
"Bagaimana, Pi? Apa Haidar mau menjemput Yumna?" tanya Mitha saat Arya baru saja turun dari lantai atas.
Arya menjatuhkan dirinya di sofa, dan menyandarkan punggungnya. Dia hanya terdiam.
"Pi. Mami tanya kok diam?" Mitha menggoyangkan tangan suaminya menunggu jawaban.
Arya menggelengkan kepalanya.
"Haidar tidak mau?" tanya Mitha.
"Haidar tetap keukeuh ingin dengan Vio." ucapan Arya membuat Mitha naik darah dengan cepat hingga ke otak.
"Argght. Anak itu .... Benar-benar keras kepala!" Mitha gusar, dia berdiri hendak menyusul Haidar ke kamarnya, tapi segera di tarik tangannya oleh Papi Arya hingga wanita cantik itu kembali terduduk di tempatnya tadi.
"Jangan, Mi. Biarkan saja Haidar." ucapan Arya membuat Mita semakin geram, melotot tajam pada suaminya. Apa maksudnya dia?
"Jadi Papi setuju Haidar sama wanita itu?" tanya Mitha meradang.
"Papi bilang, Papi akan setuju kalau Mami salah sangka terhadap Vio."
Mitha semakin membulatkan matanya. Tak terima.
"Jadi Papi nuduh Mami fitnah wanita itu? Iya?!" tanya Mami. Dia benar-benar marah dengan penuturan suaminya ini.
"Papi keterlaluan! Sama istri sendiri gak percaya?!" Mitha benar-benar geram sekarang. Wajahnya berubah merah.
"Tentu aja enggak, Mi. Papi bukannya nuduh Mami fitnah dia!" jawab Arya mencoba menenangkan istrinya. Mitha menatap suaminya tak mengerti.
"Tidak akan semudah itu. Haidar harus melihat apa yang sebenarnya terjadi supaya anak itu sadar kalau dia mencintai wanita yang salah. Coba Mami lihat dia sedari dulu bagaimana. Dia tidak pernah percaya, karena tidak pernah melihat sendiri bagaimana wanita itu." ujar Arya.
Mitha menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Mami tidak suka dengan Vio, Pi. Dia itu dari dulu tidak tulus kepada Haidar. Mami tidak tahu apa yang Haidar lihat dari dia. Ah... Anak itu... Kenapa dia tega membohongi kita.” sesal Mitha.
“Mami kan tahu dari dulu Haidar memang seperti itu. Vio itu cinta pertamanya. Mungkin karena itulah Haidar susah melepaskan dia."
"Lalu kita harus bagaimana? Apa kita sewa detektif untuk membongkar keburukan dia!”
"Mami yakin dia berkhianat dari haidar?” tanya arya sekali lagi.
"Mami yakin, Pi. Bukan hanya sekali dua kali lo mami lihatnya.” ujar Mitha.
"Haidar terlalu suka dan terlalu cinta dengan Vio. Dia harus melihat sendiri buktinya supaya dia sadar.”
"Bagaimana caranya? Masa kita hanya diam saja?” tanya Mitha.
"Haidar tidak peduli dengan bukti yang mami kasih. Yang ada dia akan benci dengan Mami kalau kita terlalu ikut campur dengan urusan dia. Dia pasti tidak akan percaya. Kita biarkan saja dia dulu. Jika dia semakin keterlaluan kita akan bergerak.” ucap arya.
Kedua pundak Mitha merosot ke bawah. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Sekarang saja sikap Haidar padanya seperti itu apalagi nanti?
...*...
Malam ini Arya dan Mitha pergi ke rumah keluarga Mahendra. Mereka harus meluruskan kejadian ini.
Bima dan Lily menyambut kedatangan Arya dan Mitha. Tidak ada Haidar bersama mereka. Ada secuil rasa kecewa di hati Bima dan Lily. Harusnya Haidar datang kepada mereka. Bagaimanapun juga dia bersama orang tuanya dulu yang meminta Yumna, harusnya dia juga mengembalikan Yumna dengan baik-baik.
Mereka duduk dan berbicara diruang kerja Bima. Ini pembicaraan yang bersifat pribadi mengenai rumah tangga Yumna. Bima dan Lily tidak ingin ketiga anaknya yang lain mendengarnya.
"Maafkan anak kami bima. Dia salah. Kami sebagai orang tuanya tidak tahu kalau mereka melakukan perjanjian pernikahan ini. Kami sungguh minta maaf!” ucap Arya kepada bima. Dia merasa tidak enak hati kepada besannya ini. Begitu juga dengan Mitha. Dia menunduk malu. Wajah yang biasanya ceria kini terlihat sendu.
"Ini bukan hanya salah Haidar, tapi Yumna juga.” Lily menatap putrinya yang duduk di antara mereka. Yumna hanya menunduk. Dia salah. Hari ini dia benar-benar akan di sidang oleh kedua pasang orang tua ini. Yumna meremas ujung bajunya hingga kusut.
"Aku minta maaf sama Mama dan Papa begitu juga dengan Mami dan Papi, kami memang salah. Maafkan kami!" ucap Yumna penuh sesal. Rasanya dia sangat berdosa sudah membohongi mereka. Bukan hanya mama dan papanya, kedua mertuanya, tapi juga semua anggota keluarga, teman dan sahabatnya.
Bima dan Lily hanya diam menatap Yumna. Rasanya tidak tega juga, disini buka hanya Yumna yang salah, Haidar juga. Tapi pria itu sama sekali tidak gentle, dia tidak datang kemari.
Mitha menatap Yumna dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Yumna, maukah kamu kembali ke rumah kami? Mami sangat kangen sama kamu.” ucap Mitha.
Yumna hanya terdiam, masih menunduk. Lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf, Mi. Yumna nggak bisa.” ucapan Yumna memupuskan harapan Mitha.
"Tapi Mami suka sama kamu. Mami sayang sama kamu. Tidak bisa kah kalian mencoba untuk bersama?" Tanya Mitha tak mau menyerah.
Yumna masih terdiam. Dia masih menundukkan kepalanya. Hatinya sakit melihat Mami Mitha yang memohon padanya.
Mitha bangkit dan mendekat ke arah Yumna. Dia duduk di samping Yumna. Memegang erat tangan Yumna.
"Nak. Apa kamu tidak punya rasa pada Haidar?" tanya Mitha. Tinggal selama dua bulan lebih bersama mungkin saja ada setitik rasa di hati Yumna pada putranya. Bisa jadi, bukan?
Yumna menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Mi. Sepertinya Yumna harus membuat Mami kecewa. Perasaan Yumna sama Haidar hanya sebatas teman, tidak lebih. Lagipula, Haidar sudah ada Vio. Dia sangat suka dengan Vio. Yumna tidak akan bisa menggantikan dia." ucap Yumna.
"Bisa Yumna. Mami yakin seiring waktu Haidar bisa melepaskan Vio! Mami yakin. Haidar hanya butuh waktu sebentar lagi untuk bisa lebih memilih kamu!" Mitha keukeuh dengan keinginannya.
"Maaf, Mbak Mitha. Tolong jagan paksa Yumna. Biarkan Yumna memilih jalannya sendiri." Bima akhirnya berbicara.
"Mas. Aku gak ingin anak-anak kita cerai! Aku gak mau Haidar sama Vio, dan aku juga gak mau Yumna jadi janda. Biar kami yang akan mengurus Yumna!" Arya sudah menenangkan Mitha tapi wanita itu tidak mau mendengarkan.
"Jangan korbankan perasaan anak kami hanya untuk keegoisan kalian!" Ucap Bima dingin.
"Bagaimana kalau Haidar tidak pernah berubah? Harus berapa lama Yumna menunggu untuk hal yang tidak pasti?" tambahnya lagi. Semua terdiam. Begitu juga dengan Mitha. Meskipun yang di katakan Bima memang benar adanya, tapi Mitha tetap tidak rela.
"Tolong, Mbak. Mbak Mitha juga seorang wanita. Pastinya lebih mengerti dengan perasaan Yumna." Mitha menangis tersedu mendengar kalimat Bima. Serasa menusuk hatinya. Iya memang dirinya wanita. Dan dia hanya ingin menantu kan Yumna.
"Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan kalian?" Kali ini Arya yang berbicara setelah dia hanya diam dan mendengarkan. Sepertinya para laki-laki ini lebih bisa berfikir dengan tenang daripada para wanita, yang lebih banyak menggunakan emosi perasaannya.
"Kami akan tetap bercerai!" lirih Yumna.
Mitha dan Lily sama-sama merasa perih di hatinya. Tak menyangka jika anak-anak mereka akan melepas status pernikahan di usia yang masih muda.
Dia jelas merasakan apa yang Yumna rasakan. Sepertinya ini adalah karma baginya, karena melakukan hal seperti itu di masa lalunya.
Mitha mengusap air matanya. Dia merasa tidak terima saat Yumna mengatakan hal itu. Baginya hanya Yumna menantu yang akan ia akui. Tidak dengan Vio.
Bima dan Lily terdiam. Mereka mendengar Yumna berbicara dengan sangat tegas, tapi raut wajahnya seakan berkata lain. Ada bias kekecewaan dan kesedihan disana. Mungkinkah Yumna...
Ah... Tiba-tiba saja hatinya merasa takut. Dia pernah ada dalam posisi itu. Tinggal bersama Lily hampir satu tahun hingga akhirnya dia merasakan rasa yang lain di hatinya. Berkhianat pada Dena.
Ah... entahlah. Sebenarnya dia ini berkhianat pada siapa? Dena kah? Atau Una kah?
Mitha dan Arya akhirnya pulang ke rumah dengan penuh rasa kecewa.
Yumna kembali ke kamar. Hatinya merasa sakit saat melihat Mitha dan Arya lagi-lagi memohon.
Apakah dia haris kembali ke rumah itu? Tidak. Meskipun iya dia rindundengan segala hal di rumah itu, tapi sepertinya dia tidak perlu kembali. Haidar sudah memutuskan menerima perceraian ini.
Dadanya terasa sakit, serasa ada yang mencubitnya. Cerai ....
Dia akan menjadi janda di usianya yang masih muda.
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanpa sadar Yumna bergumam. Lalu menepis segala pemikiran yang sudah dua hari ini hinggap di kepalanya.
Yumna berfikir. Apa mungkin memang benar apa yang di katakan Mami Mitha. Dia ada rasa dengan Haidar?
"Tidak mungkin!" bertanya sendiri, dan dia jawab sendiri.
Aku tidak mungkin suka dengan dia!
Lily pergi ke kamar Yumna setelah mengantar kepergian besannya. Dia duduk di samping putrinya yang tengah berbaring tertelungkup
"Yumna." Panggil Lily. Di usapnya punggung Yumna dengan lembut. "Apa kamu yakin tidak merasakan hal lain pada Haidar?" tanya Lily.
__ADS_1
"Apa maksud, Mama?"
"Kamu cinta sama Haidar?" tanya Lily.
Yumna tertawa lirih.
"Tidak, Ma. Yumna hanya menganggap dia hanya teman. Hanya teman berdebat, tidak lebih!" ucapnya.
Yumna beralih pada pangkuan sang mama. Di elusnya kepala Yumna dengan sayang.
"Maafin Mama, Sayang. Seharusnya Mama tidak memaksa kamu untuk menikah." Lagi-lagi Lily meminta maaf pada putrinya.
"Aku juga. Aku minta maaf karena sudah membohongi kalian semua."
Yumna menangis terisak di pangkuan Lily. Lily pun sama. Dia mengusap air mata di sudut matanya.
...*...
Haidar baru saja pulang, entah dari mana. Mitha sudah menunggunya sedari tadi dengan perasaan marah
"Haidar! Dari mana saja kamu?" tanya Mitha emosi.
"Kerja!" jawab Haidar sambil berlalu dari hadapan Mitha.
Mitha berdiri dengan perasaan marah. "Kerja?! Kerja apa kamu baru pulang jam segini? Sekretaris kamu juga bilang tadi kamu pulang dari sore! Dari mana saja hahh?!" Mitha meradang apalagi saat Haidar mengacuhkannya. Dia tidak tahu putranya ini dari mana hingga pulang hampir tengah malam.
"Haidar!" teriak Mitha.
Haidar berhenti melangkah dan memutar tubuhnya menghadap sang mama.
"Apa sih, Mi?!"
"Jawab Mami! Dari mana kamu?! Mami kan sudah bilang sama kamu kita harus ke rumah Yumna, kenapa kamu gak? pulang, hah?!" suara Mitha menggema di dalam ruangan sepi itu. Arya yang mendengar istrinya berteriak-teriak segera keluar dari dalam kamar.
"Mami dan papi kan sudah kesana. Semua sudah clear kan?" tanya Haidar lalu kembali melangkahkan kakinya ke atas.
"Haidar!!" jerit Mitha frustrasi.
Haidar benar-benar malas meladeni mami. Dia lebih baik menenangkan dirinya dan tidur.
Arya mendekat pada Mitha, dan menarik tangan istrinya ke dalam kamar.
"Mami kenapa sih. Jangan teriak- teriak terus. Gak baik untuk kesehatan Mami!" tegur Arya.
"Mami gak tau lagi deh harus bicara bagaimana sama anak itu. Papi juga, selalu bela Haidar!"
"Papi gak bela Haidar. Papi cuma gak mau Mami terus-terusan stress menghadapi anak itu!" ucap papi.
Berbeda dengan kedua orang tuanya yang berdebat, Haidar memilih membaringkan dirinya di ranjang.
'*Haidar! Kalau mau tidur mandi dulu. Bau!'
'Itu tas dan sepatu jangan ditaruh sembarangan! Simpan di tempatnya!'
'Ya ampun, Haidar! Ini handuk basah, kenapa disimpan disini?'
'Kaos kaki bau simpan ke kamar mandi*!'
Haidar tertawa sendiri, mengingat ocehan Yumna selama ini.
Dia merasa sepi dengan kepergian Yumna. Tidak ada lagi yang mengomelinya.
Haidar lantas bangkit dari pembaringannya. Dia mengambil sepatu, tas, dan dasinya yang tadi ia lemparkan. Lalu menyimpamnnya pada tempatnya.
Haidar bergegas untuk mandi. Dia menyalakan kran air hingga mengucur membasahi kepalanya.
Rasanya sungguh aneh. Tidak ada Yumna. Aneh!
__ADS_1
Serasa ada sesuatu yang berlubang di dalam dadanya.