YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
360


__ADS_3

Haidar membawa Yumna dan membaringkan istrinya di atas kasur, saking kangennya dia dengan Yumna dan anaknya dia sampai tidak peduli jika pintu kamar mereka masih belum tertutup dengan baik.


Ciuman hangat diberikan haidar pada Yumna, pun juga dengan Yumna yang tidak menolak apa yang dilakukan oleh suaminya. Desir darahnya seakan deras mengalir dan membuat tubuhnya panas.


Tangan Haidar mulai nakal, membuka pakaian Yumna diiringi decap suara dari ciuman mereka. Lidah saling membelit, saling bertukar saliva, dan mengabsen apa yang ada di mulut lawan masing-masing. Hingga akhirnya pakaian mereka bertebaran di lantai akibat Haidar yang membuang semuanya. Kedua orang itu kini polos bagai bayi yang baru saja dilahirkan.


Haidar membelai tubuh Yumna dengan sangat lembut, bukan hanya dengan tangannya, tapi juga dengan mulutnya. Dia benar-benar membuat Yumna mengg3linjang penuh kenikmatan.


Yumna duduk di tepi ranjang dengan Haidar yang bersimpuh di hadapannya, laki-laki itu kini sedang membelai perut Yumna yang buncit. Menciuminya dan juga membelainya, merasai kedutan yang ada di sana pertanda jika anak mereka bergerak aktif, mungkin kegirangan karena setelah beberapa saat lamanya ayah mereka akan bertemu dengannya di dalam sana.


Akhirnya, setelah sesi pemanasan selesai sehingga membuat Yumna pasrah, Haidar mulai naik menuju kenikmatan dan menengok anak kembar mereka. Perlahan tapi pasti, dia menyusuri jalan yang sudah licin dan lembab, mencoba mencari celah agar bisa menemui kedua anaknya meski tidak bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Akan tetapi, dengan mata batin yang menimbulkan bercak dan decak kekaguman atas rasa yang ditimbulkan dari jepitan kuat lorong istrinya.


"Ah!" Suara itu tidak bisa dia tahan untuk tidak keluar dari mulutnya. Pun dengan Yumna yang menatap Haidar memejamkan mata. Meski terpejam, tapi laki-laki itu tidak pernah salah jalan, selalu sampai di ujung dan tepat sasaran di setiap waktu penyatuan mereka.

__ADS_1


Perlahan, maju mundur, naik dan turun, membuat Yumna meringis keenakan. Suara-suara indah tidak bisa mereka tahan keluar dari mulut, juga tidak peduli jika ranjang sedari beberapa menit yang lalu mulai mengeluarkan suara deritnya. Bisa jadi sebentar lagi mereka harus menggantinya dengan yang baru karena ranjang tua yang menjadi saksi terbentuknya Yumna sebagai kecebong terdahulu, di saat Bima tak sadarkan diri dan membuat Lily memutuskan untuk pergi dari rumah ini.


"Ah, Yumna. Kamu ... enak," racau Haidar. Wanita hamil memang berbeda!


"Haidar, kencang sedikit. Aku mau ...." Belum juga Yumna selesai berbicara, Haidar menusuknya dengan gerakan sedikit kencang membuat Yumna melenguh manja.


"Astagfirullah!" ucap seseorang sambil menutup mulut dan juga matanya dengan kedua tangan. Apa yang dia lihat membuat dadanya bergemuruh. Tega sekali dua majikannya itu menjadi aktor film dewasa tanpa tahu keadaan. Entah apakah mereka lupa mengunci pintu atau sengaja untuk memanas-manasi dirinya dan Pak Dani. Wanita tersebut segera keluar dari rumah dengan langkah kaki yang cepat.


Basah. Dia merutuki pikirannya yang seketika kotor karena tak sengaja melihat adegan tak senonoh yang membuat melotot tadi, membuat sedikit basah di bawah sana karena kini memikirkan jika dia yang melakukan 'anu' bersama dengan sang suami dengan nikmatnya.


"Aduh, apa aku harus pulang lagi ya?" gumam wanita itu. Dia akan menunggu beberapa saat saja, mungkin satu jam lagi dia akan masuk ke dalam sana untuk melakukan pekerjaannya.


Pak Dani melihat asisten (maaf, Othor lupa nama asistennya🤣. Kita panggil Mbak aja ya😅🤘).

__ADS_1


Pak dani melihat Mbak yang duduk di kursi, tengah melamun. Di tangan Pak Dani membawa cangkir kosong yang belum terisi kopi pagi ini.


"Mbak, lagi apa?" tanya Pak Dani membuat mbak terbangun dari lamunannya.


"Eh, nggak apa-apa," jawab Mbak sambil menggelengkan kepala. Melihat Pak Dani yang akan masuk dengan membawa cangkir membuat Mbak sadar dan bangkit untuk menarik tangan Pak Dani.


"Eh, Pak Dan. Jangan masuk ke dalam sana!" seru Mbak membuat Pak Dani terheran.


"Loh, kenapa?" tanya Pak Dani.


"Em, itu ... sedang ada pertarungan di dalam. Ngeri lihatnya. Bisa-bisa bikin Pak dani pengen pulang kampung nanti," ucap Mbak. Kini Pak Dani mengerti dan menggelengkan kepalanya.


"Ckckck, anak muda zaman sekarang. Penasaran mereka main di mana sampai Mbak keluar dari rumah," gumam Pak Dani kemudian kembali lagi ke posnya.

__ADS_1


__ADS_2