mereka melewati beberapa ruangan hingga tiba di belakang rumah. Di tepi kolam renang sudah di sediakan meja besar. Tungku pembakaran menyala menghantarkan aroma wangi khas barbekyu. Seorang pria muda kurus sedang mengurus pembakaran.
Di sana sudah ada beberapa orang, duduk mengelilingi meja makan. Ben -suami Agnes-, Darren, dan juga kekasih barunya.
"Tumben elo gak di apartemen!" ucap Haidar sambil menarik kursi untuk dirinya sendiri. Haidar duduk dengan nyaman lalu mencomot satu butir kue dari tengah meja.
Ben, Darren, dan Agnes menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Haidar yang tidak pernah berubah. Darren berdiri dan menarik sebuah kursi untuk Yumna.
"Silahkan duduk adik ipar yang cantik!" ucap Darren. Haidar melongo melihat perlakuan Darren yang manis pada istrinya. Panas. Panas... (Bukan kue ya yang panas, tapi hati nya!).
"Trimakasih, mas!" ucap Yumna.
'Mas?! Dia aja panggil gue cuma nama! Kenapa sama dia manis banget manggil 'mas'?' Haidar mengunyah kue di mulutnya dengan kasar. Lalu sekali lagi memasukan makanan ke dalam mulutnya melihat interaksi Yumna dengan Darren yang terlihat sangat manis.
"Heh, jangan urusin istri gue! Sana urusin pacar elo, jangan di anggurin!" Haidar tidak tahan lagi, dia menarik Yumna ke arah kolam renang. Darren, Ben, dan Agnes menatap kepergian kedua pengantin baru itu.
"Haidar cemburu tuh!" ucap Agnes masih tak mengalihkan pandangannya dari tangan Haidar yang masih menggenggam erat tangan Yumna.
"Biar tahu rasa dia! Istri cantik di anggurin masih aja gak mau lepasin si Vio!" ucap Ben dengan nada sedikit kesal. Agnes dan yang lainnya sudah tahu meskipun Haidar menikah dengan Yumna tapi pria itu masih tidak bisa move on dari Viola.
"Gue bingung, kalau dia masih cinta sama Vio kenapa si kampret itu bisa nikah sama Yumna? Kasihan banget kan gadis itu!" ucap Agnes kesal. Dia mengambil wine dan menenggaknya sedikit.
"Jangan minum ini, nanti kamu mabuk!" Ben mengambil gelas dari tangan istrinya.
__ADS_1
"Hehe... kebiasaan!" ucap Agnes sambil menyengir ria.
Darren menatap Haidar dan Yumna yang sudah berada di dekat kolam. Dia tak bisa berhenti menatap ke arah Yumna meski di dalam hatinya tidak membenarkan.
"Apa sih Haidar? Elo gak sopan banget deh sama yang lain!" Yumna menepis tangan Haidar.
"Bisa banget ya elo bersikap manis sama si Darren? Maksud elo apa coba?!"
"Bersikap manis apa?" tanya Yumna tidak mengerti.
"Tadi dia narik kursi buat elo, terus elo panggil dia mas? Ngobrol sambil senyam-senyum? Elo mau tebar pesona sama si Darren?" Haidar mengangkat tangan Yumna dan menggenggamnya erat, rahangnya mulai mengeras. Yumna menahan rasa sakit di tangannya.
"Tebar pesona? Elo gila!" Yumna menarik tangannya dan mendorong dada Haidar dengan keras, hingga Haidar mundur satu langkah. Yumna pergi meninggalkan Haidar dengan kesal.
"Dasar laki-laki brengsek! Apa maksudnya coba dia bilang gue tebar pesona! Gue cuma bersikap ramah, apa itu salah? Haidar... Brengsek!" gumam Yumna. Matanya terasa panas mengeluarkan cairan bening. Yumna mengusap kasar pipinya dengan menggunakan punggung tangannya. Hatinya terasa sakit.
Yumna terus berjalan di tepi kolam renang. Dia tidak memperhatikan saat seorang wanita lewat dan tak sengaja menabraknya. Keseimbangan Yumna hilang, dia tidak bisa menahan berat tubuhnya yang kini terjatuh ke dalam kolam renang.
Byurrr!!!
Yumna mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Dia berusaha keras bergerak untuk tetap berada di permukaan. Tapi semakin keras dia berusaha, semakin jauh permukaan itu. Semakin dalam dan semakin dalam.
Rasa takut dan putus asa tiba-tiba hinggap ke dalam hatinya. Adegan demi adegan yang terjadi di masa lalu seketika bisa ia lihat di depannya.
'Tidak!' Yumna mengulurkan tangannya, tapi tangan kecil itu semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
'Kembali. Ku mohon. Raih tanganku!' Yumna berusaha berteriak, tapi yang ada malah gelembung-gelembung udara yang keluar dari dalam mulutnya. Nafasnya habis, dia merasa air yang banyak terhirup ke dalam hidungnya.
'Tolong... Tolong aku... Ha... Haidar!'.
__ADS_1