
Sudah 3 bulan berlalu, Yumna tengah menikmati peranannya menjadi seorang ibu. Semakin lama perutnya semakin membesar, dan hal itu membuat dia dan juga yang lainnya merasa sangat senang. Tidak ada halangan berarti untuknya saat ini, dia juga tidak mengidam yang aneh-aneh. Semua masih aman terkendali.
Saat ini Yumna baru keluar dari dalam kamarnya, dia baru saja selesai mandi. Handuk kecil dia gosok-gosokkan pada rambutnya yang basah, terkejut saat melihat Haidar berada di dapur.
"Ya ampun, kamu lagi ngapain?" tanya Yumna membuat Haidar mengalihkan tatapannya dari benda yang ada di tangan. Dia segera menelan makanannya dengan cepat sampai sesuatu meleleh di sudut bibirnya.
"Eh, Sayang. Aku nggak lagi ngapa-ngapain kok," ucap laki-laki itu, dia segera menyembunyikan benda yang ada di tangannya ke belakang punggung.
"Itu apa?" tanya Yumna mendekat agar dapat meraih sesuatu yang ada di belakang Haidar. Akan tetapi, Haidar segera mundur satu langkah sehingga Yumna tidak bisa meraihnya.
"Haidar itu apaan?" tanya Yumna lagi sedikit kesal. Pada akhirnya Haidar mengalah dan menunjukkan apa yang ada di belakang punggungnya karena tidak enak hati melihat raut wajah Yumna yang marah.
"Ya ampun, kamu ngapain sama ini?"
Haidar tampak malu karena ketahuan. "Aku nggak lagi apa-apa kok, cuma lagi pengen yang manis-manis aja," ucap Haidar pada akhirnya. Selama ini dia berusaha untuk menyembunyikan keadaan dirinya. Dia tidak mau melihat Yumna menjadi merasa bersalah.
"Tapi nggak kecap juga kali!" ucap Yumna sambil menatap heran pada bungkusan kecap yang kini ada di tangannya. "Kenapa nggak bikin sirup atau kopi aja kalau pengen yang manis-manis?" tanya Yumna.
__ADS_1
"Nggak tahu, aku lebih suka makan kecap."
"Apa kamu yang ngidam?" tanya Yumna.
"Nggak tahu."
Akhirnya Yumna tidak bisa menahan tawanya lagi. Terlalu aneh dengan semua ini. Meski kata orang seseorang yang sedang mengidam itu memang aneh, tapi baru kali ini dia menyaksikannya.
"Kamu itu minum kecap, bukan makan kecap," ucap Yumna sambil tertawa terkekeh. Haidar mengusap sudut bibirnya yang terdapat kecap di sana.
Yumna tidak tahu jika ternyata Haidar yang menggantikan dirinya mengidam. Pantas saja jika dia tidak pernah ingin sesuatu yang lain sampai kadang dia sendiri terheran dengan kehamilannya ini.
Selama ini suaminya tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh, Baru kali ini dia menemukan Haidar tengah menyedot kecap dari bungkusnya langsung, itu pun dia lakukan sambil berjongkok di bawah meja kompor.
"Maaf ya, jadi kamu yang harusnya repot." Yumna mengusap lengan Haidar, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Aku nggak masalah kok, cuma minum kecap aja lagian juga manis. Untung bukan makan yang pahit," ucap Haidar tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku udah siapin makan malam buat kamu."
"Sebentar. Aku keringin rambut dulu," ucap Yumna lalu menyingkir dari sana dan pergi ke ruang tv. Sedari kemarin rambutnya sedikit rontok, dia takut jika helaian rambutnya akan mengotori makanan.
Haidar mendekat dan mengambil alih handuk kecil tersebut, dia membantu istrinya mengeringkan rambut. Yumna kini hanya duduk saja sambil menonton televisi, menikmati ucapan lembut dan pijatan lembut pada kepalanya.
"Kamu pasti kesusahan ya, kenapa jadi kamu yang ngidam?" ucap Yumna sekali lagi.
"Aku nggak tahu, Yumna. Tapi nggak apa-apa, setidaknya bukan kamu yang kesusahan karena masa mengidam, 'kan?"
Yumna menganggukan kepalanya, akhirnya dia dan Haidar makan malam setelah rambutnya setengah kering.
...****************...
Maaf sedikit, up nya 🙏. nggak kuad ngantuk berat, banyak kerjaan siang tadi sampai nggak bisa ngetik banyak. mampir sini yuk
__ADS_1