YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
100. Menepis Fakta


__ADS_3

"Sayang, kamu gak apa-apa?" Vio membantu haidar duduk di kursi. Haidar menggelengkan kepalanya. Dia memegangi pipinya yang linu. Seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Kamu harus laporkan tentang pengeroyokan ini pada polisi." ucap Vio.


"Tidak perlu. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka cuma anak kecil." ucap Haidar.


"Anak kecil darimana? Jelas mereka sudah dewasa!" tutur Vio. Kesal.


"Sudahlah Vi. Itu urusanku. Kita pulang!" ucap Haidar. Dia bangkit dan pergi meninggalkan Vio disana.


Di dalam mobil Vio dan Haidar sama-sama terdiam. Haidar mengantarkan Vio pulang ke apartemennya. Haidar menolak masuk ke dalam sana, saat Vio menawarkan untuk mengobati lukanya.


Setelah mengantar Vio pulang ke apartemennya, Haidar memilih pergi ke rumah Agnes. Pulang ke rumah mami hanya akan membuatnya di omeli habis-habisan.


Pasti lah, pulang dengan keadaan babak belur, apalagi kalau mami tahu siapa pelaku pengeroyokan dirinya. Dia sangsi mami akan membelanya.


Keadaan di rumah berubah menjadi sangat menyebalkan apalagi semenjak dia menolak untuk membawa Yumna pulang.


"Astaga!!" Agnes terkejut saat melihat siapa yang datang dengan keadaan kacau dan babak belur pula.


"Elo kenapa?" tanya Agnes.


"No comment. Obatin gue!" tanpa permisi Haidar masuk ke dalam rumah Agnes dan duduk bersandar di sofa.


Agnes segera mengambil kotak obat dan mulai membubuhkan alkohol pada permukaan kapas. Dia membersihkan wajah Haidar dengan perlahan.


"Elo kenapa sih? Kenapa bisa babak belur begini?" tanya Agnes.


"Dihajar orang!"


"Siapa? Elo punya masalah apa sih?" tanya Agnes.


"Dua adik kembarnya Yumna. Mereka gak terima kita akan bercerai." jawab Haidar, lalu memekik kesakitan saat Agnes tak sengaja menekan pipinya dengan keras.


"Sakit Nes!"


"What? Elo bercerai dengan Yumna?" Meski Agnes sudah tahu dengan pernikahan palsu mereka tapi dia tak menyangka kalau mereka akan bercerai secepat ini.


"Bukannya perjanjiannya satu tahun ya?" tanya Agnes heran. Haidar menatap mata Agnes yang langsung memalingkan padangannya ke arah lain.


"Elo tahu?" tanya Hiadar. "Elo tahu tentang perjanjian itu?" tanya Haidar lagi. Ah, pasti mami yang sudah membocorkan rahasianya pada Agnes. Terima saja kalau Agnes akan mengejeknya.

__ADS_1


Agnes tersenyum dengan lebar hingga matanya menyipit.


"Gue tahu."


"Sejak kapan?"


"Sejak elo mabuk dan nginap di rumah gue." jawab Agnes.


Ya ampun! Ternyata saat itu?


"Kenapa kalian cerai secepat ini? Bukannya kalian cerai harusnya masih sembilan bulanan lagi ya?" Agnes mulai kepo.


Haidar terdiam. Dia mencoba mengingat apa penyebab Yumna meminta cerai. Itu karena Yumna tidak mau terlalu dalam membohongi mami dan papi dan juga keluarga besar mereka.


Dan juga Yumna takut dengan dirinya.


"Gue waktu itu bilang apa aja?" tanya Haidar.


Agnes tertawa sambil menutup mulutnya.


"Mau tau aja atau mau tahu banget?" mode jahilnya mulai menyala.


"Eh kemana?" tanya Agnes.


"Kamar!" jawab Haidar dingin. Agnes menarik tangan Haidar hingga pria itu kembali terduduk.


'Gue kan belum ngomong, udah main pergi aja!"


"Udah gak mau denger!" jawab Haidar.


"Jadi elo gak mau denger fakta nih?'


"Fakta apa? Gak usah banyak berbelit deh lo!" Haidar mulai kesal. Dia kembali bangkit karena Agnes hanya ingin mengganggunya saja.


"Ih bentar!" lagi-lagi menarik tangan Haidar hingga kembali terduduk di kursi.


"Fakta kalau elo suka sama Yumna!" perkataan Agnes membuat Haidar terdiam, lalu sedetik kemudian tertawa.


Agnes menatap pria itu dengan bingung.


"Gak mungkin!" ucap Haidar.

__ADS_1


"Gue... suka sama Yumna? Dunia kiamat!" tertawa lagi.


"Gak mungkin gue suka sama cewek barbar seperti dia. Dia itu cuma temen debat gue!?"


Agnes menatap Haidar kesal. Sudah jelas-jelas pria itu suka dengan Yumna. Tapi kenapa dia tak sadar juga?


"Nyadar gak kalau temen debat bisa membuat elo jatuh cinta? Apalagi selama ini kalian tinggal dalam rumah yang sama." Haidar mendengus kesal. kenapa perkataan Agnes dan mami sama.


"Heran deh, kalian para wanita kenapa punya fikiran pada sama sih? Kalian berkomplot ya?!" Haidar menatap Agnes tajam.


"Gue gak kompotan sama Tante Mitha. Elo sendiri yang bilang kalau elo suka dia. Elo kangen dia. Elo lebih banyak bicarain dia bukannya Vio! Terus gue salah kalau gue bilang elo suka sama Yumna? Coba deh elo fikir. Yang elo suka itu siapa? Gue cuma gak mau elo salah dalam melabuhkan cinta." tutur Agnes.


Haidar merasa kesal, lagi-lagi dia di tuding salah memilih?


"Terserah elo. Yang pasti gue sudah pilih Vio. Yumna bukan siapa-siapa Gue!" ucap Haidar lalu dia bangkit dan pergi ke arah kamar tamu.


"Hei Haidar. Gue cuma mau ngingetin aja. Mumpung elo sama Yumna belum cerai. Nanti kalau elo udah cerai sama Yumna elo bakal menyesal!" teriak Agnes.


"Gak! Gue gak akan menyesal!" Haidar balas berteriak melanjutkan langkah kakinya ke arah kamar tamu.


Agnes terdiam, sepupunya itu sangat keras kepala. Dia hanya berdoa supaya Haidar tidak menyesal dengan keputusannya itu.


Ben baru saja datang.


"'Sayang. Ada Haidar ya?" tanya Ben. Dia mendekat dan mencium pipi istrinya.


"Heem. Ada di kamar dia. Yang bilangin Haidar deh." Agnes dengan nada manja, sambil memeluk suamimya.


"Bilangin apa?" Ben bingung. Dia baru saja datang, tidak tahu apa-apa.


Agnes berbisik pada Ben.


"Secepat ini?" tanya Ben yang tak percaya Haidar akan menjadi duda di umur yang masih muda.


"Heem. Kamu nasehati deh dia ya. selama ini kan dia lebih nurut sama kamu." bujuk Agnes.


"Oke deh nanti aku akan urus Haidar, sekarang aku akan urus istriku dulu." Ben membungkuk dan menggendong istrinya ala bridal. Dan membawanya ke lantai atas.


Haidar berbaring di atas ranjang.


"Gue suka sam Yumna? Gak mungkin!" gumam Haidar.

__ADS_1


__ADS_2