YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
75. Hampir Terjadi


__ADS_3

"Nyebelin banget, sih! Ngapain juga mami pindahin sofa. Terus aku tidur dimana?" gumam Haidar bertepatan dengan Yumna menutup pintu kamar.


Yumna berjalan mendekat. Dia menyimpan tasnya di atas ranjang. Melihat Haidar yang hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar, terlihat bingung.


Haidar menoleh pada Yumna, tatapannya seperti meminta pendapat.


Yumna menghela nafas panjang, dia tahu arti tatapan Haidar padanya.


"Ya sudahlah. Untuk sementara kita berbagi kasur!" ucap Yumna melewati Haidar dan masuk ke dalam kamar mandi.


Seulas senyum tersungging di bibir Haidar.


...***...


"Inget, ini batasnya. Jangan sampai kelewatan. Kalau elo berani melewati satu senti aja, elo gue tampar lagi!" Yumna menempatkan bantal guling di tengah-tengah di antara mereka.


"Iya. Bawel! Tapi kan gue gak bisa janji kalau sampai pagi hari ni bantal guling masih disini!" ucapan Haidar membuat Yumna melotot.


"Ah, itu mah elo aja yang modus!" ucapnya lalu berbalik memunggungi Haidar. Keduanya tidur di sisi ranjang menyisakan space yang lumayan luas di tengah.


Dua jam berlalu, Yumna masih tidak bisa tidur, dadanya berdetak dengan cepat. Meski ini bukan kali pertama dia dan Haidar tidur satu ranjang, tapi tetap saja rasanya aneh. Bukan takut, hanya saja...


'Ahh kenapa aku jadi berfikiran seperti itu?'


Yumna menepis pemikiran konyolnya. Mana mungkin Haidar dengan sengaja menyingkirkan bantal guling dan lalu memeluknya dari belakang. Oh, fikirannya terlalu lancang, bahkan dia memikirkan lebih. Wajar jika dia berfikiran seperti itu, Yumna adalah wanita dewasa yang normal!


Haidar memutar kepalanya, merasakan pergerakan Yumna.


"Belum tidur?" tanya Haidar.


Yumna juga menoleh. Dia kira Haidar sudah terlelap sedari tadi.


"Belum!"


"Kenapa? Takut gue macem-macemin?!" Haidar memutar tubuhnya, dia tertawa melihat ekspresi Yumna yang garang.

__ADS_1


"Awas aja kalau elo berani!" Yumna beringsut duduk, memeluk selimut di depan dadanya.


Wajahnya memerah.


Bukan. Sepertinya bukan itu yang Yumna takutkan, tapi Yumna takut kejadian setelah itu. Bagaimana nasib pernikahan mereka jika Haidar saja masih sangat mencintai Viola. Bisakah Haidar melepaskan Vio untuk seutuhnya bertanggung jawab padanya?


"Hahaha... Gue gak akan macem-macem kok!" tawa Haidar renyah.


"Gue mau tanya, tapi elo jawab jujur ya."


"Apa?" tanya Yumna.


"Sebenarnya elo udah punya calon?" tanya Haidar.


Yumna kembali membaringkan dirinya, mereka tidur saling berhadapan.


"Kenapa tanya itu?"


"Elo minta cerai sama gue. Apa elo punya calon?"


Haidar dan Yumna terdiam. Yumna menunduk sendu, Haidar menangkap sesuatu di mata Yumna, terlihat gadis itu tengah memendam kesedihan.


"Elo tahu gak, sebelum kita berangkat ke Lombok kemarin? Mami bilang ingin segera punya cucu, gue ngerasa berat. Gue ngerasa berdosa karena udah bohongin semua orang. Gimana kalau pada akhirnya semua tahu tentang pernikahan pura-pura ini? Bukankah semua akan sedih? Mama, papa, mami, dan papi. Sebelum semuanya terjadi gue ingin kira akhiri saja."


Haidar terdiam. Tak menyangka kalau Yumna ternyata memikirkan perasaan mami dan papinya. Tidak seperti dirinya yang hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.


Haidar meraih tangan Yumna membuat gadis itu tertegun.


"Trimakasih. Elo udah perhatian sama mami dan papi. Elo udah sayang mami dan papi selama ini. Elo memang gadis yang baik, Yumna!"


Ingin rasanya Yumna menarik tangannya, tapi entah kenapa rasa hangat tangan Haidar membuatnya sulit untuk melakukan hal itu.


Pandangan mereka beradu. Haidar tersenyum menatap ke kedalaman mata Yumna yang teduh.


Yumna terpaku dengan senyuman milik Haidar, hingga dia tak sadar kalau Haidar sudah mendekat dan menyisakan jarak lima senti darinya.

__ADS_1


Yumna terbangun dari keterdiamannya, dia sadar ada sesuatu yang salah sekarang. Di dorongnya dada Haidar pelan.


"Maaf.. Gue... mau... ke kamar mandi!" ujar Yumna lalu dengan cepat bangkit dan setengah berlari ke kamar mandi.


Haidar membaringkan dirinya di kasur, dia menatap ke arah pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.


"Apa yang gue lakuin? Kenapa gue bisa hampir mencium Yumna?" dia mengusap wajahnya dengan kasar.


Yumna menyandarkan dirinya di pintu kamar mandi. Dia memegang dadanya yang serasa mau meledak. Terasa detakannya yang sangat cepat, mungkin tiga kali lebih cepat dari biasanya. Nafasnya memburu dengan tidak teratur, membuat dia merasa sesak.


"Apa itu tadi? Kenapa... Kenapa dia mendekat?" lirih Yumna.


Sesaat dia terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi pada mereka. Umm, ralat, hampir!


Entah Yumna beruntung atau


tidak karena dia kabur di saat yang tepat, tapi dalam hati kecilnya ia juga kecewa, kenapa juga dia harus menghentikannya. Kalau saja Haidar tidak di hentikan, mungkin saja mereka sudah....


'Haissss... jangan berfikiran seperti itu!' Yumna menepis bisikan dari makhluk mungil mirip seperti dirinya dengan pakaian serba hitam dan juga memiliki tanduk di kepala, serta trisula di tangannya.


'Eeehhh, tapi ngarep kan? Cium dikit mah boleh banget kali. Lagian kan udah halal juga! Kalau udah cium kan, bisa... Hehehehe" bisikan itu datang lagi kali ini makhluk mungil dengan pakaian serba putih dan bersayap, serta lingkaran putih di atas kepalanya, berbisik di telinga Yumna dengan kekehan di akhir kalimatnya.


'Eh ingat, Haidar itu sudah ada yang punya, baik-baik jaga hati Yumna! Jangan sampai kamu sakit hati gara-gara dia! Dan jangan sampai kamu menjadi orang ketiga dari hubungan mereka. Gak baik, sayang! Ingat saja di luaran sana masih banyak yang menunggu kamu!' si Black Devil berkata ketus.


Yumna menganggukan kepalanya.


'Eh, Black! Memangnya kenapa kalau Yumna ada diantara mereka? Yang orang ketiga itu dia, bukan Yumna! Secara ya, Yumna dan Haidar itu kan udah sah! Lebih berhak, hubungan mereka lebih suci daripada hubungan mereka!'


Yumna berfikir sebentar, lalu mengangguk setuju.


'White. White. Tapi kan gak bisa gitu dong. Emang bener Haidar dan Yumna itu lebih berhak karena mereka udah nikah. Tapi lihat kenyataannya dong! Yumna itu di antara mereka siapa? Jangan sampai dia sakit hati pada akhirnya karena Haidar memilih Si Vio. Kecuali kalau Yumna bisa menggoda Haidar dan membuat pria itu jadi milik Yumna seutuhnya!' sahut Black sinis.


'Kalau begitu coba saja. Goda dia!!!'


"Menggoda Haidar, ya?" gumam Yumna. Kedua bayangan itu tersenyum smirk dan mengangguk bersamaan. Lalu menghilang tanpa permisi.

__ADS_1


"Eh, apa yang aku fikirkan? Masa iya aku harus goda dia. Dimana harga diriku?!" decih Yumna.


__ADS_2