
Sore sebelum pulang, Haidar menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke suatu tempat. Dia hanya ingin membuktikan jika apa yang disampaikan oleh temannya itu adalah bohong. Akan tetapi, saat sampai di sana dia memang melihat Viola tengah menjemur pakaian di depan kontrakan kumuhnya.
Hanya beberapa menit saja, setelah itu Haidar kembali mengendarai mobilnya untuk pergi dari sana.
Keadaan Viola sekarang ini membuat Haidar menjadi kepikiran, sangat menyedihkan sekali dan dia tidak menyangka jika hal buruk telah terjadi padanya.
Haidar menghentikan laju mobilnya dan kembali menghubungi seseorang lagi.
"Ya? Apa kamu nggak nemuin alamat itu? tanya temannya.
"Bukan, cuma ...." Haidar terdiam sebentar, kemudian menghela napasnya dengan baik.
"Bisa kamu bantu berikan uang sama dia?" tanya Haidar.
"Berikan uang gimana?" tanya laki-laki itu.
"Berikan uang sama dia, tapi jangan kamu bilang itu dari aku."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya laki-laki yang ada di seberang teleponnya dengan kening mengerut.
"Kamu sudah lupa jika aku sudah ada istri? Kasih aja, tapi jangan sebut nama aku," pinta Haidar sekali lagi. Akhirnya permintaannya disetujui oleh temannya itu. Haidar memberikan sejumlah uang dengan cara mentransfer-nya. Setidaknya itu adalah cara agar dia bisa membantu Vio, dan tidak mau jika dia mengetahuinya.
Mungkin itu lah cara yang terbaik, pikir Haidar.
Haidar kembali melajukan mobilnya ke jalanan yang padat, dia juga mampir terlebih dahulu untuk memberikan sesuatu pada sang istri.
Sampai di rumah, Yunan merasa heran karena tidak biasanya suaminya itu membawakannya makanan. Dia sedikit curiga dengan apa yang terjadi hari ini.
"Kamu udah ngelakuin dosa apa?" tanya Yumna melirik curiga kepada suaminya.
"Ini. Kamu kan nggak biasa bawa-bawa yang kayak beginian kalau aku nggak pesen," tanya Yumna dengan penuh curiga.
Akhirnya Haidar mengakui saja apa yang telah tadi dia lakukan. Tidak dia sangka di luar dari pemikirannya, ternyata Yumna tidaklah marah.
"Kamu nggak marah?" tanya Haidar kepada sang istri.
__ADS_1
Yumna menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar.
"Seharusnya apapun kamu kasih tahu dulu sama aku. Iya memang itu adalah uang punya kamu, kamu juga bebas menggunakannya untuk apapun yang kamu mau, tapi setidaknya apapun yang kamu lakukan aku juga harus tau, Haidar,"ucap Yumna sedikit kecewa. Hal itu membuat Haidar merasa bersalah. Ternyata apa yang tadi dia pikirkan salah besar. Tadinya dia ingin agar bisa membantu Viola tanpa membuat istrinya marah, tapi sekarang wanita itu melenggang pergi dan meninggalkan makanannya di atas meja dapur.
"Sayang!" panggil Haidar, tapi Yumna tidak menggubrisnya sama sekali, membuat laki-laki itu semakin merasa bersalah.
Haidar menyusul Yumna ke dalam kamar. Tampak sang istri sedang merenung saja sambil mengelus perutnya yang semakin besar. Cepat dia mendekat kepada Yumna dan berjongkok di hadapannya.
"Apa aku salah?" tanya Haidar dengan nada yang pelan. Yumna masih terdiam tidak ingin menjawab. Hal itu membuat Haidar tidak tahan dan bertanya sekali lagi, "Maaf, kalau ternyata apa yang aku lakukan itu salah. Aku cuma ingin bantu dia, tapi aku juga tidak mau kalau dia tahu itu dari aku." Haidar mencoba menjelaskan kembali.
"Kamu masih punya hati sama dia?" Dengan cepat Haidar menggelengkan kepalanya.
"Aku udah nggak ada hati sama dia. aku cuma khawatir aja lihat dia hidup seperti itu, dia itu sedang kesusahan dan aku hanya menganggap dia sebagai teman maka dari itu aku bantu dia."
...****************...
Mampir sini yuk.
__ADS_1