YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
356. Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Suara telepon terdengar dengan sangat nyaring saat Haidar tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dia yang tadinya enggan untuk mengangkat panggilan tersebut mengalihkan tatapannya karena merasa terganggu dengan asal suara itu.


"Eh, Papa Bima?" ujar Haidar, antara senang dan tidak dia mendapatkan panggilan dari mertuanya itu. Dalam hatinya dia tidak ingin mendapati omelan lagi darinya, tapi bagaimana jika panggilan telepon itu karena hal yang sangat penting? Misalnya Yumna?


Akhirnya, mau tidak mau Haidar mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Bisa kamu datang ke rumah malam ini?" tanya Bima dengan nada dingin.


"Bisa, Pa," jawab Haidar tanpa berpikir lagi.


"Jam tujuh malam. Jangan terlambat," ucap laki-laki itu kemudian mematikan panggilannya dengan sepihak.


Haidar menelan ludahnya dengan susah payah. Bima bicara dengan nada dingin seperti itu membuatnya bertanya-tanya di dalam hati. Ada apa gerangan mertuanya itu memanggil dirinya.


"Astaga!" ujar Haidar menepuk keningnya, dia lupa jika malam ini ada janji dengan Darren dan juga Ben. Haidar segera menghubungi salah satu dari dua sahabatnya itu untuk membatalkan janji mereka.


...***...


"Mau kemana, Haidar? Kamu pergi lagi?" tanya Mitha yang mendapati anaknya sudah berpakaian rapi.


"Iya, Mi. Mau ke rumah Papa Bima," ucap Haidar lesu.


"Loh, ada apa kamu disuruh ke sana?"

__ADS_1


"Nggak tau. Suruh ke sana aja malam ini," ucap Haidar.


"Oh, ya sudah. Sampaikan salam Mami dan Papi buat Papa Bima ya. Lain kali Mami akan datang buat berkunjung ke sana," ujar Mitha.


"Iya, Mi."


Haidar berjalan dengan lunglai pergi ke luar dari rumah itu.


"Pi, Haidar pasti akan diomeli lagi," ucap Mitha yakin.


"Nggak apa-apa, anak kita laki-laki. Biar dia belajar menjalani hidup yang perih, jangan cuma enaknya aja sedari dulu." Papi Arya berkata kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Mitha hanya diam saja menatap ke arah di mana Haidar sudah tidak ada di sana.


...*...


"Semoga ada kabar baik, deh," ucap laki-laki itu. Mobil dia lajukan ke dalam rumah dan segera disambut oleh penjaga di rumah itu.


Haidar masuk ke dalam rumah, sudah ada beberapa anggota keluarga Mahendra yang duduk menunggu di ruang tamu. Haidar merasa seperti ada yang menggelayuti pundaknya sehingga dia merasa berat untuk melangkah.


"Selamat malam," ucap Haidar menyapa semua yang ada di sana.


Papa Bima hanya mengangguk saja dengan lirikan mata yang sinis nan tajam, membuat Haidar ciut seketika.

__ADS_1


"Malam, Haidar. Duduk," ucap Lily.


Haidar mengangguk dan membungkukkan tubuhnya melewati beberapa orang yang ada di sana dan duduk di kursi yang kosong. Ludahnya serasa menggumpal dan tidak bisa dia telan ke tenggorokannya. Bima, Lily, Arkhan, dan juga Syifa ada di sana.


"Ada apa Papa suruh saya ke sini?" tanya Haidar yang sudah duduk di kursinya, dia tidak nyaman dengan tatapan orang-orang itu.


"Kenapa? Kamu keberatan saya panggil kamu ke sini?" tanya Bima. Haidar segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tentu saja nggak. Cuma, apa ada yang penting?" tanya Haidar.


"Iya, tentu saja. Apa kamu sudah mencari anak saya dengan benar?" tanya Bima. Haidar benar-benar tidak bisa menahan degup jantungnya, dia yang sudah beberapa lama mencari dan tidak juga mendapatkan hasil untuk menemukan sang istri.


"Saya sudah berusaha mencarinya, tapi saya tidak bisa menemukan Yumna, Pa."


"Apa kamu menyesal dengan kelakuan kamu? Mana janji kamu yang dulu kamu bilang sama saya kamu akan bahagiakan Yumna? Akan menjaga Yumna, dan akan menyayanginya?" tanya Bima dingin membuat Haidar menciut.


"Maafkan saya, Pa. Saya sudah mencari Yumna sebisa saya, tapi memang saya belum bisa menemukan Yumna," ucap Haidar.


"Saya sangat menyesal karena sudah membuat Yumna sakit hati, saya menyesal karena tidak memperhatikan perasaan Yumna. Saya salah," ucap Haidar menunduk dalam-dalam.


Bima menghela napasnya dengan berat. Haidar yang sadar dengan suara helaan napas ayah mertuanya itu semakin merasa tidak enak hati.


"Haidar!"

__ADS_1


Suara seseorang terdengar di belakang Haidar, segera laki-laki itu menolehkan kepalanya dan ternganga melihat seseorang yang ada di sana.


"Yum-Yumna!"


__ADS_2