
Haidar bersiap untuk pulang, dia baru saja masuk ke dalam mobilnya. Entah kenapa, hari ini moodnya sedang tidak baik sama sekali. Dia merasa kesal luar biasa. Dia mengeluarkan hpnya dan menelfon Vio.
"Kamu dimana, Vi?" tanya Haidar.
'Lagi pemotretan, ada apa sayang, tumben telfon?' tanya Vio di seberang sana.
"Aku ingin bertemu, bisa?" tanya Haidar lagi.
'Oh datang saja, aku ada di studio.' ucap Vio.
Haidar mengembangkan senyumnya. Dia segera menyalakan mobilnya dan segera meluncur ke jalanan.
Haidar sudah sampai di studio dimana Vio sedang melakukan sesi pemotretan, gadis itu sangat cantik berbalutkan gaun pengantin dengan belahan dada rendah dan rok yang mengembang di kakinya. Tubuhnya yang tinggi dan ramping membuat dia terlihat sangat elegan memakai gaun itu. Rambutnya di ikat di belakang dengan bagian sedikit menjuntai di depan di buat ikal. Sebuah tiara indah berkilauan terkena lampu, di atas kepalanya. Riasan yang natural melekat di wajah cantiknya
Haidar tersenyum di tempatnya. Akan sangat cantik lagi kalau Vio ada di pelaminan bersamanya.
"Haidar!" Vio berseru setengah berlari seraya mengangkat gaun bagian depannya saat melihat Haidar datang dengan seikat bunga. Fotografer dan asistennya hanya menggelengkan kepalanya, melihat gadis itu tengah kegirangan saat kekasihnya datang. Kebiasaan! Meninggalkan sesi pemotretan saat sedang serius-seriusnya!
"Akh!" Vio memekik saat kakinya menginjak gaun, dia hampir terjatuh kalau saja Haidar tidak sigap menangkapnya. Tanpa mereka sadar kamera tengah mengarah pada mereka dan mengambil gambarnya. Dia tersenyum lalu segera mengambil gambar lainnya. Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Di luar ruangan kembali orang itu melihat hasil tangkapan gambarnya, melihatnya satu persatu dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.
"Ah, maaf Haidar. Kakiku tersandung!" ucap Vio. Haidar membantu Vio berdiri, lalu memberikan bunga mawar merah itu untuk kekasihnya.
"Tidak apa-apa. Ini untuk kamu. Kamu cantik sekali!" Haidar terpana akan kecantikan kekasihnya.
Vio tersenyum malu-malu.
"Mana kejutanku?" tanya Vio yang membuat Haidar menegang. Satu tangannya menengadah pada Haidar.
Kejutan? Aku lupa!
Haidar menggaruk belakang kepalanya.
Vio mengerucutkan bibirnya. Kesal. Tidak biasanya pria itu melupakan yang sudah ia janjikan.
"Jangan begitu. Jelek!" Haidar menjepit hidung Vio. Vio menepis tangan Haidar dari hidungnya
"Aku akan kasih tahu kamu kalau aku sudah mendapatkannya, oke?" tanya Haidar. Vio mengangguk.
__ADS_1
"Ini baru gadisku!" Haidar menjepit dagu Vio dan mendekatkan wajahnya.
"Ekhemm!!" suara deheman asisten Vio menyadarkan keduanya. Haidar segera menjauhkan dirinya dari Vio.
"Maaf mengganggu. Tapi pemotretan belum selesai. Bisa tidak biarkan artis kita ini selesaikan dulu pekerjaannya. Setelah itu terserah kalian mau apa, aku tidak akan mengganggu." ucapnya mengingatkan.
Haidar terpaksa melepaskan Vio kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia hanya menjadi penonton yang duduk melihat badan itu meliuk-liuk di depan kamera.
Haidar terus menyunggingkan senyumnya. Lagi-lagi dia berkhayal jika hari itu tiba. Hari dimana dia dan Vio berada di pelaminan. Berdiri berdua dengan anggun, menjadi perimadona sehari. Cantik dan tampan.
Apa lagi saat dia mendengar istrinya sangat cantik.
'Ya. Yumna sangat cantik. Apalagi jika dia sedang tersenyum, maka keindahan dunia pun kalah dengannya!'
Eh?!
Haidar menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kenapa jadi teringat dengan Yumna? Ini tidak bisa dibiarkan!
Haidar menepuk kepalanya beberapa kali, mencoba menghalau bayangan itu.
__ADS_1
Fokus. Fokus Vio. Bukan Yumna!
Jelas-jelas Vio sedang ada di hadapannya, kenapa jadi bayangan Yumna yang mengganggunya?