YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
191. Haidar, Pantang Menyerah


__ADS_3

Haidar kini sudah sampai di depan rumah Yumna. Rasanya dia tidak menangka jika akan kembali ke rumah ini lagi. Semalam dia sudah memikirkan akan mendekati Yumna pelan-pelan. Anggap saja jika dirinya kini adalah anak sekolah yang akan mengantar pulang pergi sang kekasih.


"Ah ya ampun, kenapa aku memikirkan hal itu? Sudah jelas kalau masa sekolah sudah lama lewat," gumam Haidar sambil tertawa sendiri. Dia melihat wajahnya dari spion yang ada di depannya. Wajahnya sedikit berwarna merah.


Haidar terdiam di bailk kemudinya, kini menatap rumah mewah itu dari luar pagar.


Haruskah aku masuk ke dalam sana? Atau aku menunggu disini? batin Haidar. Dia ingat dengan pukulan adik kembar Yumna dulu saat dirinya belum resmi bercerai dari Yumna. Haidar lupa, maksudnya diia belum begitu mengenal, siapa yang memukulnya dulu. Apakah itu Arkhan, atau adiknya Azkhan. Wajah mereka berdua sangat sulit untuk dibedakan.


"Semoga saja nanti tidak akan ada halangan aku dekat lagi dengan Yumna," gumamnya sekali lagi.


Haidar kini mengambil hpnya. Lebih baik dia memberi kabar kepada Yumna jika dirinya menunggu di luar. Dengan segera Haidar mencari nomor Yumna, semoga saja nomornya masih tetap sama.


Haidar berdecak dengan kesal. Nomor Yumna ternyata sudah tidak aktif. Di lupa, padahal sedari dulu nomor itu memang sudah tidak aktif semenjak perceraian mereka dan Yumna pergi untuk menenangkan diri.


Kini Haidar mencari satu nomor lain, Mami pasti punya nomor Yumna yang baru.


"Sial! Kenapa gak diangkat?!" seru Haidar dengan kesal saat panggilannya tidak diangkat oleh sang Mami. Mitha masih berada di ruang makan, menemani sang suami menikmati sarapan, sedangkan hpnya berada di dalam kamar.


Nunggu telepon diangkat Mami, kapan? gumam Haidar di dalam hati. Haidar melihat ke arah dalam pagar itu, berharp jika Yumna keluar dari dalam sana.


Sepuluh menit. Haidar masih menunggu, tapi tidak juga kelihatan Yumna keluar dari dalam rumah. Haidar sudah bosan menunggu. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali menyalakan mobilnya dan menuju ke rumah itu.


Yumna dan seluruh anggota keluarga sedang menikmati sarapannya. Mereka makan sambil mengobrol ringan, apalagi jika bukan pembahasan tentang Syifa dan juga si kembar. Mereka bertiga adalah pembahasan yang seringkali membuat tawa di keluarga itu, terutama Syifa.

__ADS_1


Seorang sekurity mendekat ke arah dimana keluarga itu makan. Dengan sangat sopan dia menyampaikan maksud kedatangannya membuat semuanya terdiam.


"Hah? Siapa?" tanya Yumna merasa bingung karena sekuriti itu menyebut namanya. Dia menatap anggota keluarga yang lain.


Sekuriti yang baru bekerja beberapa bulan di rumah itu hanya menggelengkan kepalanya. "Maaf, Neng. Saya gak tau, kirain orang itu sudah telepon atau kirim pesan sama Neng Yumna," ucap pria itu dengan logatnya yang khas.


Sekali lagi Yumna menatap Papa Bima dan Mama Lily. Dia merasa tidak dapat psan apapun dari seseorang yang kini ada di luar rumahnya.


"Aku lihat deh. Siapa, ya?" Yumna masih bingung. Namun, kini dia berdiri untuk mengetahui siapa pria itu. Makanan yang belum ia habiskan, dia tinggal begitu saja,


Yumna meninggalkan meja makan, Syifa dan Azkhan yang kepo juga turut meninggalkan meja makan dengan diam-diam, jika kakaknya tahu mereka mengikutinya pastilah kakaknya itu akan mengomel. 'Tidak Sopan!' Itu yang pasti akan dia bilang.


Yumna kini keluar dari dalam rumah dan menemui pria itu di luar. Betapa terkejutnya dia melihat Haidar yang berada disana.


"Ada apa kamu kesini?' tanya Yumna pada Haidar. Rasa hati Yumna senang, tapi juga bingung karena pria ini ada di sana tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.


"Hai," sapa Haidar dengan canggung. Haidar terpaku melihat Yumna hari ini. Rambut yang dicepol tinggi itu membuat leher Yumna menjadi terlihat jenjang. Kini tak ada lagi kacamata tebal yang menghias di wajah cantik tu seperti dulu, seperti saat mereka baru pertama kali bertemu setelah perpisahan mereka di universitas di Singapura.


"Hai," Yumna menjawab sapaan itu. "Kamu ... Ada apa kamu kesini sepagi ini?" tanya Yumna lagi pada Haidar, menyadarkan pria itu dari kekagumannya.


Haidar sedikit malu dengan pertanyaan Yumna itu. Ini memang masih pagi untuk berkunjung menemui seseorang.


"Aku ...." Haidar terdiam, sedangkan Yumna masih menunggu apa yang Haidar ucapkan selanjutnya.

__ADS_1


"Iya?"


"Aku mau jemput kamu," ucap Haidar akhirnya. Dalam hatinya terasa berdebar karena dia takut jika Yumna akan menolak ajakannya.


"Jemput aku? Kemana? Aku harus bekerja, Haidar," ujar Yumna.


"Eh, iya itu maksud aku. Aku jemput kamu untuk antar kamu ke kantor. Mau? Itu juga kalau kamu gak keberatan," ucap Haidar lagi. Berharap boleh, kan?


Katakan iya, please! batin Haidar.


Yumna terdiam. Biasanya dia akan berangkat bersama dengan Papa Bima ke kantor setiap hari, terkecuali jika Bima sedang berada di luar kota.


Yumna mengalihkan tatapannya ke arah pintu rumah, dia sangat tahu jika ada yang mengintip dari balik tirai, terbukti saat dia menoleh ke sana, tirai itu bergoyang.


"Tidak mau, ya?" tanya Haidar dengan lesu. Sedikit kecewa karena Yumna tidak lantas menjawab.


"Eh, bukan begitu. Aku harus minta izin dulu sama Mama dan Papa," jawab Yumna. Yumna merasa tidak enak hati karena pertanyaan Haidar itu.


"Aku minta izin dulu, deh." Ucapan Yumna kini membuat Haidar terbit senyumnya. Meskipun dia tidak tahu jika Yumna akan di beri izin atau tidak oleh kedua orangtuanya, tapi setidaknya dia sudah berusaha, bukan?


"Kamu tunggu, ya." Pinta Yumna dengan dada yang membuncah senang. Haidar menganggukkan kepalanya.


Dua orang yang berada di dalam sana mengintip Yumna dan pria itu, kini berbalik arah saat kakak tertuanya berjalan ke arah rumah. Mereka terkejut karena ternyata bukan hanya mereka berdua saja yang mengintip, Arkhan, Mama Lily dan juga Papa Bima juga ternyata ada di belakang mereka.

__ADS_1


Segera saat Yumna mendekat, kelima orang itu segera menghambur ke tempat semula.


__ADS_2