YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
18 Persiapan Lamaran


__ADS_3

Kedua keluarga sangat berbahagia dengan kabar gembira dari anak-anaknya. Tepat tiga hari lagi keluarga Rahadian akan bertandang ke kediaman Mahendra untuk menyunting Yumna.


"Mama senang dengan kabar bahagia ini!" Lily memeluk putri sulungnya.


Yumna mau tidak mau ikut tersenyum, merasakan kebahagiaan sang mama, ketiga adik-adiknya hanya tersenyum lebar, sesekali menggoda kakaknya, ber-ciee cieee ria. Sedangkan papa Bima menatap sedih putrinya yang sebentar lagi akan menjadi milik pria lain. Baginya Yumna dan ketiga yang lainnya adalah putra-putrinya yang masih kecil meski mereka beranjak dewasa sekarang. Perpisahan saat Yumna terlahir hingga berusia empat tahun, membuat Bima merasa sangat bersalah. Itu semua kesalahannya yang menyebabkan Lily pergi membawa janin di dalam rahimnya. Bima mengusap sudut matanya yang basah.


Lily segera menelfon nenek Ratih dan kakek Adi. Mereka sama bahagianya, dan akan terbang dari Singapura sebelum hari H pertunangan sang cucu.


Keesokan harinya, nenek Ratih, dan kakek Adi tiba di kediaman Bima. Mereka di sambut dengan gembira oleh Lily dan ketiga anaknya, Yumna dan Bima masih ada di kantor.


Keadaan riuh di meja makan saat makan malam. Membicarakan ini, itu, untuk persiapan acara pertunangan Yumna dan Haidar.


"Yumna. Apa Haidar itu pria yang sudah antar kamu pulang waktu itu?" tanya nenek Ratih lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Tidak ada aturan di meja makan untuk hanya makan dengan diam, justru ini lah saat-saat menyenangkan bagi mereka. Makan malam bersama dengan keadaan hangat dan menyenangkan!


Yumna tersenyum, menelan makanannya yang masih kasar. "Iya nek, yang pernah antar aku ke rumah." jawab Yumna.


'Tapi dulu aku mengaku anak asisten nenek! Dia tidak tahu kalau aku cucu nenek!' batin Yumna.


"Oh pantas saja. Kenapa kamu tidak pernah ajak dia masuk dulu? Kamu juga tidak pernah kenalkan secara khusus sama nenek!" ucap Ratih.


"Ah iya, nek maafin Yumna. Dulu Yumna fikir dia belum terlalu serius, makanya Yumna gak berani kenalin sama nenek." kilah Yumna. Haidar memang pernah beberapa kali mengantarkan Yumna pulang ke rumah, itu karena Haidar membawanya berlari tanpa sebab. Atau tiba-tiba menariknya ke atas motor.


Ratih dan kakek Adi hanya mengangguk, mengerti. Mereka melanjutkan makan dengan di selingi candaan dan gurauan serta godaan dari ketiga adiknya yang jahil. Yumna hanya tertunduk malu dan ada sedikit perasaan kesal di hatinya. Bosan mendengar nama Haidar yang terus di sebut-sebut oleh yang lainnya!


Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Kembali membahas apa saja yang di pelukan untuk acara besok malam, terutama mengundang beberapa kerabat dan sahabat.


"Pa, Yumna fikir jangan berlebihan. Cukup keluarga kita saja yang di beritahu." Yumna menolak usulan mama papanya saat akan mengundang beberapa lagi yang lain.


"Tidak, nak. Mereka juga penting. Semua sahabat papa akan papa undang, mereka sudah anggap kamu seperti putri mereka sendiri. Hanya jamuan makan malam tidak masalah kan? Bagaimana nanti yang mereka katakan kalau papa tidak mengundang mereka dalam acara penting ini?" tanya Bima, lalu menyesap teh hangatnya.


Yumna ragu, takut, juga bingung, terutama jika papa Bima mengundang papa Yoga dan mama Wanda, yang pasti akan ada Aldy dan Rena adik Aldy yang kini masih duduk di bangku SMP.

__ADS_1


Yumna hanya bisa mengangguki perkataan Bima. 'Ya sudahlah, semoga saja Aldy tidak bisa datang besok.'


Malam sudah larut, semua beranjak ke kamar masing-masing. Yumna merebahkan dirinya. Dia mengusap layar hpnya yang berisi chat dari Haidar tentang rencana mereka kedepannya.


'Gagal sudah aku ingin mencari cinta sejatiku. Rasanya sia-sia menjadi orang yang culun karena akhirnya aku tidak bisa mencari seorang pria yang tulus cinta sama aku!' Yumna tersenyum miris dengan jalan yang akan di hadapinya.


Tok..


Tok..


Suara ketukan di pintu membuat Yumna mau tidak mau bangkit dari kasurnya. Dia membuka pintu, tampak disana berdiri neneknya.


"Nenek, ada apa? Masuk, nek!" Ratih berjalan ke arah tempat tidur Yumna dan duduk di sana. Setelah menutup pintu Yumna mengikuti nenek Ratih dan duduk di sampingnya.


"Yumna, kamu yakin dengan acara besok? Kalau kamu tidak yakin batalkan saja nak!" tanpa basa-basi nenek bicara, Ratih memang mengenal sifat Yumna sedari kecil.


Yumna tersenyum dia menggenggam erat tangan neneknya. "Nenek tenang saja. Aku udah fikirin semuanya kok!" Yumna mencoba menenangkan sang nenek. Ratih menghela nafasnya yang terasa berat.


"Apa kamu suka sama dia? Cinta? Sayang?" tanya Ratih lagi menatap Yumna tajam, ada rasa tidak rela, dan rasa ragu saat melihat ke dalam mata cucunya itu. Yumna terdiam, semua yang di tanyakan nenek tidak ada sedikitpun rasa itu di dalam hatinya. Tapi bagaimanapun juga Yumna melihat kebahagiaan di mata sang mama. Dia tidak ingin membuat Lily bersedih dan berujung dengan perjodohan dengan anak tertua keluarga Suseno.


"Tentu nek, memang nenek fikir Yumna akan salah mengambil keputusan?" Yumna tersenyum selebar mungkin, dia memiringkan kepalanya seperti anak kucing. Ratih tertegun, dia tahu kalau cucunya ini tengah berbohong, tapi dia percayakan saja dengan keputusan yang Yumna ambil.


"Ya sudah!" Ratih mengusap kepala Yumna. "Nenek ke kamar dulu, kamu istirahat, malam besok kamu ada acara penting, jangan sampai capek ya!" Yumna tersenyum lebar. Dia mengantar kepergian neneknya sampai ke pintu kamar.


Yumna menutup pintu kamarnya. Dia bersandar disana.


'Apa nenek akan percaya yang aku bilang tadi? Semoga saja!" monolog Yumna dalam hati.


Keesokan harinya. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan ini dan itu. Dari mulai makanan, tempat, dan baju apa yang akan di pakai. Khusus untuk Yumna, baju dari Allea, sahabat bunda Dena sudah di pesankan oleh Lily. MUA juga sudah di pesan secara khusus untuk nanti. Kali ini Yumna sedang berada di salon untuk merawat dirinya. Yumna harus meminta izin hari ini dari kantor.


"Mama keterlaluan! Aku ini hanya akan lamaran kenapa jadi melakukan perawatan untuk pengantin?" tanya Yumna yang sedang di pijat dan di lulur. Matanya tertutup merasakan nikmatnya pijatan di punggungnya.

__ADS_1


"Mama cuma ingin kamu menjadi wanita tercantik malam nanti!" Ujar Lily, yang juga sedang melakukan pijatan yang sama. Mereka berada di dalam satu ruangan.


"Huh, aku memang sudah cantik sedari dulu. Kan mama yang menurunkan kecantikan itu!" cibir Yumna.


"Mama tahu, memang mama sumber kecantikan kamu." Lily dengan bangganya. "Tapi kalau tidak di rawat tentu percuma. Buluk!" Lily tertawa, sedangkan Yumna merengut di sebut buluk oleh sang ibu. Yumna merasa segar di seluruh tubuhnya, nyaman dan terasa ringan.


Selesai dari salon mereka pun pulang. Yumna terkejut dengan perubahan di dalam rumah mereka. Di hias dengan begitu indahnya.


'Ya ampun, ini baru lamaran, bagaimana kalau nanti saat menikah?' batin Yumna, melihat masih saja ada yang membenahi ini dan itu supaya terlihat perfect.


Yumna melangkah ke arah tangga, berenang sebentar sepertinya cocok sambil menunggu sore tiba. Pandangan Yumna tertuju pada seseorang yang sedang bicara dengan kakek di ruangan lain. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar dan memilih menyapa orang itu.


"Mas Reyhan kapan datang?" tanya Yumna mendekat ke arah kakek Adi. Reyhan yang merasa di panggil pun menoleh.


"Baru saja nona!" jawab Reyhan singkat, Yumna memutar bola mata malas.


'Nona lagi!' padahal kan mereka sudah sepakat untuk tidak menaggil Yumna dengan sebutan itu.


"Aku kira mas Rey gak datang!"


"Tentu datang, sekalian mengantar dokumen ini untuk di tanda tangani secara langsung oleh tuan besar." ucap Reyhan.


"Oh ya sudah. Kakek, mas Rey, aku naik dulu ke kamar ya!" pamit Yumna lalu kembali ke arah tangga. Reyhan menatap kepergian Yumna hingga tidak sadar jika kakek memperhatikan pria itu.


"Aku sudah kasih kamu kesempatan sebelum ini, tapi kamu tidak pernah menggunakan kesempatan itu dengan baik!" Reyhan tersadar lalu menundukan pandangannya, menatap dokumen yang sudah di tanda tangani oleh kakek.


"Saya tidak berani tuan. Yumna sangat berharga, dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari saya." ucap Reyhan.


"Jangan terlalu formal, kita bukan di kantor! Kamu tahu kan kalau Yumna bukan seorang yang seperti itu ." Reyhan mengangguk, kakek tahu apa yang ada di dalam fikiran pria muda itu. Dia terlalu merendahkan diri, padahal semua anggota keluarga tidak akan ambil pusing dengan calon pilihan Yumna, tidak akan mempermasalahkan status, yang penting Yumna bahagia.


"Iya, kek. Aku hanya merasa tidak pantas." lirih Reyhan. Dia mengambil dokumen untuk dia simpan di kamarnya.

__ADS_1


"Lain kali jangan merasa rendah seperti itu. Aku tidak suka. Siapapun wanita yang kamu sukai, kejar saja, buktikan kalau memang kamu inginkan dia." Reyhan mengangguk.


"Baik kakek, lain kali aku tidak akan ragu." Kakek tertawa bangga.


__ADS_2