
"Nggak, ayo kita ke rumah sakit saja," elak Yumna saat Haidar mengajaknya untuk pulang. Sesekali memang Yumna harus menuruti apa kata suami agar Haidar tidak banyak menuntut lagi di kemudian hari.
Haidar melirik Yumna, wanita itu kini duduk dengan menyandarkan dirinya pada kursi dan menatap ke arah luar. Ingin sekali dirinya berbicara, tapi melihat diam nya Yumna membuat Haidar urung berkata apa-apa.
Di dalam hati Yumna ada sedikit rasa kecewa, juga bertanya ada apa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosinya. Jika pun dia benar hamil tidak masalah, tapi jika tidak?
Rumah sakit.
Haidar dan Yumna berjalan menuju ke sebuah ruangan, mereka berjalan tanpa berbicara sama sekali. Sesekali Haidar melirik ke arah sang istri, tatapannya lurus ke depan dan seakan tidak peduli akan keberadaan dirinya di sampingnya.
'Apa Yumna marah, ya?' batin Haidar di dalam hati.
Sampai di ruangan dokter, beruntung tidak banyak antrian sehingga Yumna hanya harus menunggu dua ibu hamil yang tengah menunggu juga.
Tangannya mengelus perutnya yang rata, melirik iri pada dua ibu muda yang tengah mengandung beberapa bulan.
'Apa mungkin aku juga bisa hamil seperti mereka?' batin Yumna. Dokter mengatakan tidak ada yang salah dengan mereka berdua, tapi waktunya saja yang belum tepat untuk mereka memiliki anak.
"Kamu pasti akan punya suatu hari nanti," ucap Haidar mengambil tangan Yumna ke pangkuannya. Yumna hanya menundukkan kepala.
"Tapi kapan? Kita sudah rajin bikinnya, ikutin juga anjuran dokter, minum obat dari dokter juga, tapi aku ...." Yumna memutuskan untuk menghentikan ucapannya.
"Sabar. Yang terpenting kita sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Hasilnya adalah bonus untuk kita. Bukannya kita juga sangat menikmati permainan kita selama ini," ujar Haidar sambil berbisik pelan dan terkekeh. Yumna menjadi malu mendengar ucapan suaminya dan mencubit pinggang laki-laki itu. Haidar meringis kesakitan akibat apa yang Yumna lakukan.
"Aw, sakit!" rintihnya sambil mengusap pinggangnya.
"Kamu kalau ngomong tuh di saring, ingat ini ada di mana," ucap Yumna melirik ke arah yang lainnya, untung saja tidak ada yang mendengar. Mereka sibuk dengan buku berwarna pink dan hp yang ada di tangan.
Haidar hanya terkekeh pelan, dia bersandar di bahu Yumna dan ikut mengelus perut Yumna dengan lembut.
"Suatu saat akan ada nyawa di sini. Kamu harus yakin Yumna," ucap Haidar memberi semangat. Yumna mengangguk pelan dan tersenyum, mengusap pipi Haidar dan mencium rambut suaminya itu. Wangi aroma sampo menguar dari rambut Haidar, membuat Yumna menjadi tenang.
"Sampo kamu wangi," ucap Yumna lirih.
__ADS_1
Dua wanita yang tadi telah bergantian masuk ke dalam ruangan dokter, tinggal lah Yumna dan beberapa orang yang baru saja datang dan akan melakukan pemeriksaan. Akhirnya seorang perawat keluar dari dalam ruangan itu dan memanggil nama Yumna, segera dia dan suaminya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mbak Yumna, senang bisa bertemu lagi dengan Mbak dan suami," ucap dokter wanita itu sambil mengulurkan tangannya. "Bagaimana kondisi selama ini? Tidak ada keluhan kan?" tanya dokter tersebut.
"Tidak ada, Dokter. Semua berjalan dengan baik," jawab Yumna.
"Apa semua yang saya sampaikan kalian laksanakan?" tanya dokter itu menatap keduanya.
"Tentu, Dokter. Semua yang dikatakan Dokter saya dan istri laksanakan dengan baik." Kali ini Haidar yang menjawab.
"Terus? Ada hal apa kalian kemari? Bukannya ini belum jadwalnya kontrol lagi?" Dokter tersebut mengerutkan keningnya, menatap kedua orang itu bergantian.
Haidar menjadi bingung akan menjawab apa. Apakah dia harus mengatakan soal sifat Yumna yang menangis tadi?
"Em, kami datang ke sini untuk pemeriksaan saja. Bisa Dokter periksa saya? Saya mau di USG," ucap Yumna. Dokter merasa bingung dengan permintaan wanita muda itu.
"USG? Apa Mbak Yumna ada keluhan?" tanya dokter khawatir.
"Dok, kalau saya telat haid, apa mungkin saya sedang hamil?" tanya Yumna akhirnya. Dia baru ingat saat melihat kalender yang ada di meja dokter tersebut. Ini sudah pertengahan bulan, sedangkan seharusnya dia mendapatkan tamu bulanannya awal bulan yang lalu. Seringkali tidak sesuai dengan keinginannya sehingga membuat Yumna mengabaikan hal itu dan memilih untuk tidak memikirkan soal anak lagi.
"Telat? Sudah berapa minggu?" tanya dokter. Haidar terkejut ketika mendengar Yumna mengatakan hal itu. Sekarang dia yakin jika perubahan sikap istrinya adalah hal yang biasa untuk seorang ibu hamil. Semoga saja.
"Saya rasa harusnya awal bulan," jawab Yumna. Dia berbicara tanpa menatap dokter dan lebih terfokus pada tanggal di atas meja.
Dokter tersenyum tipis. Meski iya dia tahu apa artinya itu tetap saja prosedur harus dilakukan.
"Kita periksa dulu ya." Dokter mulai mengeluarkan alat dan mengukur tekanan darah Yumna.
"Naik ke tempat tidur," ucap sang dokter. Yumna menurut dan beralih ke ranjang kecil yang ada di sana, begitu juga dengan Haidar yang mengikuti sang istri.
Tekanan kecil dokter berikan di perut bagian bawah, memeriksa apa yang seharusnya diperiksa. Haidar dan Yumna menunggu dokter berbicara dengan dada yang berdebar.
"Mau USG?" tanya dokter lagi. Yumna menganggukkan kepalanya, kemudian dokter mengambil gel dan meminta Yumna untuk membuka pakaiannya sedikit. Dingin dan basah Yumna rasakan saat dokter mengoleskan gel tersebut ke permukaan kulitnya.
__ADS_1
"Permisi ya." Dokter kemudian memeriksa, menggerakkan sebuah alat di atas perut Yumna. Haidar dan Yumna menahan napas saat dokter tidak juga berbicara, pandangan dokter itu menatap layar hitam yang ada di samping brankar.
"Dokter, gimana?" tanya Haidar tidak sabaran. Yumna pun sama tidak sabar, tapi dokter belum juga berbicara apa pun.
"Sebentar, ya." Dokter menekan alat tersebut sedikit dalam di perut Yumna. Sedikit linu, tapi Yumna tahan saja.
"Apa ada keluhan selama ini? Mual, muntah, nggak selera makan, atau mood yang nggak baik?" tanya dokter seraya menggerakkan tangannya di sana.
Yumna menggelengkan kepalanya. "Nggak ada mual muntah, saya juga makan biasa aja," jawabnya.
"Tapi memang mood Yumna kurang baik, Dokter," timpal Haidar.
Dokter tersenyum lagi, saat menemukan sesuatu di layar hitam tersebut. "Ada kabar baik. Dua," ucap dokter sambil mengangkat dua jarinya.
"Du-dua? Maksudnya ... Yumna benar hamil?" tanya Haidar tidak percaya. Dokter kini menatap Yumna dan Haidar bergantian.
"Iya, alhamdulillah. Akhirnya apa yang kalian tunggu datang juga," ucap dokter tersebut.
Yumna terdiam menatap layar hitam yang terdapat dua titik berwarna putih samar, sedangkan Haidar melompat kegirangan mendengar kabar baik tersebut.
"Yumna. Kita akan punya dua," ucap Haidar senang masih melompat, lalu memeluk Yumna yang masih berbaring di atas brankar. Wajah ayu itu dia cium berkali-kali.
Dokter menyingkir dan memberikan ruang lebih untuk dua orang itu bersuka cita.
"Sayang, kita akan punya dua," ucap Haidar senang. Akan tetapi, Yumna masih hanya diam dan menatap layar hitam itu tak percaya.
"Dua," lirihnya dengan nada pelan, air mata keluar mengalir dari mata indahnya.
****
Iyeeeeeyyyy💃, syukuran yok!
Othor lupa atur waktu ternyata 😅, bab yang sebelumnya enggak diatur jamnya, nggak jadi crazy up atuh ieu mah 🤦🏻♀️. Malah langsung up, jadi we yang nongol cuma 1 bab. Hehe 😅
__ADS_1