
"Maaf. Maaf, Pak. Saya gak sengaja," ucap Yumna yang menyadari jika yang dia tabrak adalah atasannya, Randy. Yumna melihat kemeja putih yang dikenakan bosnya itu juga kotor terkena noda kopi pada bagian lengannya.
"Saya gak sengaja, Pak. Mohon maafkan saya," ucap Yumna lagi sambil menunduk dengan rasa bersalah.
Randy membersihkan noda kopi dengan sapu tangan, lumayan panas yang dia rasakan meski sempat terhalang oleh pakaiannya.
"Nggak apa-apa. Saya gak apa-apa, kok," ujar Randy. Yumna sungguh sangat terkejut dan juga tidak menyangka jika atasannya ini ada di luar ruangan pantry. Untung saja cangkir yang dia bawa tidak sampai terjatuh, hanya saja rasa panas kini mendominasi tangannya yang tadi terkena air panas. Tangan Yumna kini bergetar menahan sakit dan perih, sedikit berubah merah di sana.
Randy tak sengaja melihat tangan Yumna yang kotor karena air kopi. "Kamu gak apa-apa? Tangan kamu merah," tanya Randy. Yumna dengan cepat menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.
"Gak apa-apa, Pak. Cuma sedikit aja. Maaf, baju Bapak jadi kotor karena saya," ucap Yumna. Randy tidak lantas percaya begitu saja dengan apa yang Yumna katakan, kulit Yumna yang putih kini tampak berwarna merah.
"Eh, Pak!" Yumna terkejut saat sang atasan menarik pergelangan tangannya kembali masuk ke dalam ruangan pantry dan menyuruhnya duduk. Randy mengambil cangkir yang ada di tangan Yumna dan menyimpannya di atas meja.
"Duduk, biar saya bersihkan tangan kamu," ucap Randy.
Yumna terkesiap mendengar ucapan bosnya itu. "Eh, gak apa-apa. Ini cuma ...."
"Kamu mau bilang itu cuma luka kecil? Duduk!" ucap Randy lagi dengan nada yang tegas sehingga membuat Yumna mau tidak mau duduk di hadapan Randy. Laki-laki itu berjalan menuju tempat dimana kotak P3k berada dan segera kembali kepada Yumna setelah membasahi sapu tangan miliknya.
"Ulurkan tangan kamu," ucap Randy meminta sambil menadahkan tangannya.
"Eh, anu ... Pak. Nggak usah, saya bisa membersihkannya sendiri," ucap Yumna, paham dengan situasi dan apa yang akan dilakukan oleh atasannya ini dengan sapu tangannya.
"Sudah, diam. Saya juga yang salah karena tadi saya main hp sampai tidak lihat kamu," ucap Randy lagi lalu menarik tangan Yumna dengan paksa. Sapu tangan yang basah itu kini membersihkan tangan Yumna, membuat wanita itu tidak nyaman berada di depan atasannya.
"Anu, Pak. Biar saya saja yang bersihkan. Gak enak kalau kelihatan orang lain," ucap Yumna merebut sapu tangan dari bosnya. Randy terdiam, bagaimana pun juga Yumna adalah sosok wanita yang bersuami. Melihat Yumna membersihkan tangannya sendiri membuat Randy juga merasa bersalah.
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya gak tau kalau kamu mau keluar dari sana," ucap Randy lagi.
__ADS_1
Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Bapak sedang apa di sini?" tanya Yumna tanpa menatap sang atasan. Randy yang sedang membukakan tutup salep luka bakar untuk Yumna menoleh mendengar pertanyaan karyawannya itu.
"Umm ... tadi saya dengar dari Rahma kalau kamu ada di pantry, tadinya saya mau minta tolong sekalian buat bikinkan kopi juga," ujar laki-laki tersebut dengan sedikit senyuman di bibirnya. Senyum yang jarang sekali Yumna lihat.
"Oh, mau juga? Saya akan buatkan," ucap Yumna lalu berdiri. Akan tetapi, Randy tiba-tiba saja menahan tangan Yumna dengan cepat.
Sadar dengan tatapan Yumna yang terpaku dengan apa yang dia lakukan, membuat Randy dengan segera menarik tangannya itu. "Maaf, bukan maksud lancang. Tapi, tangan kamu obati dulu, nanti iritasi," ucap Randy dengan malu sambil memberikan salep yang sudah terbuka tutupnya.
"Terima kasih, Pak," ucap Yumna, lalu menerima salep yang disodorkan oleh atasannya itu. Segera Yumna mengoleskan salep pada tangannya yang beruam merah.
"Apa sakit?" tanya Randy lagi. Yumna menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bapak suka kopi apa? Saya buatkan," tanya Yumna. Randy segera bangkit dari duduknya.
"Tidak jadi. Saya buat sendiri saja," ucap laki-laki itu dengan cepat membuat Yumna menatapnya bingung, padahal tadi dia bilang ingin minta dibuatkan juga.
"Sudah, tangan kamu lagi sakit. Saya bisa buat sendiri," ucap Randy, lalu dia berjalan menuju meja pantry dan mengambil cangkir serta kopi untuknya.
"Itu punya kamu?" tunjuk Randy pada cangkir setengah kosong yang tadi dia simpan di atas meja.
"Iya, Pak."
"Biar saya buatkan lagi." Laki-laki itu mengambil cangkir milik Yumna. Yumna merasa tidak enak hati, bagaimana pun juga tadi itu adalah kesalahannya juga karena dia berjalan sambil menunduk.
"Pak, nggak usah. Saya buat sendiri saja."
Randy tidak mendengarkan. Cangkir setengah penuh itu dia cuci di wastafel, mengeringkannya dengan lap bersih, lalu berjalan ke dekat dispenser untuk menuangkan kembali kopi. Yumna hanya terdiam melihat bosnya yang kini tengah menyeduh kopi di gelas miliknya.
"Saya antarkan ke ruangan," ucap laki-laki itu setelah selesai membuat dua cangkir kopi yang dia buat. Tanpa menunggu jawaban dari Yumna dia mengambil nampan dan menyimpan semua yang Yumna bawa tadi di atasnya dan kemudian pergi. Yumna yang tidak menyangka akan apa yang dilakukan oleh sang atasan kini hanya mengikutinya di belakang setelah menyimpan kembali kotak P3k di tempatnya.
__ADS_1
Sampai di ruangan, Rahma menatap tak percaya dengan siapa yang datang, begitu juga dengan Mira yang kini hanya diam melongo melihat laki-laki kharismatik itu datang dan mendekat ke arahnya.
"Meja kamu di sini, kan?" tanya Randy, Yumna menganggukkan kepalanya, segera Randy menyimpan nampan tersebut di atas meja Yumna.
"Ini minuman punya kalian juga? Ambil," ucap Randy saat yang lain hanya melongo dengan mata yang menatapnya dan mulut setengah terbuka. Rahma dan Mira tersentak, tersadar dan beranjak untuk mengambil minuman masing-masing.
"Terima kasih, Pak," ucap Rahma dan Mira hampir bersamaan. Randy hanya mengangguk singkat.
"Ini punya kamu. Saya akan kembali ke ruangan. Kerja dengan baik," ucapnya sambil menatap Mira yang lagi-lagi terpesona dan tidak berhenti menatapnya.
"Iya, makasih sudah bapak bantu bawakan minuman kami," ucap Yumna. Randy segera mengambil minumannya dan pergi dari sana. Ketiga orang yang ada di ruangan itu menatap kepergian Randy hingga punggungnya tidak terlihat lagi oleh mereka.
Rahma dan Mira dengan cepat mendekat ke arah Yumna yang kini mulai kembali dengan pekerjaannya.
"Gak salah?" tanya Mira.
"Itu ... Pak bos yang bawakan nampan?" tanya Rahma menatap tidak percaya pada Yumna.
Yumna segera menggerakkan tangannya dengan cepat. "Eh, itu salah paham. Bukan seperti yang kalian pikirkan," ucap Yumna dengan cepat. Rahma dan Mira menatap Yumna tidak percaya. Pasalnya, yang mereka tahu, bos yang satu ini sangat tertutup dan juga tidak pernah tampak terlihat dengan karyawan yang lain, hanya sering bersama dengan sekretarisnya sehingga banyak karyawan yang menyangka jika pak bos memliki hubungan yang spesial dengan sekretarisnya.
"Terus? Kok bisa pak bos yang ganteng dan dingin jadi banyak bicara?" tanya Mira menyelidiki. Yumna sekali lagi menggelengkan kepalanya.
"Mungkin karena tadi aku gak sengaja tabrak dia pas keluar dari pantry. Aku juga kena air panas. Jadi dia kasihan kali makanya bantu bawakan minuman kita."
Rahma dan Mira tetap tidak percaya, bisa saja Yumna beralasan. Meski sudah bersuami, tapi tidak menutup kemungkinan lain. Mereka curiga karena pak bos yang mereka kenal tiba-tiba saja tampak lebih ramah.
"Ish, kalian ini. Tangan aku bener kena air panas nih, makanya pak bos bantuin tadi," ucap Yumna sambil mengangkat tangan kanannya yang memerah. Dia tidak mau kedua orang itu memiliki pemikiran buruk tentang dirinya dengan pak bos. Setelah melihat perbedaan warna pada tangan Yumna barulah kedua orang itu percaya dengan apa yang Yumna katakan.
Mira dan Rahma kembali ke tempatnya semula. Apa yang baru saja terjadi membuat pikiran Mira terganggu. Dia mendekatkan dirinya pada Yumna dan berbisik, "Jangan-jangan pak bos suka lagi sama kamu," ucap Mira yang membuat Yumna terdiam.
__ADS_1