YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
09 Pesta pernikahan Tia


__ADS_3

"Mimpi apa ketemu lagi sama si cowok nyebelin itu!" Gumam Yumna sambil membuka satu persatu kancing kemejanya, lalu setelah berhasil meloloskan dari tubuhnya membuangnya sembarangan. Begitu juga dengan celana bahan yang ia pakai, hingga Yumna hanya memakai dua dalaman yang membungkus tubuhnya.


"Gerah, tapi kalau mandi bisa demam besok!" ujar Yumna lirih pada dirinya sendiri. Yumna memang tidak bisa mandi pada malam hari. Meskipun memakai air hangat pun ia sering merasakan pusing atau masuk angin. Yumna hanya mencuci muka dan menggosok giginya. Mengganti dengan piyama bergambar kodok hijau lalu menurunkan suhu ruangan, dan menyelimuti dirinya dengan selimut.


"Selamat tidur Yumna. Mimpi yang indah!" tuturnya pada dirinya sendiri.


Tidak banyak yang tahu sisi lain Yumna, bahkan orang tua dan adik-adiknya. Yumna seperti punya dua kepribadian yang berbeda. Dimana dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat dari yang orang lain kira.


Menjadi kebanggaan kedua orangtuanya, dan menjadi panutan ketiga adiknya. Sungguh itu seperti beban tersendiri untuk Yumna. Selalu bersikap perfect. Bahkan Yumna seperti hidup dalam kepura-puraan selama ini. Yumna sadar, itu semua bukan gayanya! Tapi Bima dan Lily menaruh harapan besar padanya sebagai anak tertua.


Berbeda dengan sikap Yumna di rumah, di luar, dan pada orang-orang tertentu Yumna bisa menjadi bar-bar , salah satunya seperti saat tadi dia bertemu dengan Haidar. Sosok pria yang berhasil membuat sisi bar-barnya keluar.


...*...


...*...


...*...


Yumna bersiap-siap dengan gaun pestanya. Hari ini dia sekeluarga akan menghadiri pernikahan Tia. Acara akad sudah di laksanakan kemarin di rumah Tia, sedangkan resepsi di adakan di salah satu hotel mewah di kota ini. Tentu saja hotel milik keluarga Mahendra. Bima dengan sukarela memberikan hotelnya khusus untuk hari berbahagia ini, plus dengan beberapa kamar yang di peruntukan bagi para tamu yang datang dari luar kota. Itu sebagai hadiah karena Tia adalah sahabat putrinya. Tentu hal itu di sambut suka cita oleh si empunya hajat. Selain karena orangtua Tia dan orang tua Yumna juga cukup dekat dan menjalin kerjasama.


Yumna sengaja menaiki mobil bersama dengan Syifa, dia sedang menghindar dari ceramah sang mama. Kapan bawa pacar? Kapan menikah? Tuh lihat Tia saja sudah menikah, masa anak mama yang lebih cantik nan imut ini kalah? Pokoknya mama gak mau tahu Kamu harus bawa calon suami dalam waktu dekat ini sebelum mama benar-benar mengundang pria dan kamu tidak bisa menolak di jodohkan dengan dia!


'Menyebalkan!' rutuk Yumna malah semakin dalam menginjak pedal gas, menyalip dan menghindar dari mobil-mobil yang sama melaju kencang di jalanan. Tidak sadar kalau di sebelahnya Syifa merasa pusing karena di bawa mengebut oleh sang kakak.


"Kak! Kakaaakk!!" teriak Syifa menyadarkan Yumna yang fikirannya masih terbalut dengan kekalutan. "Jangan ngebut-ngebut." Syifa mengingatkan.


"Eh, iya. Maaf-maaf!" ucap Yumna sambil memelankan laju mobilnya.


"Kakak kenapa sih?" tanya Syifa mulai mereda dari rasa takut.


"Hehe, gak pa-pa." ujar Yumna.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di tempat acara. Yumna dan Syifa turun. Mama dan papanya sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kemana duo rusuh?" tanya Yumna yang tidak melihat kedua adik kembarnya.


"Lagi jemput calon pacar mereka!" perkataan Lily seakan menyindir putri sulungnya.


"Hehh? Nyindir nih ceritanya?" sarkas Yumna tidak suka.


"Bagus lah kalau merasa! Tuh lihat yang lain saja datang sama pasangannya masing-masing!" Yumna mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat. Benar, banyak yang bawa pasangan.


"Sudah-sudah. Kenapa jadi berantem sih. Mama, sudah hentikan. Yumna cepat cari pasangan!" Bima berusaha melerai debat istri dan putri sulungnya.


"Hemm..." jawab Yumna malas. "Mama dan papa sama saja!" cecar Yumna.


"Tentu sama lah, kita kan couple. Memangnya kamu gak iri, gak mau punya pasangan yang bisa perhatiin kamu, yang bisa sayang kamu, yang bisa di bawa-bawa ke setiap acara penting?" Lagi-lagi Lily menyiram bensin di atas bara api, membuat Yumna merasa jengah.


"Udah ah, yumna masuk dulu ke dalam ya. Syifa mau ikut kakak apa ikut mama?" tanya Yumna.


"Ummm, ikut mama papa saja deh. Ikut kak Yumna mah takut." Ujar Syifa membuat Yumna mengerutkan keningnya.


"Takut apa?"


"Takut ketularan jomblo!" Yumna memutar mata jengah. Adiknya sudah mulai ketularan sang mama. Lily hanya terkekeh mendengar pernyataan putri keduanya.


"Idih emang ada yang kayak gitu? Udah ah, daripada emosi. Yumna masuk dulu!" Yumna berlalu meninggalkan ketiganya dengan perasaan yang kesal.


Sementara itu di luar Lily dan Yumna saling tos sambil tertawa puas sudah membuat Yumna kesal.


"Kalian ini ya...!" Kalau saja di rumah pasti Bima akan menarik telinga Syifa karena membuat kakaknya kesal.


"Biarin pa. Biar kak Yumna cepat dapat pasangan. Kan nanti kalau Kak Yumna nikah aku nyusul!" cicit Syifa dengan senyum malu-malu, membuat Bima melongo.

__ADS_1


"Emang sudah ada pasangan? Kamu itu masih sekolah Syifa!" geram Bima, Syifa hanya terkekeh.


"Kan jaga-jaga pa. Nanti kalau Syifa sudah lulus siapa tahu ada yang lamar gitu!" cicit Syifa sambil memainkan kedua jari telunjuknya di depan dada dengan wajah malu-malu. Bima menepuk dahinya, yang disuruh menikah itu Yumna kenapa jadi Syifa yang ngebet?


...*...


Yumna berjalan di antara para tamu.



Dia terlihat cantik malam ini tanpa kacamata yang selama ini ia pakai. Banyak mata yang memandang takjub pada Yumna. Saling berbisik dan melirik.


Yumna menghela nafas pelan. Baginya sangat tidak nyaman di dalam keramaian seperti ini, dia merasa risih dengan pandangan yang terarah padanya yang seakan menelanjanginya.


"Apa penampilan aku buruk?" gumam Yumna. "Ah gara-gara mama nih. Suruh pake baju ini lagi. Kalau merosot bagaimana? Bisa gawat ini!" rutuk Yumna sambil terus memegangi daerah dada dan lengannya. Yumna sangat tidak nyaman dengan gaun ini, meskipun sang mama membelinya dari seorang desainer terkenal, sahabat bunda Dena. Baginya gaun ini sangat terbuka.


Yumna berjalan ke arah panggung pelaminan dimana Tia bersama Ronald sedang menyambut para tamu yang datang. Yumna memperhatikan sekitar, dan menghela nafas panjang.


"Yang lain ada pasangan, aku gak ada. Nasib!" batin Yumna.


Yumna segera naik ke pelaminan.


"Tia!" seru Yumna.


"Yumna!" Tia bahagia melihat sahabatnya hadir disana.


"Haii!!!" Tia memeluk Yumna dengan erat. Mereka saling menempelkan pipi kanan dan kiri.


"Kamu cantik banget! Selamat yaa!" puji Yumna pada Tia.


"Kamu juga." Tia balik memuji Yumna. "Gini dong, jangan pakai kacamata culun itu, biar kamu cepet dapet pasangan dan menikah." ujar Tia. Yumna mengerucutkan bibirnya.


"Hahhh, semua orang kenapa ngebet nyuruh aku nikah ya?" curhat Yumna.


"Sebel!" Yumna menghentakkan kakinya. Kesal. Kini beralih pada Ronald. Mengucapkan doa-doa terbaik untuk kedua mempelai itu.


"Kapan kamu nyusul?"


"Yaaah pertanyaan itu lagi!" Yumna memutar bola mata malas. Tia terkekeh mendengar pertanyaan suaminya pada Yumna.


"Nanti deh, kalau ada pasangannya aku kirim undangannya." jawab Yumna asal. "Doain aja biar gak lama." dan di jawab aamiin oleh kedua mempelai.


Yumna memutuskan untuk turun dari panggung pelaminan karena tamu semakin banyak yang ingin bersalaman dengan pengantin.


Yumna mencari-cari keberadaan keluarganya, tapi dia tidak melihat satupun dari mereka di ruangan yang luas ini.


"Apa mereka sudah pulang?" gumam Yumna, masih terus mencari.


Yumna merasa haus, dia menuju ke sebuah meja untuk mengambil minum. Menenggak minuman itu hingga tersisa setengahnya. Lalu Yumna mengambil potongan buah yang memang di sediakan untuk para tamu.


Yumna mengedarkan pandangannya sesekali dia melihat teman-temannya saat SMP atau SMA. Yumna menyapa seperlunya saja. Karena saat sekolah dulu Yumna juga tidak terlalu dekat dengan mereka.


"Yumna?" Yumna menoleh, seorang pria bertubuh tinggi mendekat ke arahnya.


"Emmm..." Yumna mencoba mengingat. Dia memiringkan kepalanya.


"Aku, Davendra! Ingat?! Dave!" tiba-tiba pria itu meletakkan kedua tangannya membentuk kacamata di wajahnya.


"Ooh. Ya..." Yumna tersenyum, ingatan tentang Devandra hanya secuil dalam memorinya.


"Apa kabar?" tanya Dave sambil menyodorkan tangannya.


"Baik, Dave." Yumna menyambut tangan Dave dengan canggung, dia tidak biasa besentuhan dengan pria, kecuali papa Bima dan si duo rusuh adik kembarnya.

__ADS_1


"Kamu beda banget, Na." pandangan Dave memindai dari atas ke bawah dan sebaliknya. "Kamu semakin mempesona." puji nya membuat Yumna malu sekaligus risih karena pandangan Dave terhenti di daerah dadanya. Yumna menarik tangannya dengan segera.


"Ah, biasa saja!" ucap Yumna sembari menutupi apa yang di lihat Dave dengan rambut panjangnya. Rasanya Yumna ingin mengumpat saat pandangan pria itu tak teralihkan dari sana.


"Kamu juga beda banget sama dulu waktu SMP." basa-basi sedikit sebelum menyingkir.


"Ah, iya. Mama yang buat aku ninggalin kacamata dan ubah aku seperti ini." Ucap Dave lalu meminum minumannya.


"Ah ya, tapi bagus kok."


"Kamu suka aku seperti ini? emmm maksudku penampilanku." tanya Dave dengan gaya sedikit angkuh, sedikit memutar tubuhnya ke kiri.


"Iya, tentu suka. Beda. Bagus. Cocok." Tidak tahu apa lagi yang bisa di bicarakan.


"Kamu sama siapa kesini? Sendiri?" tanya Dave lagi.


"Tidak. Aku sama...umm...ada orangtuaku dan adik-adikku." jujur Yumna mulai risih dengan pandangan Dave yang terus memperhatikan tubuhnya.


"Ah ya aku pamit ya, takut mereka cari!" tutur Yumna lalu melangkah, tapi terhenti karena Dave menahan tangannya.


"Eh sebentar, ini masih sore Na, masa mau pulang?"


"Aku mau cari keluargaku dulu." Yumna berusaha melepaskan diri dari Dave.


"Ah ya, maaf!" ucap Dave smbil melepaskan tangannya.


"Boleh aku minta nomor kamu? Mungkin lain kali kita bisa makan malam?" tanya Dave dengan senyuman manisnya. Dia mengeluarkan seluruh pesonanya berharap Yumna tertarik padanya.


"Aku..."


"Sayang!" Panggil seseorang, dan berdiri tepat di samping Yumna. Yumna menoleh dan mendapati seseorang yang ia kenal.


"Kamu sedang apa disini? Maaf, aku tidak bisa jemput tadi, ada hal yang harus aku kerjakan. Aku ketemu mama dan papa disana, mereka cari kamu." ucap pria itu sambil melepaskan jas hitamnya dan memasangkannya pada tubuh Yumna.


Yumna yang sempat melongo melihat penampilan pria di sampingnya tersadar. Dia memegang jas yang pasangkan pria itu untuk menutupi dadanya.



"Ah, iya. Tadi aku lapar, jadi aku kesini. Maaf ya, sayang. Aku gak tahu kalau kamu juga datang." Yumna menelusupkan jari-jari tangan kanannya ke tangan kiri pria itu. Hal itu tak luput dari pandangan mata Dave yang tajam menatapnya dengan kesal. "Sayang, kenalkan ini temanku saat SMP. Dave ini..."


"Saya Haidar, saya tunangan Yumna!" Yumna terkejut, tapi mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin. Haidar mengulurkan tangannya terlebih dahulu dengan senyum penuh kharismatik, bahkan Yumna yang selalu mengutuk senyum menyebalkan itu, justru sekarang tanpa sadar mengutuk dirinya sendiri karena terpesona dengan senyum pria itu.


"Saya Davendra. Senang berkenalan dengan anda. Saya putra dari Malik Haris Wiryawan. Mungkin anda kenal?" tanya Dave mencoba menjatuhkan Haidar.


"Ah ya, putra dari tuan Malik. Saya mengagumi sosok beliau sedari dulu. Saya juga suka mengikuti perkembangan bisnisnya, apalagi dengan bisnis perkapalan yang sedang maju sekarang ini."


Dave dan Haidar saling mengobrol, mereka cukup akrab. Setidaknya mengakrabkan diri, begitulah kira-kira. Yumna sampai melongo tidak percaya dengan apa yang bicarakan keduanya. Dia tidak menyangka kalau Haidar cukup tahu tentang bisnis perkapalan milik keluarga ayah Dave.


Di sela-sela mengobrol, diam-diam Dave memperhatikan Yumna. Yumna yang mendapati tatapan lapar dari Dave tak sadar mengeratkan jari-jarinya pada jari Haidar. Haidar sadar Yumna sedang merasa tidak nyaman sekarang.


"Kalau begitu, kami pamit. Senang bertemu dengan anda tuan Dave!" Lagi Haidar menyodorkan tangannya. Dave menyambutnya dengan baik meski ada rasa dongkol di hatinya karena pria ini ternyata bukan pria sembarangan. Setidaknya itulah yang dia fikirkan sekarang.


"Senang bertemu anda kembali." ujar Dave. "Umm. Lain kali boleh kita bekerja sama, dekat-dekat ini saya sedang merencanakan untuk membangun hotel di beberapa kota, mungkin saya bisa ambil beberapa furniture dari perusahaan anda. Mungkin papa juga akan tertarik bekerja sama untuk kapal pesiarnya." tambah Dave.


Yumna sedikit khawatir, bagaimana jika Haidar tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia menggoyangkan tangan Haidar, memberi kode agar cepat pergi.


"Ah, apa saya pantas menerima tawaran anda. Saya hanya pengusaha yang baru saja merintis karier. Tidak seperti perusahaan papa anda yang sudah lama berdiri." Haidar merendah. Lagi-lagi Yumna di buat melongo, tidak menyangka Haidar dengan begitu tenangnya menjawab.


"Jangan seperti itu. Kita akan saling menguntungkan nanti." Dave kembali melirik pada Yumna. Masih mencoba membuat dirinya keren di mata Yumna.


"Kalau begitu kami pamit sekarang. Trimakasih atas tawaran anda, tentu saya akan senang untuk menanti kesempatan itu." ucap Haidar sambil tersenyum.


"Ayo sayang, kita ketemu mama dan papa kamu!" ajak Haidar. Lalu dia mengangguk ke arah Dave dan kemudian menarik Yumna pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2