
"Ini Haidar ... Bang Haidar bukan, sih?" tanya Syifa. Yumna tersentak bangun dan segera merebut hp miliknya.
"Eh ini ... ini hanya nama yang sama," ujar Yumna. Syifa terdiam, menatap bingung sang kakak yang terlihat salah tingkah. Yumna menjauhkan hpnya dan segera duduk. Menutupi hp yang menyala dari pandangan sang adik.
Sebuah pesan dari Haidar membuatnya tersenyum senang. Haidar mengabarkan jika dirinya baru saja sampai di rumah.
“Kak, dari siapa, sih? Bang Haidar ya? mantan kakak ipar Syifa bukan?” tanya Syifa penasaran. Kini dia duduk dari tidurnya dan menatap sang kakak yang memunggunginya. Yumna masih saja asyik membalas pesan dari Haidar.
Syifa merasa kesal karena pertanyaannya tak digubris oleh Yumna. Dia menarik pundak kakaknya dengan sedikit menggunakan tenaga hingga Yumna kini berbalik arah karena ulahnya.
“Ih, Kakak. Aku tanya gak dijawab lagi!” ke Syifa.
Yumna menolehkan kepalanya. “Eh, tanya apa?”
Syifa mendengkus kesal mendengar ucapan kakaknya itu.
“Apa?” tanya Yumna sekali lagi.
“AKu tanya. Bang Haidar kakak ipar Sifa bukan?” tanya Syifa sekali lagi.
“Bu-bukan,” jawab Yumna terbata. “Bukan, kok. Bukan,” jawabnya lagi. Dadanya sudah berdebar takut jika Syifa tahu bahwa yang menghubunginya adalah benar mantan suaminya. Syifa terkadang tidak bisa menyimpan rahasia.
Yumna mencoba untuk membalikkan badannya, tapi Syifa dengan sifat ingin tahunya mencoba untuk meraih kembali hp milik Yumna. “Coba aku lihat!” seru Syifa. Tangannya mencoba meraih benda pipih yang ada di tangan sang kakak.
__ADS_1
Yumna segera menjauhkan hp miliknya dari sang adik yang tukang kepo. Bisa-bisa seluruh rumah tahu jika dirinya dekat kembali dengan Haidar.
“Lihat, Kak!” seru Syifa.
“Enggak. Bukan, Syifa!” Keduanya saling berebut dan mempertahankan miliknya. Mereka persis seperti anak TK yang sedang berebut mainan atau makanan.
“Kakak, cuma lihat saja sebentar! Kalau bukan dari Bang Haidar kenapa juga Kakak sembunyikan dari aku?” Syifa tak mau kalah hingga Yumna harus menahan kepala sang adik dengan satu tangan yang lain. Syifa terus saja menggapaikan tangannya ingin melihat nama itu dengan jelas, dan apa isi pesan yang dikirimkan seseorang. Mencurigakan! Sangat mencurigakan!
“Aku cuma ingin intip sedikit saja!” seru Syifa dengan gigih.
“Enggak! Kamu tau gak sih kalau pesan adalah hal yang pribadi? Jangan suka kepo!” seru Yumna pula. Dia tak ingin sang adik mengejeknya. Segera Yumna memasukkan hp itu ke dalam bajunya.
Syifa yang melihat itu tak bisa berbuat banyak. Jika di saku baju dia bisa mengambilnya, tapi di dalam baju … ya ampun!
“Dasar Kakak pelit!” Cerca Syifa. Dia menepis tangan Yumna dari wajahnya. Yumna tersenyum puas melihat sang adik yang terlihat kesal.
“Kakak!” Panggil Syifa. Tangannya mengguncang lengan Yumna hingga tubuh kakaknya itu bergoyang.
“Hem?”
“Pinjam hp ih! Mau nonton drakor!”
“Enggak! lagian ini sudah malam, cepat tidur, Syifa! Besok kamu harus kuliah, kan?” ucap Yumna dengan jelas. Yumna tak ingin lagi berbicara yang akan membuat Syifa lebih gigih lagi meminta hpnya, dia memilih mengambil selimut dan menutupi tubuhnya hingga ke kepala.
__ADS_1
“Kak!” rengek Syifa.
“Tidur, Syifa!” ucap Yumna dari dalam selimut.
Syifa kesal sekarang ini. Sudah beberapa malam dirinya tidak memegang hp dan tidak bisa menonton drakor kesukaannya. Menyesal juga, harusnya tadi dia tidak perlu mengatakan ada pesan segala. Kan jadinya dia bisa menonton artis favoritnya.
Terpaksa Syifa juga mengikuti kakaknya menarik selimut hingga ke dada dan tidur saling memunggungi sebagai protesnya.
Di dalam selimut, Yumna membalas pesan yang Haidar kirimkan tadi. Bibirnya tersungging senyuman kala mengetik satu persatu huruf yang ada di hpnya.
Entah berapa lama dia mengirimkan pesan, Yumna menoleh ke arah belakang saat Syifa berbalik dan memeluknya dari belakang. Adiknya itu sudah tertidur dengan lelap hingga suara dengkuran halusnya terdengar dengan sangat jelas.
Untung saja Syifa tidak keras kepala. Bisa gawat kalau anak itu tahu, gumam Yumna.
Yumna kembali berkirim pesan dengan Haidar.
Haidar tersenyum senang tatkala Yumna menjawab pesan darinya. Dia terus saja membalas pesan Yumna hingga tak terasa jam semakin bergulir menunjukkan waktu tengah malam.
[Sudah malam. Tidur, gih!] Titah Haidar pada Yumna. Haidar merasa tak rela, tapi dia sadar jika Yumna butuh istirahat.
Di kamarnya, Yumna merasa tak ingin menghentikan berkirim pesan, tapi memang jam yang ada di hpnya sudah menunjukkan hampir tengah malam.
[Iya, aku akan tidur. Selamat malam.] Akhirnya Yumna menghadiri pesannya.
__ADS_1
[Selamat tidur, Calon Istriku!]
Yumna tersenyum melihat pesan terakhir dari Haidar, lengkap dengan emoji hati dari Haidar.