YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
232. Sikap Yang Tidak Biasa


__ADS_3

Haidar dan Yumna bertemu di sore hari, mobil yang mereka tumpangi kini sedang berjalan menembus ramainya kendaraan. Pemandangan yang ada di depan mereka sudah bukan pemandangan yang aneh lagi, macet di mana-mana dan sulit untuk bergerak. Suara klakson kendaraan saling bersahutan satu sama lain, tidak jarang juga umpatan kekesalan dan keluhan yang keluar dari mulut para pengendara terdengar kesal.


Haidar menghembuskan napasnya sedikit kasar. Jika biasanya dia menikmati waktu macet seperti ini bersama dengan Yumna, tapi kali ini dia benci hal ini. Tangan Haidar terkepal, tidak sabar menunggu lampu berubah hijau dan kendaraan bergerak maju.


Yumna, dari tempat duduknya bisa melihat jika Haidar sedang ada di dalam kondisi yang tidak baik. Klakson mobil ditekan dengan tidak sabaran oleh pria yang kini duduk di sampingnya. Yumna hanya terdiam, sedikit tidak nyaman juga melihat raut wajah Haidar yang seperti itu.


Tin. Tiiinnn!


Suara klakson panjang terdengar sangat jelas, dan pelakunya adalah Haidar. Yumna sedikit tidak mengerti dengan apa yang sedang Haidar rasakan saat ini. Tidak pernah dirinya menemui sikap Haidar yang seperti ini sebelumnya.


"Sabar lah. Jangan emosi." Yumna mengelus pundak Haidar. Mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membuat Haidar menjadi tenang.

__ADS_1


"Kenapa jalanan harus macet seperti ini, sih?" gumam Haidar kesal. Dia menekan kembali klakson dan memukul kemudi.


"Haidar, tenang lah. Kamu kenapa sih? Gak biasanya kamu emosi kayak gini? Apa kamu punya masalah?" tanya Yumna dengan menatap Haidar lekat. haidar mengalihkan tatapannya pada Yumna. Saking kesalnya, dia sampai lupa jika di sampingnya ada Yumna.


"Eh, iya. Maaf. Maafkan aku. Ini, aku cuma kesal saja sama lampu merah, kenapa sangat lama sekali?" geram Haidar. Yumna kembali tersenyum dan mengelus pundak pria itu dengan lembut.


"Kesal sama lampu merah? Kamu ini ada-ada aja, deh!" ujar Yumna, dia sengaja tertawa kecil untuk mengembalikan mood Haidar.


"Maaf. Gak biasanya aja lampu merah itu lama sekali." sangkalnya.


"Kamu kenapa sih? Apakah ada masalah sampai kamu sebal seperti ini?"

__ADS_1


Haidar terdiam sejenak, dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Maaf, aku hanya sedang bingung saja."


"Bingung kenapa? Kamu bisa cerita sama aku, Haidar. Aku akan dengarkan," ucap Yumna. Haidar kembali terdiam. Apakah dia akan mengatakan hal yang sedang menjadi gundah di dalam hatinya?


Yumna melirik ke arah Haidar, lampu jalanan telah berganti kuning lalu hijau, kendaraan telah kembali melaju dengan teratur, pun dengan Haidar yang kini melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Yumna tidak lagi berbicara, dia hanya diam memperhatikan jalanan ramai yang ada di depannya seraya banyak berpikir dengan apa yang terjadi. Apakah Haidar berperilaku seperti ini karena dia sudah berpikir akan kesibukannya nanti? Atau, apakah Haidar tidak ingin melanjutkan permintaan Papa Bima, mengingat apa yang Papa Bima minta adalah hal yang sulit! Cahaya Buana tidak mudah untuk ditembus sembarangan orang!


Mereka terdiam hingga mobil kini berhenti pada sebuah toko. Haidar keluar dari dalam mobilnya dan dengan cepat berputar, membukakan pintu mobil Yumna yang sedang melepaskan seatbelt-nya.

__ADS_1


"Kita, ngapain ke sini?" tanya Yumna bingung.


__ADS_2