
Yumna tersenyum menatap Haidar yang tampak bahagia. Akhirnya mereka berdua telah menyelesaikan misi sebagai suami istri. Meski rasanya tubuhnya lelah dan bagian dirinya terasa sakit, tapi Yumna juga bahagia karena malam ini dia bisa menjadi seorang istri untuk Haidar.
"Aku senang sekali karena malam ini kita sudah bisa menjadi suami istri yang sebenarnya. Terima kasih kamu telah bertahan dan memberikan kebahagiaan untukku." Haidar kembali mendekat dan mencium kening Yumna.
Mereka berdua kini memutuskan untuk tidur karena rasa lelah yang mendera tubuh keduanya. Saling memeluk satu sama lain mencari kehangatan dan kenyamanan.
Siang menjelang, tanpa sadar dua orang itu telah tidur sangat lama sekali. Pak Dani yang terheran karena belum melihat kedua majikannya itu keluar dari dalam rumah, sedari tadi hanya memperhatikan saja. Dia pergi ke dapur untuk mengecek keadaan di dalam rumah. Di sana dia tidak juga menemukan sepasang suami istri baru itu. Tirai jendela juga masih tertutup, Pak Dani mendekat dan membuka semua tirai yang ada di sana. Menatap ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat, dia kemudian tersenyum kecil.
"Dasar pengantin baru," ucapnya lalu pergi dari sana.
"Emang ya kalau orang balik lagi rujuk rasanya lebih lebih daripada pengantin baru," ucapnya sekali lagi sambil pergi ke arah dapur untuk mengambil kopi.
"Ah, jadi kangen istri di rumah. Aku harus pensiun kayaknya," gumamnya sambil membawa satu renteng kopi pergi ke pos tempatnya berjaga.
Pak Dani duduk di kursinya, merentangkan tangannya ke atas dan ke samping, menggerakkan pinggangnya hingga terdengar bunyi tulang yang gemeretak. Di usianya yang sudah mencapai lima puluh tahun dia sudah merasa lelah. Sepertinya dia harus berhenti dari pekerjaannya ini dan menikmati masa tua di kampungnya. Biarlah dia akan memberikan pekerjaan ini kepada keponakannya saja. Jika mungkin Yumna mengizinkan Jeje untuk bekerja menggantikan dirinya di sini.
Suara dering telepon terdengar dengan sangat jelas segera Pak Dani mengambil hp yang ada di atas meja dan mengangkat panggilan tersebut.
"Iya Bu, ada apa apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Dani saat mengangkat panggilan tersebut.
"Apa Yumna sudah bangun?" tanya suara tersebut.
"Kayaknya belum sih, Bu. Soalnya di rumah juga belum kelihatan ada aktivitas. Tirai rumah saja masih tertutup semua," lapor Pak Dani kepada Lily.
"Apa ibu ada perlu dan saya bangunkan Mbak Yumna?" tanya laki-laki tersebut.
"Eh, jangan tidak perlu. Biarin aja kalau dia memang belum bangun. Saya cuma mau memastikan kalau dia baik-baik saja di sana," ucap Lily dengan cepat.
"Oh. Kayaknya mereka sih baik-baik aja. Buktinya sampai siang gini belum bangun juga," ucap Pak Dani sambil melihat jam yang ada di dinding yang kini menunjukkan hampir jam sembilan pagi.
"Ya sudah kalau begitu. Biarin aja mereka, tolong Pak Dani belikan saja makanan untuk mereka siapa tahu mereka keluar dari kamar lapar," pinta Lily kepada Pak Dani.
"Siap, Bu."
"Ya sudah kalau begitu saya tutup dulu teleponnya."
Lily kemudian menutup telepon dan Pak Dani memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku pakaiannya. Dia senang dengan perhatian Lily terhadap putrinya. Ingat saat dulu dia bekerja di rumah ini saat mereka masih berstatus pengantin baru. Meski awalnya Pak Dani merasa bingung karena ada wanita lain yang beberapa kali masuk rumah ini, yang ternyata adalah Dena, istri pertama dari Bima.
Pak Dani adalah saksi pernikahan kedua orang tua Yumna. Dia sangat merasakan ketika Bima kehilangan Lily, saat wanita itu pergi meninggalkannya hingga sampai beberapa tahun mereka dipertemukan kembali.
__ADS_1
"Semoga saja pernikahan Mbak Yumna dan Mas Haidar tidak ada masalah lagi ke depannya." Doa Pak Dani.
...***...
Yumna terbangun karena sinar terik matahari yang menembus sela-sela tirai kamarnya. Rasa silau itu membuat dia dengan enggan membuka mata. Tubuhnya terasa berat karena Haidar memeluknya dari belakang. Yumna tersenyum malu, ingat dengan apa yang mereka lakukan tadi malam. Pengalaman pertama yang dilakukan berdua bersama dengan Haidar.
Sinar matahari itu semakin menyorot kepadanya, Yumna mencoba meraih hp yang ada di atas nakas. Dia terkejut saat melihat jam sudah hampir ke angka sembilan, sampai dia terlonjak duduk karena refleks.
"Ya ampun, Haidar!" seru Yumna sambil mengguncang bahu suaminya.
"Haidar bangun ini sudah siang!" seru wanita itu lagi. dengan malas Haidar membuka sebelah matanya sipit.
"Ada apa sih, masih ngantuk juga?" tanya laki-laki itu dengan malas.
"Ini udah jam sembilan. Kita bangun kesiangan!" ucap Yumna.
Haidar melirik ke arah jam yang ada di dinding. Dia mengusap wajahnya dengan pelan.
"Kita kesiangan ya?" tanya laki-laki itu dengan santai.
"Iya, kita kesiangan. Bagaimana ini?" tanya Yumna khawatir. Bukannya bangun, Haidar malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Yumna.
Yumna merasa kesal atas jawaban yang diberikan suaminya itu.
"Kamu ini. Aku harus kerja!" ucap Yumna lagi.
"Percuma juga mau kerja. Ini sudha jam berapa? Apa kantor kasih toleransi kamu masuk sesiang ini?" ujar Haidar dengan suara tertahan di pinggang Yumna. Laki-laki itu menciumi kulit pinggang istrinya dengan lembut.
"Iya, sih. Tapi aku gak enak gak masuk. Gimana ini?" tanya Yumna menatap Haidar yang sibuk memberikan tanda merah pada kulitnya.
"Ya sudah. Besok kasih surat dokter aja. Beres, kan?" tanya Haidar.
Yumna geram karena Haidar tidak menghentikan kegiatannya, semakin banyak memberikan tanda bahkan kini pada perutnya.
"Ish, Haidar! Stop, deh!" ucap Yumna kesal, menutupi tubuhnya dengan selimut. haidar mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil.
"Napa sih, Yang? AKu masih kangen juga. Mumpung kita masih di rumah pada gak kerja, enakan bikin Haidar Junior lagi, yuk. Kayak semalam," ucap Haidar sambil menggerakkan alisnya naik dan turun dengan cepat.
Yumna menggelengkan kepala. "Ini aja masih sakit bekas semalam," ucap Yumna malu.
__ADS_1
"Aku pelan deh. Janji gak akan keras-keras," ucap Haidar lagi.
"Tapi aku belum ke kamar mandi."
"Emangnya kenapa harus ke kamar mandi?" tanya Haidar menatap istrinya.
"Ish, kamu ini. Bangun pagi gak ke kamar mandi rasanya tuh gimana ya?" Yumna menutup mulutnya, baru mengingat jika mungkin saja aroma mulutnya tidak sedap untuk suaminya.
Haidar menarik tubuh Yumna sehingga kembali terbaring di sampingnya, gegas menaiki tubuh sang istri yang hendak menghindar.
"Emang kenapa? Kamu gak bau, kamu wangi," ucap Haidar lalu tanpa permisi mencium bibir istrinya dengan singkat karena Yumna mendorong bahu Haidar.
"Aku bau. Belum sikat gigi," ucap Yumna kembali menutupi mulutnya dengan satu tangan.
Haidar menyingkirkan tangan itu dan lagi-lagi mencium Yumna di bibirnya. "Aku gak peduli. Yang aku mau bikin Haidar Junior!" seru Haidar, lalu dengan satu tangannya menarik selimut yang ada di tubuh Yumna menutupi tubuh mereka.
"Akh!" Yumna berteriak ketika ada sesuatu yang melesak masuk ke dalam miliknya, rasanya sedikit perih akibat benda keras tersebut. Akan tetapi, tidak terasa sesakit semalam karena dia mengira karena miliknya masih basah akibat cairan semalam.
"Kamu nakal!" ucap Yumna memukul bahu Haidar. laki-laki itu seakan sudha tahu letak di mana seharusnya memasukkan kepala plontos yang ada di bawah sana.
"Hehe, kalau gak nakal gak akan ada Haidar Junior dong," ujar Haidar sambil terkekeh pelan. Dia mulia menggerakkan pinggulnya membuat Yumna sedikit meringis kesakitan akibat gesekan yang masih saja membuatnya perih dan linu.
"Akh, pelan-pelan." Pinta Yumna.
"Masih sakit?" tanya Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya. Haidar kini bergerak cukup pelan sehingga membuat Yumna kini merasa nyaman dan juga merasakan kenikmatan dari gerakannya tersebut.
Selesai dengan pergulatan mereka yang kedua kali di pagi itu, kini mereka saling menatap satu sama lain. Rasanya lelah dan habis tenaga mereka, meski keduanya belum bergerak dengan maksimal karena Yumna yang masih merasakan sakit pada inti tubuhnya, tapi Haidar puas dengan apa yang mereka lakukan. Biar lah sekarang pelan dulu. Bukankah lama kelamaan mereka akan bisa ngebut juga. Hehe.
"Mau kemana?" tanya Haidar saat Yumna bangkit dari pembaringannya. Selimut menutupi tubuh Yumna membuat Haidar kini bagai bayi polos yang tak mengenakan pakaian.
"Mau mandi, lengket," ucap Yumna, lalu dengan susah payah berjalan perlahan menuju kamar mandi. Haidar tersenyum geli melihat cara berjalan Yumna yang seperti pinguin, lucu sekali. Dia segera bangun dan mendekat kepada Yumna.
"Akh! Haidar!" teriak Yumna terkejut dengan apa yang dilakukan Haidar. Suaminya itu telah menggendongnya kini, dengan refleks Yumna melingkarkan kedua tangannya di leher Haidar. Selimut yang dia pegangi tadi merosot ke lantai.
"Kamu ngapain?" tanya Yumna.
"Kamu jalan dah kayak pinguin, lucu. Bikin aku gak tahan pengen makan kamu lagi," ucap Haidar.
"Astaga!"
__ADS_1