
"Kak Yumna!"
Yumna sedang duduk dengan Syifa yang bergelayut manja di lengannya, mereka semua menoleh ke arah asal suara. Dia orang pemuda berparas sama mendekat ke arah mereka.
Yumna berdiri dan menyambut uluran tangan adiknya yang akan mencium tangan, tanpa Arkhan duga, kakaknya itu menarik tangannya dan memeluknya erat.
"Kak Yumna, lepas!" Arkhan berontak di dalam pelukan kakaknya. Dia mencebik kesal.
Masa jagoan di peluk!
(Ih ampun! Masih ingat dengan Arkhan waktu masih kecil?)
Dia memang tidak suka di peluk. Baginya berpelukan itu seperti hal yang lebay, hilang sudah rasa kelelakiannya! Apalagi kakaknya ini suka mengusap dan mengacak rambutnya seperti anak kecil!
"Kak Yumna lepasin, ih. Ngapain juga peluk-pelukan. Lebay tau gak sih!" ucap Arkhan.
"Memang kamu gak kangen gitu Dek sama Kakak?" tanya Yumna, semakin mempererat pelukannya. Biar sampai dia kesal, karena Yumna suka mengganggu adiknya yang satu ini.
Azkhan dan Syifa berdiri lalu memeluk mereka berdua, dan jadilah mereka seperti Teletubbies, membuat Arkhan semakin kesal!
Azkhan dan Syifa bertos ria di belakang punggung Arkhan. Syifa tersenyum senang. Jarang sekali dia bisa melihat wajah Arkhan yang seperti itu. Hehe. Ada kak Yumna mana dia berani! Dia akan bisa bebas membuat adiknya itu kalah dan kesal nantinya!
Lily tertawa melihat wajah anak lelakinya yang kini merah, dia pasti malu dan marah! Dari dulu memang tidak pernah berubah, dan paling tidak mau di peluk berbeda dengan adiknya. Padahal mereka kembar, tapi kembar juga tidak mesti sama!
"Syifa! Ingat kue kamu, Nak!" Lily memperingatkan. Syifa seketika menarik dirinya dan menepuk jidatnya.
"Lupa!" teriak Syifa lalu berlari dengan cepat ke arah dapur.
Dengan larinya Syifa, Arkhan menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan pelukan kedua saudaranya yang lain. Wajahnya terlihat kesal. Dia mendelik sebal pada adiknya dan juga kakaknya.
Yumna hanya tertawa dan mencoba kembali menarik Arkhan, tapi anak itu kemudian betkelit menjauh.
__ADS_1
Lily meninggalkan semua orang dan memilih pergi ke dapur. Ini waktunya makan malam, lebih baik dia menyiapkan makan malam untuk semuanya.
Semua orang makan dengan riangnya. Setelah Yumna menikah tentu saja anggota keluarga mereka berkurang, tapi kini formasi mereka sudah lengkap kembali.
Mereka makan keluar dari aturan, kali ini sambil berbincang ringan. Tak ada yang menyinggung perihal kepulangan Yumna kali ini. Arkhan dan Azkhan meskipun mereka lebih kecil tapi mereka sudah mengerti. Dan Syifa, mama Lily tadi sempat berbisik saat di dapur untuk tidak membicarakan soal Haidar. Meskipun Syifa masih tidak begitu mengerti tapi dia hanya mengiyakan saja.
Ada apa sebenarnya! Syifa ingin bertanya banyak, namun urung di lakukan. Semua punya privasi, dan dia tidak boleh mengganggu jika yang lain tidak ingin bercerita.
Rasanya menyenangkan kembali berkumpul dengan semua orang. Jika biasanya Yumna hanya makan berdua atau bertiga, dengan Haidar dan Mami, jarang sekali dia bisa makan malam bersama papi Arya.
Yumna terdiam, tiba-tiba saja teringat dengan keluarga yang disana. Meskipun tidak seramai disini tapi mereka juga sama hangatnya.
Akh. Mami bagaimana keadaannya ya? batinnya. Lily yang sadar dengan pandangan kosong putrinya mengambilkan telur balado untuk Yumna.
"Makan yang banyak, Nak. Mama sudah masak yang banyak, sayang kalau tidak habis!" Lily mencoba untuk biasa saja, meski dalam hatinya dia merasa sedih.
"Trimakasih, Ma!" ucap Yumna, dia mencoba untuk masuk ke dalam dunia nyata kembali. Sekarang dia disini. Stop untuk memikirkan yang disana!
Makan malam selesai, mereka memutuskan untuk menonton tv seraya berbincang ringan. Mencoba kue yang Syifa buat tadi, beberapa gelas teh hangat berjajar di atas meja, dan juga satu gelas kopi hitam milik papa Bima.
"Hei, Syifa! Jangan kebanyakan makan kue nanti gendut loh! Ingat itu pipi makin gede!" Arkhan mengingatkan dengan nada penuh ejekan.
"Biarin aja! Memang kenapa kalau aku gendutan, wleekkk!" Syifa menjulurkan lidahnya. Dia tidak peduli dengan omongan adiknya. Memilih kembali menikmati kue buatannya.
"Kalau elo gendut gak ada yang naksir!" Arkhan tertawa sambil melempar Syifa dengan kacang atom di tangannya.
Syifa menghalangi wajahnya dengan tangan saat lagi-lagi adiknya itu melemparinya.
"Arkhan rese!! Kak Yumna!!" teriak Syifa manja meminta perlindungan dan pembelaan. Dia tetap menghalangi wajahnya dari serangan Arkhan. Arkhan tertawa geli melihat wajah kakaknya yang kesal, dia tak peduli.
"Arkhan. Jangan buang-buang makanan. Nanti kamu sapu loh tempatnya!" Yumna melotot pada adiknya itu. Arkhan melengos sebal.
__ADS_1
Ada kak Yumna. Gak bisa bebas jahilin Syifa deh! batin Arkhan.
...***...
Lily dan Bima baru saja kembali ke kamar setelah selesai dengan acara berkumpulnya mereka dengan anak-anak. Yumna dan Syifa sudah naik ke atas, sedangkan si kembar memilih melanjutkan acara menonton mereka.
Lily menoleh ke arah hpnya yang berbunyi. Di lihatnya layar Hpnya itu, panggilan dari Mitha.
"Iya mbak?" Lily segera mengangkat hpnya.
'Lily. Apa Yumna ada disana?' suara Mitha terdengar bergetardi kejauhan sana.
Lily menghela nafasnya.
"Iya, Mbak. Yumna ada disini." Lily yakin sekali dengan apa yang ada di dalam fikirannya. Pasti terjadi apa-apa dengan anak itu.
'Maafin, Mbak Ly. Maaf karena gak bisa didik Haidar dengan baik sampai Yumna ingin pulang.'
"Tidak apa-apa, Mbak. Rumah tangga pasti ada saja masalahnya. Kita hanya harus menasehati anak-anak kita."
'Apa Yumna cerita kenapa dia pulang?' Tanya Mitha.
"Belum. Malam ini dia baru saja pulang, Yumna selalu berpura-pura kuat, tapi aku tahu moodnya sedang buruk. Besok akan aku tanyakan." ucap Lily.
'Bisa besok kita ketemu?"
"Oke." Jawab Lily.
Telfon ditutup. Bima mendekat pada istrinya.
"Siapa, sayang?" Meraih Lily ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mbak Mitha, Mas." Hanya itu jawaban Lily. Dia mengeratkan pelukannya pada suaminya.
Bima tahu Lily sedang sedih. Dia tidak bertanya lagi. Hanya pelukan dan juga ciuman di kepala Lily yang membuat istrinya tenang.