YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
40. Haidar Jangan Lepasin Gue!


__ADS_3

Emang elo kira gue mau apa?" tanya Haidar tertawa mengejek. Yumna meninju bahu Haidar keras.


"Sialan lo! Bikin gue jatuh aja. Kepala gue sakit!" ucap Yumna sambil mengelus kepala bagian belakangnya.


Haidar mengulurkan tangannya dan membantu mengelus kepala Yumna. Mengusapnya dengan lembut.


"Lagian elo fikirannya kemana juga!" Haidar tertawa, merasa lucu dengan ekspresi Yumna yang ketakutan tadi.


"Elo juga sih! Mau ngambil headphone kan bisa muter jalannya kenapa harus naik ke ranjang, kan gue takut!" Yumna mencebikan bibirnya, kesal dia mencubit lengan Haidar keras.


"Aww sakit!" Haidar mengaduh mengusap lengannya, Yumna tidak peduli.


"Lebih sakit gue, mana jatuhnya keras lagi!" ucap Yumna kesal.


"Sorry! Masih sakit?" tanya Haidar menatap Yumna yang masih mengusap kepalanya.


"Enggak!" Jawab Yumna, padahal mah, iya. Tatapan mereka saling bersinggungan. Ada rasa berdesir di hati keduanya, apalagi mereka duduk dengan jarak yang sangat dekat saling berhadapan.


"Ya udah, gue... mau... balik ke sofa." ucap Haidar seraya berdiri.


"Iya, gue juga mau tidur. Besok masuk kerja!" ucap Yumna canggung beringsut dari duduknya.


"Iya sama gue juga besok ke kantor! Sana tidur, gue gak akan ganggu." Haidar berbalik, dia menoleh.


"Tapi kalau gak khilaf!" tambahnya lalu setengah berlari karena Yumna bersiap melemparkan sandal padanya.


"Haidar!!!" teriak Yumna. Haidar segera berlari dan bersembunyi di dalam selimutnya. Dia menahan tawa, rasanya sangat menyenangkan mengganggu Yumna.


'Ah, gue udah gila! Kenapa rasanya ingin cium dia? Kalau gak menghindar tadi bisa-bisa udah gue sambar tuh bibirnya!' gumam Haidar dalam hati. Lalu dia sadar dan menepis kata-kata dalam hatinya barusan.


Malam semakin larut, Yumna sama sekali tidak bisa tidur. Mungkin karena tadi siang dia sudah cukup tidur, maka dari itu dia tidak mengantuk.


"Haidar?!" panggil Yumna lirih. Tidak ada sahutan dari sofa. "Udah tidur ya?" Masih tidak ada sahutan. Yumna menghela nafas berat. Rasanya sangat membosankan. Yumna bangun dari tidurnya, berjalan mendekat ke arah sofa menatap wajah Haidar yang tertidur pulas. Suara dengkuran halusnya terdengar pelan.


"Yah... Sudah tidur!" gumam Yumna pelan.


Yumna mencolek pipi Haidar pelan.


"Haidar, bangun dong. Temenin gue, gak bisa tidur nih!"


"Hemmm apaan sihh?" suara Haidar yang mengantuk, menepis tangan Yumna dari wajahnya.


"Gak bisa tidur nih." ucap Yumna kembali mencolek pipinya.


"Ya udah baca buku aja, atau main game nanti juga kalau ngantuk pasti tidur!" ucap Haidar malas, dia menguap lalu berbalik sambil mengeratkan selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.


Yumna mencebik kesal. Dia melihat jam di dinding kamar, sudah jam sebelas malam. Yumna berjalan ke arah rak buku, ada banyak buku disana. Buku tentang perkuliahan maupun majalah lama. Novel dan juga komik.


"Hehh ternyata dia suka novel juga!" Yumna mengambil salah satu buku novel yang lumayan tebal, dia membaca sinopsis yang ada di belakang buku tersebut.


"Lumayan." ucapnya. Lalu membawa buku itu. Yumna berjalan ke arah balkon. Membukanya dan melangkah ke luar sana. Duduk di salah satu kursi dan mulai membuka buku itu

__ADS_1


Udara di luar cukup cerah sedikit dingin, tapi tidak membuat Yumna ingin kembali ke dalam. Dia belum mengantuk sama sekali. Di bacanya buku itu lembar demi lembar.


Haidar terbangun dari tidurnya. Udara terasa lumayan dingin membuat dia ingin pergi ke toilet. Dengan malas Haidar berjalan ke arah kamar mandi, bahkan matanya masih setengah tertutup.


Selesai dari kamar mandi, Haidar kembali ke tempat tidurnya, dia mengambil selimut lalu menariknya hingga ke leher. Menguap beberapa kali hingga matanya menyipit. Baru saja tertidur Haidar kembali bermimpi tentang balon air, refleks dia membuka matanya. Merasa ingat sesuatu dan juga takut akan sesuatu. Takut jika dia menyentuh balon air milik Yumna. Menoleh ke sebelahnya, kosong!


"Eh kenapa gue tidur di kasur. Ini kan tempat Yumna. Untung aja tadi cuma mimpi." Haidar bangkit dari ranjang dan berjalan menuju sofa miliknya. Dia menoleh ke arah pintu balkon yang terbuka lebar. Haidar berjalan ke arah sana dan menutup pintu balkon tanpa memeriksa terlebih dahulu.


Dia kembali ke sofa tempat tidurnya malam ini. Duduk dan bersiap untuk merebahkan diri.


Merasa aneh dengan ranjang yang kosong, Haidar kembali bangkit lalu berjalan ke arah kamar mandi, mengetuknya dengan sedikit pelan.


"Yumna. Elo di dalam?" panggil Haidar. "Na? Yumna?" tidak ada sahutan. Haidar memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Kosong! Dia menutup pintu kamar mandi dan dengan cepat berjalan ke arah pintu balkon, membukanya.


"Ya ampun! Ni anak, baca buku sampe ketiduran! Gimana kalau masuk angin?!" Haidar menggelengkan kepalanya melihat Yumna yang tidur pulas tengah memeluk buku. Dia mendekat, mengambil buku itu, melipat halaman terakhir yang Yumna baca, lalu menyimpan buku itu di meja.


"Na. Yumna!" panggil Haidar seraya menggoyangkan bahu Yumna. "Heh bangun! Pindah ke dalam!" titah Haidar. Yumna masih tertidur.


"Yumna. Pindah ke dalam!"


"Siap pak. Nanti akan saya antarkan ke ruangan bapak!" Yumna berbicara dalam tidurnya. Matanya masih terpejam.


Haidar tersenyum, sebuah ide jahil terbersit di otaknya. Dia mendekat ke arah Yumna. Berbicara sedikit keras tepat di dekat telinga Yumna.


"Yumna ada kecoak!" teriak Haidar.


Yumna yang takut dengan kecoak seketika terbangun.


Bugh...!


"Awww!" Haidar mengaduh terkena tamparan Yumna. Dia memegangi pipinya yang linu. Yumna yang tak sadar mengangkat kedua kakinya ke atas kursi. Dia masih ketakutan.


"Mana kecoaknya?" mendadak mata Yumna membulat takut mencari-cari dimana benda mengerikan itu.


"Gak ada!" ucap Haidar kesal, dia mengelus pipinya. "Elo gak kira-kira nabok pipi gue!"


Yumna merasa kesal dia berdiri dan berjalan meninggalkan Haidar. "Rasain! Siapa yang suruh elo jahilin gue!" Haidar hanya bisa melihat Yumna yang masuk kembali ke kamar. Yumna menutup mulutnya yang menguap lebar.


"Lagian elo napa juga tidur di luar? Kepengen masuk angin ya!" ucap Haidar mengikuti langkah Yumna.


"Gak bisa tidur!" Jawab Yumna.


"Ya lagian tadi siang tidur pules banget, kayak sapi!"


"Gue ngantuk, semalem gak pules tidur, jaga-jaga kalau tangan elo tidak terkondisikan lagi!" ucap Yumna kesal.


Yumna duduk di tepi ranjang. Dia merenggangkan kedua tangannya lebar-lebar, memutar punggungnya hingga terdengar bunyi pada tulangnya. Merasa linu di badannya karena tidur dengan posisi duduk. Kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk.


"Ah kantuk gue jadi ilang kan!" kesal Yumna.


"Elo nyalahin gue?" ucap Haidar, mengambil selimut yang terjatuh di lantai. "Tau gitu tadi gue gak bangunin elo!" kesalnya.

__ADS_1


Haidar merebahkan dirinya di sofa, berbalik ke kanan dan ke kiri mencari posisi yang nyaman.


"Yumna!" panggil Haidar. Yumna yang masih terjaga menoleh pada Haidar.


"Perasaan elo ke cowok itu gimana?" Tanya Haidar.


"Cowok mana?" Yumna balik bertanya.


"Aldy. Kayaknya elo sama dia punya perasaan yang lebih dari sekedar kakak!"


"Elo mau tahu? Kepo banget". Yumna tertawa lirih. Dia mengubah tidurnya menjadi miring menghadap ke arah Haidar.


"Siapa yang mau tahu! Gue cuma nebak aja kalau dia juga punya perasaan sama elo. Di lihat dari waktu kita ketemu di pernikahan Tia, di acara pertunangan kita, terakhir kalinya di pernikahan kita." tutur Haidar.


"Emang!" jawab Yumna. Rasa panas terasa menjalar di hati Haidar. Tidak nyaman.


"Dia pernah ngatain cinta sama gue tapi terlambat, waktu itu kita baru aja tunangan!" jelas Yumna. Dia menghela nafasnya berat.


"Terus? Kenapa elo gak pernah bilang sama gue, jadi gue bisa batalin pertunangan kita!"


"Mama udah seneng waktu tahu gue pacaran sama elo. Dan gue gak mau buat Aldy malu karena jadi perebut tunangan orang! Lalu gimana perasaan mami dan papi elo kalau gue batalin pertunangan kita? Tentu mereka akan marah dan akan berfikir kalau gue main-main dengan masalah pertunangan." jawab Yumna.


"Nyatanya, kita malah lebih parah sekarang! Kita mempermainkan pernikahan!" ucap Haidar tertawa lirih.


"Karena siapa juga kita terjebak?" tanya Yumna mengingat hal yang terjadi di kafe waktu itu.


"Lucu ya!" ucap Haidar.


"Apanya yang lucu?" tanya Yumna kesal.


"Cerita hidup kita!" jawab Haidar.


Mereka terdiam.


"Haidar?"


"Hemm?"


"Elo gak akan halangin gue kalau gue deket sama cowok lain kan?" tanya Yumna. Haidar terdiam. Ada rasa sedikit tidak rela mendengar ucapan Yumna.


"Enggak lah! Itu kan ada dalam perjanjian kita!" ucap Haidar membuat Yumna merasa ada sedikit cubitan di hatinya.


"Gue ada permintaan yang lupa gak gue tulis di dalam perjanjian kita."


"Apa?"


"Kalau gue udah nemuin cowok yang tepat, kita segera urus perceraian. Tapi kalau gue belum ketemu sama cowok itu selama Vio belum habis masa kontraknya gue minta elo jangan lepasin gue!" ucap Yumna. Tanpa di sadari bibir Haidar tertarik ke samping sedikit.


"Maksud gue, elo sih enak udah punya calon setelah kita pisah. Lah gue? Gak adil!" ralat Yumna.


"Oke! Sebagai kompensasi karena udah mau pura-pura jadi istri gue, gue turutin mau elo! Gue tidur dulu. Ngantuk!" ucap Haidar. Dia kembali merasa kesal mendengar kalimat terakhir Yumna.

__ADS_1


'Kompensasi!' gumam Yumna lirih lalu memutar tubuhnya memunggungi Haidar. Yumna tertawa kecut mengingat ucapan Haidar 'istri pura-pura'. Yumna memejamkan matanya memaksakan untuk tidur.


__ADS_2