
Ruangan Yumna tidak berubah sama sekali sedari dia memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Seikat bunga mawar putih yang ada di atas meja terlihat sangat segar dan terlihat indah.
Yumna berjalan dengan senyum mengembang di bibirnya. Dia mengambil mawar itu lalu menghirup aromanya. Aroma mawar yang khas dan juga membuat moodnya naik di pagi hari.
Pagi ini Yumna harus bersiap untuk melakukan tugas pertamanya setelah sekian lama ia tinggalkan. Rasanya berdosa juga meninggalkan tanggung jawab yang papa berikan kepadanya, malah dia pergi begitu saja untuk menenangkan diri. Beruntung orangtuanya tidak protes dan juga mendukung apa yang dia lakukan.
Yumna mendudukkan dirinya di kursi miliknya. Ruangan ini terlihat begitu teratur dan juga sangat bersih. Tanda jika dibersihkan dan diurus setiap harinya. Tak peduli ada atau tidak adanya orang yang menghuni ruangan itu.
Apakah di sini aku akan ketemu dia lagi? Yumna membatin. Dirinya merebahkan kepala pada sandaran kursi. Belum ada satupun kerjaan yang ada di mejanya membuat Yumna hanya membatin dan merenung, tenggelam dalam dunianya.
Ah. Untuk apa aku harus ingat dia lagi? Dia juga gak mungkin ingat dengan aku. Bahkan mungkin, dia sedang bahagia dengan yang lain.
Yumna tersenyum miris dengan apa yang terjadi padanya. Mungkin lebih baik dicintai daripada mencintai. Merasakan cinta yang tak terbalaskan sakit rasanya dan dia tidak suka dengan rasa sakit itu.
Pintu ruangan terbuka. Bima masuk ke dalam ruangan dan melihat putri sulungnya itu tengah melamun menatap bunga yang ada di depannya.
__ADS_1
"Papa mengganggu?" tanya Bima yang kemudian berjalan mendekat ke arah Yumna. Yumna mengangkat kepalanya dan tersenyum pada sang papa.
"Tidak, Pa. Papa tidak mengganggu. Ada apa Papa kesini?" tanya Yumna dengan menegakkan tubuhnya.
"Jam sembilan nanti kita akan berangkat. Pelajari apa yang ada di dalam sini. Papa percaya kalau kamu bisa membantu Papa mendapatkan kerjasama ini." Papa Bima menyerahkan berkas kepada Yumna dan diterima anaknya itu dengan tangan terbuka.
"Kamu ...." Bima berhenti bicara, lalu dia hanya tersenyum dengan satu tangan ia masukkan ke dalam saku celana.
"Ya, Pa?" tanya Yumna yang menatap Bima dengan lembut.
Pertemuan pertama sukses. Bima tersenyum senang karena sedari tadi dia hanya berdiam diri, melihat putrinya yang melakukan tugasnya dengan baik. Pertemuan kali ini membuahkan hasil, tidak tanggung-tanggung dengan keuntungan yang akan mereka dapatkan jika semua berjalan dengan lancar.
"Aku senang, Pa. Semua berjalan dengan lancar." Yumna tersenyum ke arah sang ayah yang juga menatapnya dengan bangga.
"Kamu belajar banyak dengan kakek, ya?" Yumna mengangguk dengan malu. Ingat jika dia tidak memberitahu kemana dia pergi waktu itu.
__ADS_1
"Iya, Pa. Kakek banyak memberi ilmu sama aku," jawab Yumna dengan tersenyum senang.
"Tapi, Pa. Papa bisa tahu aku sama kakek, apa kakek bicara sama Papa?" tanya Yumna. Bima tersenyum, dia hanya mengedikkan bahunya dengan senyum yang terlihat menyebalkan untuk Yumna.
"Apa yang Papa gak bisa? Bahkan kalau kamu semut kecil di dalam lobang, Papa pasti akan bisa menemukan kamu." Bima menggeser piring steak miliknya yang sudah selesai dia potong untuk Yumna makan. Sedangkan Bima sendiri mengambil piring Yumna yang masih utuh untuk dia makan sendiri.
"Kamu sudah merasa baikkan, kan?" tanya Bima pada putrinya. Yumna menganggukkan kepalanya. Dia tahu pasti maksud dan arah tujuan pembicaraan Bima ini.
Yumna makan dengan tenang. Dia yakin jika Bima berbicara atau bertanya dia akan bisa menjawabnya. Harus.
"Papa ingin mencarikan jodoh yang baik buat kamu."
Ucapan Bima membuat Yumna menghentikan kunyahannya. Hampir saja ia tersedak makanannya sendiri
Jodoh?
__ADS_1