
'Apa dia suka sama Yumna? Kenapa tatapan matanya seperti itu? Seperti sedang menunggu kekasih?' Haidar terus menatap Aldy, merasa penasaran.
Suasana riuh terdengar disana saat akhirnya yang di tunggu datang.
(anggap saja Yumna sedang menuruni tangga. Author gak nemu gambar yang pas, 😅😅✌)
Semua mata memandang takjub pada Yumna, tak terkecuali para lelaki termasuk Haidar, dan Aldy. Reyhan pun yang sedang berdiri tak jauh dari sana tersihir dengan penampilan Yumna. Dia tak lagi menghiraukan kakek yang tengah mengajaknya berbicara. Wajah ketiga orang itu terlihat lucu, dengan mulut terbuka.
'Ini bidadari kah?' monolog Haidar dalam hati. Yumna sangat cantik! Tidak ia sangka Yumna bisa secantik ini, padahal selama ini dia terlihat biasa saja.
Yumna berjalan menuruni tangga, dengan perlahan, gaun yang ia pakai agak panjang hingga ia harus mengangkat bagian depannya sedikit. Apa lagi menuruni tangga membuat Yumna sedikit takut jika terjatuh akibat kakinya terjerat gaunnya sendiri. Dia sedikit canggung melihat betapa banyak orang di bawah sana. Tatapannya menyapu ke kanan hingga ke kiri. Dan saat melihat ke sebuah tempat, jantungnya seakan berhenti berdetak.
'Aldy?'
Sekilas mereka bertatapan muka. Yumna sempat berhenti ditengah tangga. Orang yang paling ingin ia hindari ada disini.
Huft... Yumna menghembuskan nafasnya pelan, sepelan mungkin supaya tidak ada seorangpun yang mendengar.
Dia merasa gugup sekarang! Aldy, Reyhan, dan Haidar, ketiga pria itu ada disana membuat Yumna sangat gugup. Apalagi semua mata memandang padanya. Yumna sangat tidak terbiasa dengan itu!
Mitha tersenyum melihat wajah putranya yang memandang Yumna penuh minat. Hampir terlihat tidak berkedip. Mitha mendekat ke arah Haidar dan menyenggol lengan putranya.
"Bengong aja. Jemput sana ke atas!" titah Mitha tersenyum pada Haidar. Haidar yang tersadar dari kekagumannya perlahan melangkahi tangga satu persatu. Hingga dia berhenti tepat dua tangga di bawah Yumna. Tak hentinya ia mengagumi wajah cantik Yumna.
Haidar mengulurkan tangan kanannya pada Yumna. Yumna menatap telapak tangan Haidar. Ragu. Lalu dia menatap wajah Haidar. Perasaannya malu meskipun ini hanya pura-pura, tapi mereka melakukannya secara nyata.
"Ayo! Pegang tangan aku. Kita turun sekarang, dan buktikan kalau kita adalah bintang utamanya malam ini!" Dia berkata lirih, senyum Haidar mengembang, membuat Yumna terpesona.
"Iya!" ucap Yumna, ia meraih tangan Haidar dengan dada berdegup kencang, lalu mereka turun ke lantai bawah. Semua itu tak luput dari padangan semua orang yang hadir disana. Kagum akan paras keduanya yang menawan. Sungguh sangat serasi.
Yumna meneruskan langkahnya, pandangannya tidak ia alihkan dari tangannya yang berada dalam genggaman Haidar. Hangat.
Lily dan Bima menyambut Yumna di bawah tangga. Semua orang yang menunggu Yumna merasa senang dan ikut bahagia.
"Akhirnya calon menantuku datang juga!" Mitha menyongsong kedatangan Yumna dan memeluknya. Yumna sangat canggung dengan keadaan itu, dia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya tanda hormat, balas memeluk calon mertua.
"Cantik sekali!" puji Mitha pada calon menantunya itu.
"Trimakasih tante!" Mitha melotot karena Yumna memanggil dirinya tante.
"Mami, panggil aku mami!" tutur Mitha.
"Iya, ma-mi." ucap Yumna membuat Mitha dan Arya sangat bahagia.
"Pi, kita akan punya anak perempuan!" Mitha berbicara pada suaminya.
"Iya mi. Haidar memang tidak salah memilih calon istri." puji Arya, membuat Yumna tersipu malu. Dalam hatinya ia merasa sangat gugup dan malu, karena banyaknya orang di ruangan ini yang menatapnya.
Acara pun di mulai. Semua orang bergembira. Cincin dan barang lamaran sudah di serahkan oleh pihak keluarga Haidar.
Setelah berbincang-bincang dan yang lainnya. Tibalah saatnya Haidar dan Yumna bertukar cincin di saksikan oleh yang lainnya.
Meskipun ini hanya pura-pura nyatanya perasaan Yumna dan Haidar sama-sama bercampur aduk di dalam hatinya. Dadanya berdebar keras.
'Ini semua untuk demi bersama Vio. Maafkan aku Vi. 😔' . Haidar memasangkan cincin di jari manis kiri Yumna.
__ADS_1
Kini giliran Yumna yang mengambil cincin yang lain, dia bersiap memasukkan cincin itu ke jari manis Haidar. Menghirup nafas lalu membuangnya. 'Harusnya aku melakukan tukar cincin ini dengan orang yang aku cintai. Kenapa malah dengan dia? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜' batin Yumna, tapi ujung matanya melirik ke arah dimana Aldy berdiri menatapnya. 'Al, andai dia itu kamu..!'
Tepuk tangan riuh terdengar saat keduanya selesai menyematkan cincin di jari masing-masing.
"Senyum Yumna!" bisik Haidar sadar jika Yumna kurang lebar tersenyumnya. Yumna terlihat tidak bersemangat. Haidar sempat melihat bagaimana raut wajah Yumna berubah saat melihat pria itu.
"Gue sudah senyum sedari tadi, sampai bibir terasa kaku!" Yumna balas berbisik.
"Kurang lebar, elo itu lagi tunangan sama gue harusnya tersenyum yang lebar. Bukannya wajah sedih karena kehilangan tas branded diskonan di mall!" ejek Haidar.
"Kamu tuh ya. Nyamain sama kayak gituan, gak lucu!" Yumna melotot, mereka saling bicara pelan dengan bibir yang tersenyum.
"Kita harus tunjukin sama yang lain kalau kita itu pasangan yang bahagia. Atau mereka akan tahu kalau kita cuma pura-pura!" Haidar merangkul pinggang Yumna dan menariknya, hingga tubuh mereka saling menempel.
"Tapi gak gini juga dong. Lepas!" geram Yumna tertahan.
"Gak! Gue gak mau mereka curiga!" tutur Haidar, terpaksa Yumna mengalah. Memang saat ini mereka harus melakukan akting dengan baik untuk meminimalkan kecurigaan. Meskipun risih dengan kedekatan mereka yang tidak biasa Yumna tetap harus profesional.
Satu persatu para mama mendatangi Yumna dan memberikan selamat, memeluk dan memberikan ciuman sayang pada Yumna. Apalagi bunda Nila. Dia menitikkan air mata untuk Yumna.
"Putri bunda!" Nila memeluk Yumna dengan haru, menciumi wajah Yumna dengan sayang. "Gak terasa. Bunda tahu kamu dari lahir dan sekarang kamu sudah mau jadi menantu orang saja. Kalau saja bunda punya anak laki-laki, bunda gak akan rela kamu jadi menantu orang!" Nila memeluk Yumna sekali lagi.
Yumna merasa bahagia karena selain dari kedua orangtuanya dia juga mendapatkan kasih sayang dari para sahabat mama dan papanya dengan tulus. "Bunda, sampai kapanpun Yumna akan jadi putri bunda. Jadi kakaknya Andara dan Andini! Bunda jangan sedih ya!" Yumna ikut terharu.
"Cieee yang udah di pinang!" Syifa dan Ameera tiba-tiba saja datang sambil menggoda kakaknya membuat Yumna melepaskan diri dari pelukan Nila dan meraih tangan sang adik untuk di cubit pipinya.
"Ampun kak. Ampun!" mohon Syifa. Ia yakin pipinya sudah merah sekarang!
"Kamu itu dari kemarin godain terus!" Yumna merasa kesal pada adiknya ini.
"Ya habisnya... harusnya kan bahagia kenapa jadi pada nangis? Bunda Nila juga!" protes Syifa menjauhkan tangan Yumna dari pipinya.
"Bunda kalau Syifa ada yang lamar, bunda Nila juga akan sedih kayak begini gak?" tanya Syifa dengan polosnya.
"Emang kamu sudah ada yang mau?" tanya Nila, nadanya sedikit mengejek.
"Ih bunda Nila mah, Syifa banyak kok yang suka. Tapi karena di duo rusuh itu suka gangguin jadi sampe sekarang Syifa masih sendiri deh!" ucap Syifa menunjuk dengan dagunya ke arah adik kembarnya dengan kesal.
Nila tersenyum, dia cukup mengerti dengan apa yang di lakukan kedua kembar itu. Meskipun Syifa satu tahun di atas mereka tapi pemikiran Syifa masih polos. Malah terlihat seperti dia anak bungsu keluarga Mahendra.
"Tentu dong! Bunda malah gak akan sedih, bunda akan bahagia kalau Syifa sudah menemukan jodoh. Tapi asalkan dia baik dan pengertian, apalagi kalau bisa mengayomi Syifa. Ya, mengerti?" ucap Nila.
Syifa menunduk sambil merengut.'Ah semua orang menganggap aku seperti anak kecil!Padahal kan aku sudah besar!' lelah batin Syifa.
Yumna mendekat dan merangkul bahu adiknya.
"Hei kenapa malah sedih?" tanya Yumna yang melihat raut wajah adiknya berubah.
"Semua orang memperlakukan aku seperti anak kecil!" rungutnya. Yumna tertawa, membuat Syifa semakin kesal. "Ih kakak, sama saja!" Syifa melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal.
"Dengerin kakak. Anak cewek di dalam keluarga, sebesar apapun akan di anggap anak kecil oleh orangtua. Tapi anak laki-laki meskipun dia masih kecil, di anggap selalu dewasa oleh orangtua. Menurut kakak sih!" ujar Yumna menenangkan sang adik. Syifa mengangkat kepalanya memandangi sang kakak.
"Begitu ya?" tanya Syifa, Yumna mengangguk. Syifa tersenyum. Mungkin benar yang di katakan kakaknya. Bisa jadi kan? Melihat perlakuan mama dan papa antara dirinya dan si kembar.
"Ya sudah kak. Selamat ya atas pertunangannya."ucap Syifa dengan senyuman, lalu mendekatkan dirinya pada Yumna, ingin berbisik.
"Kak Haidar ganteng, aku suka. Kalian cocok!" bisik Syifa membuat Yumna memerah wajahnya. Syifa lalu menjauhkan dirinya dan menghampiri Haidar.
__ADS_1
"Kak Haidar selamat ya. Gak sabar ingin segera melihat kakak di pelaminan!" Syifa mengulurkan tangannya pada Haidar. Di sambutnya tangan itu, dengan penuh senyuman.
"Trimakasih, Syifa!" Haidar merasa agak canggung nyatanya dia tidak terlalu banyak tahu tentang anggota keluarga Mahendra. Bahkan Haidar juga baru tahu kalau Yumna mempunyai tiga adik. 'Sungguh gadis yang penuh misteri.' batin Haidar.
Haidar cukup terkesan dengan sifat Yumna, menurutnya dia kakak yang baik, meskipun agak terlihat garang saat menghadapi kedua adik kembarnya, tapi mereka terlihat lucu! Sekilas di hatinya terselip perasaan iri. Disini Yumna mendapatkan curahan kasih sayang dari semua orang, sedankan dia hanya anak tunggal yang kesepian, hanya pengasuh teman pertamanya hingga ia beranjak dewasa. Meskipun di besarkan dengan harta berlimpah, tapi nyatanya tidak bisa menggantikan segala kasih sayang.
Haidar tersadar dan memalingkan pandangannya ke arah lain saat Yumna tak sengaja menatapnya. Yumna mendekati Haidar, membuat pria itu merasa canggung.
"Keluarga besar yang ramai!" ucap Haidar, dengan senyum tipis di bibirnya.
"Iya. Maaf ya mama dan papa tidak bisa kalau tidak mengundang para sahabatnya. Mereka dari dulu begitu. Kalau punya acara semua di undang." lirih Yumna merasa canggung.
"Tidak apa-apa. Malah bagus, ramai kayak di pasar!" Haidar tertawa kecil.
Aldy menatap dari kejauhan Yumna yang tengah tertawa berbicara dengan Haidar, pupus sudah harapan dia. Hatinya terlalu jadi pengecut. Padahal sedari dulu sudah mencoba mempersiapkan hatinya untuk berbicara jujur, tapi dekat dengan Yumna dia merasa seluruh tubuhnya tidak berdaya. Lidahnya mendadak kelu untuk bisa berkata.
Aldy mendekat kepada Yumna dengan langkah yang berat, dia meyakinkan dirinya kalau dunia belum berakhir.
"Yumna!" panggil Aldy, Yumna menghentikan obrolan nya dan mengalihkan pandangan menatap siapa orang yang memanggilnya.
"Aldy." sahut Yumna, dia lebih mendekatkan ke dirinya pada Aldy, seakan ingin memperlihatkan kemesraan pada pria itu.
"Selamat ya, atas pertunangannya. Semoga kalian lancar hingga hari pernikahan tiba." ucap Aldy memberi selamat. Dia mencoba tersenyum meski di dalam hati terasa sakit yang luar biasa.
Hati Yumna terasa tercubit, rasanya sakit, dadanya terasa linu.
"Iya, trimakasih." Hanya itu yang Yumna bisa katakan, suaranya sulit untuk di keluarkan dari kerongkongan.
"Trimakasih, mas Aldy atas doanya." Haidar mengambil alih berbincang dengan Aldy sedikit, dia melihat lagi perubahan di dalam raut muka Yumna. Haidar merasa jika Yumna tidak ingin berlama-lama ada disana.
"Ah ya sayang, bisa antarkan aku ke toilet?" ucap Haidar lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Aldy. Yumna seketika mengangguk.
"Tentu! Aku antar!" ucapnya kikuk, karena baru kali ini juga dia di panggil sayang oleh seorang pria!
"Permisi ya Al. Aku mau antar Haidar dulu." Pamit Yumna, Aldy hanya mengangguk mempersilahkan kedua orang itu untuk pergi.
Yumna berjalan di depan, Haidar mengikuti.
"Ini toiletnya." tunjuk Yumna pada sebuah pintu.
"Aku gak bener-bener mau ke toilet kok!" ucap Haidar membuat Yumna menolehkan kepalanya.
"Tadi bilangnya mau ke toilet!" sedikit protes karena Haidar sudah membuatnya berjalan agak jauh dengan heels tinggi yang membuat kakinya pegal.
"Cuma alasanku aja. Aku cuma ngerasa kamu gak nyaman di dekat dia." ujar Haidar santai, tapi itu membuat Yumna terkejut.
'Apa terlalu kelihatan ya?' batin Yumna.
"Kita bisa ngobrol berdua gak? Di tempat lain yang sepi!" tanya Haidar.
"Mau apa?" Yumna mundur satu langkah. "Jangan macam-macam ya gue gak mau!" sarkas Yumna.
Haidar mendelik pada gadis di depannya.
"Lo kira gue mau mesumin elo? Mau banget ya?" tanya Haidar sedikit kesal. Mode menyebalkan Yumna datang lagi.
"Gue cuma pengen ngobrol buat pastiin sesuatu!" ucap Haidar lagi.
__ADS_1
"Taman belakang aja!" ucap Yumna lalu membalikan badannya untuk pergi ke taman belakang. Haidar kembali mengikuti Yumna.