YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
38. Pulang ke rumah


__ADS_3

Setelah menghabiskan dua malam di hotel, Haidar dan Yumna memutuskan untuk pulang. Tujuan mereka adalah kediaman Keluarga Rahadian, seperti yang sudah di bicarakan sebelumnya.


Haidar mengetuk pintu rumahnya, tak berapa lama seorang asisten membukakan pintu untuk mereka.


"Mas Haidar. Mbak Yumna!" sapa asisten itu ramah sedikit terkejut melihat kedatangan Haidar dan Yumna.


"Mbak, mami ada? Tolong bantu bawakan koper ke atas ya!" ucap Haidar, asisten itu mengangguk sopan.


"Ada mas di kamar! Mau saya panggilkan?" tanya asisten itu.


"Gak usah biar saya saja!" ucap Haidar lalu berjalan masuk ke dalam. Asisten itu mengangguk, terpana melihat Yumna yang terlihat sangat cantik. Yumna tersenyum pada asisten itu sebelum dia masuk ke dalam.


'Patah hati deh, mas Haidar udah nikah. Mana cantik lagi istrinya!' gumam asisten itu pelan lalu kemudian membantu sopir membawa satu koper milik Haidar.


Yumna menunggu di ruang tamu sedangkan Haidar mengetuk pintu kamar Mitha.


"Mam! Aku pulang!" teriak Haidar. "Mamii!!!" mengetuk pintu lebih keras lagi.


Di dalam kamar.


"Pi! Seperti suara Haidar!" Mitha menoleh ke belakang pada suaminya yang sedang berada di atas tubuhnya. Arya berhenti bergerak, mencoba menajamkan pendengarannya.


"Bukannya mereka baru akan kembali besok ya?" tanya Arya pada sang istri.


"Harusnya sih begitu. Tapi kenapa anak-anak udah pulang?" tanya Mitha balik.


"Ya mana papi tahu!" jawab Arya.


"Maamii!!!" suara Haidar kembali terdengar. Lalu kemudian menghilang tidak terdengar lagi.


"Awas pi! Mami mau keluar!"


"Sebentar mi, tanggung ini. Sebentar lagi selesai!" Arya meneruskan kegiatannya.


"Ada Yumna itu pi, gak enak kalau mereka nunggu!" ucap Mitha, dia meringis sedikit kesakitan akibat perbuatan suaminya.


"Ya memang kenapa sih, nunggu sebentar lagi juga gak akan masalah! Tanggung ini sebentar lagi selesai loh! Nanti kalau papi udah cape, papi gak mau loh nerusinnya!"


"Ya udah, tapi jangan lama-lama ya pi! Malu loh kalau masih jam segini kita masih di dalam kamar. Lagian papi lagi gak masuk kerja jadi kan mami mau..."


"Iya papi sih gak masalah, yang penting mami happy!" ucap Arya memotong perkataan istrinya. Mitha merebahkan kepalanya kembali ke bantal dan menutup kedua matanya, menikmati perlakuan suaminya yang lembut.


Haidar mendekati Yumna dan duduk di single sofa. Wajahnya terlihat kesal.


"Kenapa sih? Mami mana?" tanya Yumna.


"Kesel gue! Mami gak keluar kamar udah di panggil juga dari tadi!" ucap Haidar dengan kesalnya.


"Masih tidur mungkin!" tutur Yumna.


"Gak biasanya mami masih tidur! Ini masih jam sembilan juga!" Haidar melihat jam di tangannya.


"Ya kan siapa tahu aja mami cape dan bangun siang!" ucap Yumna.

__ADS_1


Haidar mengeluarkan hpnya dan membuka chat yang baru saja masuk ke dalam hpnya. Dia tersenyum-senyum sendiri. Yumna memutar bola mata malas, tahu siapa tersangka yang membuat suaminya menjadi seperti orang gila.


Beberapa menit kemudian.


"Haidar. Yumna!" panggil Mitha. Haidar segera mengakhiri chatnya dengan Vio.


"Kok kalian sudah pulang, harusnya besok kan?!" tanya Mitha. Dia mendekat ke arah Yumna dan memeluk sang menantu.


"Iya mi. Yumna ingin segera pulang dan ketemu mami. Jadi kita pulang hari ini!" ucap Haidar yang membuat Yumna melotot.


'Gue kan emang ngajak pulang, tapi buat hindarin elo kalau tidur malam!' seakan seperti itu protes Yumna akan kata-kata Haidar barusan.


"I-iya mi. Yumna gak sabar pengen ketemu mami. Lagipula, cuma diem di hotel juga bosen!" ucap Yumna.


"Aaahhh, menantu mami. Seneng mami ada yang kangenin, gak kayak itu tuh... Gak pernah kangen sama sekali sama maminya!" Mitha menunjuk ke arah Haidar dengan dagunya. Haidar mencibir kesal melihat perlakuan mami pada Yumna.


"Sudah sarapan? Biar mami masakan buat kamu!" tawar Mitha pada Yumna.


"Sudah mi, tadi sebelum kita keluar hotel sudah sarapan."Jawab Yumna canggung.


"Boleh mi, aku masih lapar. Tadi sarapan cuma dikit!" sambar Haidar.


"Bi Nah!!" teriak Mitha, tak lama yang di panggil datang.


"Iya bu!" seorang asisten khusus memasak datang mendekat.


"Tolong buatkan sarapan buat Haidar ya!" ucap Mitha.


"Baik bu! Mau sarapan apa, Mas?" tanya Bi Nah pada Haidar. Haidar menggelengkan kepalanya.


"Halahh bi Nah aja yang masakin, kan sama aja!" ucap Mitha santai.


"Tadi aja sama Yumna nawarin, kenapa aku yang minta malah suruh Bi Nah?" protesnya lagi.


"Mami kan sedang menyambut menantu mami!"


"Mami pilih kasih, yang anak mami siapa sih?!" kesal Haidar.


"Buatkan nasi goreng, bi!" ucap Haidar pada Bi Nah.


"Baik, mas!" Bi Nah langsung pergi ke dapur untuk membuatkan apa yang Haidar minta.


"Mami juga kenapa sih baru keluar dari kamar? Bangun kesiangan?" tanya Haidar.


"Enggak juga!" jawab Mitha. Arya datang sambil menggosokkan handuk kecil di atas kepalanya yang basah, duduk di sebelah istrinya.


"Eeuuhhh... pantes aja lama di kamar, ternyata...." Haidar mendelik ke arah sang mami.


"Apa?" Mitha melotot. "Jangan fikir yang aneh-aneh!" ucap Mitha. "Tadi tuh mami tanggung lagi di kerokin sama papi! Mami masuk angin!" Mitha menarik bajunya, menunjukkan bahunya yang merah memanjang bekas kerokan.


"Yakin cuma kerokan doang?" tanya Haidar tidak percaya.


"Jangan kepo deh! Kalau mau tahu, coba aja kamu kerokin istri kamu!" Arya melemparkan handuk setengah basah ke wajah Haidar. Dia tertawa melihat Yumna yang memerah mukanya.

__ADS_1


"Sudah, jangan bawa-bawa Yumna. Lihat tuh Yumna udah merah gitu mukanya!" Mitha tertawa melihat ekspresi malu menantunya.


Arya pergi ke kantor karena ada urusan mendadak, Haidar sedang makan di dapur, sedangkan Mitha dan Yumna sedang mengobrol ringan di ruang tamu.


Selesai Haidar menghabiskan sarapannya, dia kembali mendekat ke arah mama dan istrinya.


"Ya sudah kalian istirahat saja di atas. Mami sebentar lagi mau pergi lihat-lihat butik. Sudah empat hari ini mami belum pergi kesana!" ucap Mitha.


"Yumna kalau kamu ada butuh apa-apa bilang saja sama asisten ya. Jangan sungkan-sungkan. Anggap aja ini rumah sendiri!" ucap Mitha.


"Iya, mi." jawab Yumna mengangguk. Mitha pergi ke kamar sedangkan Haidar dan Yumna pergi ke lantai atas.


Sampai di depan kamar, Haidar membuka pintu kamarnya perlahan, dan menyalakan lampu. Dia melongo seketika melihat kamarnya yang berubah.


Dinding yang tadinya berwarna abu-abu kini berubah menjadi warna biru lembut. Barang-barang kelelakiannya juga sudah tidak ada. Poster band, dan artis favoritnya entah kemana. Seprai karakter dan gorden warna abu-abu kesukaan tidak ada lagi, berganti dengan seprai dan juga gorden berwarna putih, dan beberapa vas bunga di atas meja, dengan bunga mawar putih yang semerbak wangi. Lukisan indah bertemakan cinta terpampang di dinding kamar Haidar.


Haidar menghela nafasnya dengan kesal, lalu tersenyum kecut.


"Kenapa?" tanya Yumna.


"Mami benar-benar keterlaluan! Baru juga dua malam gak pulang, barang-barang punya gue sudah banyak yang hilang!" ucap Haidar.


"Masuk dulu. Gue mau cari mami!" Yumna masuk ke dalam kamar sedangkan Haidar kembali turun ke lantai bawah mencari mami Mitha.


"Ibu sudah pergi barusan, mas!" bi Nah datang setengah berlari setelah mendengar Haidar berteriak memanggil maminya.


"Kemana barang-barang yang ada di kamar?" tanya Haidar.


"Di gudang, mas. Ibu bilang sekarang kan ada mbak Yumna, harus menjaga kenyamanan mbak Yumna. Kalau mas Haidar minta di balikin ke kamar, barang-barang itu... lebih baik... di bakar saja, Begitu kata ibu!" ucap bi Nah takut. Haidar mandecih sebal, dia mengurut pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


"Ya sudah. Bibi simpan baik-baik di gudang, jangan sampai rusak. Titip sampai nanti aku ambil lagi!" titah Haidar lalu pergi. Bi Nah hanya mengangguk pasrah. Dadanya sudah berdebar, takut jika Haidar mengamuk seperti waktu dulu.


Haidar kembali ke kamar. Dia merebahkan dirinya di atas kasur, merasa kesal pada maminya. Yumna yang berdiri di depan jendela berjalan mendekat dan duduk di dekat Haidar.


"Kenapa muka lo lecek banget?" tanya Yumna dia mengambil bantal dan memeluknya di dada.


"Gak kenapa-napa!" jawab Haidar masih kesal. Suara notif di hpnya terdengar beberapa kali, Haidar mengeluarkan hpnya dari dalam saku celana, mendadak wajahnya berbinar. Dia bangkit dan melakukan panggilan keluar.


"Hai sayang!" Haidar berdiri dan menjauh, membuka pintu balkon dan duduk di kursi santai di luar kamarnya, tanpa mempedulikan Yumna. Yumna memutar bola malas.


'Pasti Vio lagi!' gumamnya dalam hati. Entah kenapa dia merasa kesal.


'Huh... Mesra-mesraan di depan aku! Gak hargain banget perasaan aku apa?!' kesal Yumna. Dia merebahkan dirinya dan membuka layar hpnya. Melihat beberapa notif di medsosnya. Melirik ke arah luar, Haidar masih betah bertelfon ria, hingga terdengar suara tawa renyahnya. Yumna membuang nafasnya kasar.


'Kalau gue punya pacar pasti gak akan kayak gini. Semuanya sudah terlambat! Aldy, kalau saja sebelum aku ketemu sama Haidar kamu menyatakan perasaan kamu, sekarang kita pasti akan bahagia. Sayangnya kamu ngatain perasaan kamu setelah aku tunangan sama dia. Apa kamu akan benci aku kalau kamu tahu aku cuma pura-pura sama dia?' Yumna menghela nafasnya berat. Tidak dia sadari kalau sedari tadi dia memandangi foto di medsos milik Aldy, tengah tersenyum seolah tersenyum pada Yumna.


Haidar kembali ke dalam kamar, tidak dia sadari sudah satu jam lebih dirinya berbicara via telfon dengan Vio. Haidar menatap punggung Yumna. Yumna tidak bergerak sama sekali.


'Apa dia tidur?' gumam Haidar, dia mendekat dan melihat Yumna tengah terlelap.


Beberapa detik Haidar menatap wajah Yumna, bulu matanya yang lentik. Hidung mancung, dan bibir tipis yang merah. Tanpa sadar Haidar menggerakkan punggung tangannya mengelus pipi Yumna. Lembut!


Haidar menarik tangannya, sadar dengan apa yang dia lakukan.

__ADS_1


'Apa sih ni, tangan main sosor aja! Kalau sampai Yumna bangun, nanti gue di kira mau mesum lagi!' Haidar menepuk tangannya sendiri.


__ADS_2