YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
58. Dunia Serasa Milik Berdua


__ADS_3

Ting.


πŸ’Œ Vera.


Cieeee yang sedang honeymoon πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™


πŸ’Œ Sisil


Aku kangen 😭😭😭


πŸ’Œ Vera


[Aku kangen 😭😭😭]


Lebay! πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’


πŸ’ŒYumna.


[Cieeee yang sedang honeymoon πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™]


Apaan sih? 😠


πŸ’Œ Rania.


Aduuh.... APAAN katanya?! Bilang aja kalau kita ganggu?! 🀣🀣🀣


πŸ’Œ Vera.


Ih Yumna sadis ya?πŸ€”


πŸ’ŒRania.


Sadis di ranjang 🀣🀣🀣


πŸ’ŒSisil.


Gila banget! πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ Rania πŸ‘Š


πŸ’ŒYumna.


Kalian berisik banget deh, gak ada kerjaan ya? 😑


πŸ’ŒVera.


Hehe, kerjaannya gangguin kamu! ✌


πŸ’ŒYumna


πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’


πŸ’ŒVera


Mau aku kirimin gak contoh yang lain?


πŸ’ŒSisil


Paan tuh?


πŸ’ŒRania


Bagi dong!!


πŸ’ŒVera


🎬


🎬


🎬


🎬


Tinggal pilih!


πŸ’ŒRania.

__ADS_1


[🎬]


OMG!!!πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š


πŸ’ŒSisil.


[🎬]


Mantep aaahh.... πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


πŸ’ŒYumna.


Kalian rese!


πŸ‘ŠπŸ‘ŠπŸ‘ŠπŸ‘ŠπŸ‘ŠπŸ‘ŠπŸ‘ŠπŸ‘Š


Yumna menyimpan hp di dalam saku celananya. Suara notif terus saja terdengar dari sana. Wajahnya merah akibat tadi dia mengintip sedikit video yang Vera kirimkan di grup mereka berempat.


'Anak itu... bahkan aku yang sudah nikah juga gak punya video 18+ kayak gitu!' gumam Yumna.


Dia lalu berjalan menuju ke arah kamarnya.


Yumna terdiam sebentar, tangannya sudah memegang handle pintu, namun ia serasa melihat sesuatu di ujung lorong. Seorang pria dan wanita sedang berpelukan dan berciuman, tapi wajah mereka tak jelas karena penerangan yang remang-remang.


"Ya ampun! Padahal kalau mau mesra-mesraan tinggal masuk aja ke dalam kamar!" gumam Yumna.


Haidar menatap langit-langit kamarnya. Dia menunggu Yumna yang sedari tadi keluar namun belum kembali ke kamar.


"Dia lagi apa sih? Kemana? Keluar kok lama banget!" Melihat ke arah jam di dinding. Sudah hampir satu jam Yumna keluar. Dia sudah merasa mengantuk tapi hatinya tidak tenang sampai-sampai Haidar hanya menngulingkan dirinya ke kanan dan ke kiri, entah kenapa!


"Jangan-jangan..." Haidar bangkit duduk seketika mengingat sesuatu di kepalanya.


"Jangan sampai Yumna ketemuan lagi sama cowok itu!" Tangannya sudah terkepal di kedua sisi tubuhnya. Dia merasa marah saat ingat Yumna yang tersenyum lebar pada pria asing itu siang tadi. Apa lagi saat pria itu menunjuk hidung Yumna, mereka terlihat sangat mesra.


Haidar bangkit dari atas kasur.


"Awas aja! Kalau Yumna ketemuan lagi sama dia... Gue kurung dia di dalam kamar!" berbicara dengan mengeratkan gigi-giginya. Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Terlihat di depan sana Yumna yang tengah berdiri menatap ke arah lain. Dia sendirian. Amarahnya seketika mereda, seperti bara api yang baru saja di siram air.


"Yumna, ngapain kamu berdiri di depan pintu?" Tanya Haidar yang merasa senang kalau yang di tunggu sudah datang! Senyum tak nampak tercetak di bibirnya.


Yumna tersadar, dia menoleh pada Haidar.


"Eh itu, disana. Gak sopan banget orang ciuman di depan kamar." tunjuk Yumna, tapi saat dia menoleh kembali yang di tunjuk sudah tidak ada.


"Mana?" tanya Haidar dia melongokkan kepalanya keluar dari sana. "Gak ada juga!"


"Tapi tadi beneran ada!" ucap Yumna.


"Biarin lah. Jangan kepo urusan orang!" ucap Haidar.


"Bukannya kepo! Tapi kan gak sopan banget gitu, ini kan tempat umum. Padahal tinggal selangkah lagi mereka masuk kamar!"


"Ya udah lah, mau dimana pun mereka, kamu jangan usil! Nanti juga kamu bakal ngerasain masa-masa dunia serasa milik berdua!" ucap Haidar. Yumna mencibir Haidar.


"Iya, percaya! Kamu kan pengalaman!" ucap Yumna lalu berjalan masuk melewati Haidar. Haidar merasa dirinya disindir.


"Eh ya, kamu mau kemana?" tanya Yumna.


"Mau... itu... emm...jalan-jalan keluar!" tunjuk Haidar lalu berjalan ke luar kamar dan menutup pintu.


Yumna terdiam melihat pintu itu tertutup rapat.


"Hehh, orang aneh! Keluar pake bathrobe?!" gumam Yumna lalu menyimpan hpnya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Haidar berjalan di depan kamarnya, bolak balik beberapa kali.


"Bodoh! Bodoh! Dia bisa kegeeran kalau aku bilang aku mau cari dia!" memukul kepalanya sendiri. "Mana dingin lagi. Kenapa juga aku lupa masih pake bathrobe?!" dia menatap kain yang di pakainya. Pun dengan beberapa orang yang melewatinya menatap Haidar dengan pandangan aneh.


Haidar berjalan ke arah kamar Vio yang berada tak jauh dari kamarnya, hanya terhalang lima pintu.


"Kalau ke kamar bisa di ketawain Yumna!" gumamnya.


Dia mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu. Tapi urung di lakukan, karena Vio pasti akan marah jika tidurnya terganggu. Besok pagi sebelum matahari terbit dia ada pemotretan di pantai dan kemudian akan di lanjutkan di atas yacht.

__ADS_1


Haidar kembali berjalan meninggalkan kamar Vio, dia melirik ke kamar yang berada di sebelah kamarnya bersama Yumna.


"Ah, kalau aja bawa kuncinya udah masuk ke dalam sana, deh!" gumam Haidar. Lalu dia berjalan lagi dan masuk ke dalam kamar, tak kuat dengan angin yang bersemilir dingin di luaran sana.


Yumna menoleh saat mendengar suara pintu di buka. Terlihat Haidar yang menggigil kedinginan.


"Sudah jalan-jalannya?" ucap Yumna yang sedang duduk berselonjor kaki di atas tempat tidur, tangannya mengambil keripik di pangkuannya lalu memasukkannya ke dalam mulut.


"Hemmm!" jawab Haidar lalu berjalan menuju ke arah ranjang. Dia lantas membaringkan dirinya dan mengambil selimut, menyelimuti dirinya sampai ke leher.


"Ahh...hangatnya!!!" gumam Haidar. Yumna menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Haidar.


Aku kira dia bermalam dengan Vio! Kenapa malah balik lagi? Hati sudah terlanjur senang juga, bisa menikmati kasur sendirian! gumam Yumna. Dia kembali memasukkan kripik yang di belikan Seno tadi sore ke dalam mulutnya


Kraukk.


Kraukk.


Suara itu mengganggu pendengaran Haidar. Dia kembali membuka matanya, dan berbalik. Mendapati Yumna yang tengah ngemil sambil tersenyum menatap layar hpnya.


"Berisik banget deh ih, gue gak bisa tidur!" Haidar merebut bungkusan keripik itu dari Yumna. Lalu dia menyembunyikannya di dalam selimut.


"Ih makanan gue. Balikin!!"Yumna bangkit dan mencari makanan di dalam selimut Haidar.


"Gak mau! Elo berisik kalau lagi makan kayak tikus!"


"Enak aja! Haidar. Balikin makanan gue gak?"


"Gak!"


Yumna bergerak hendak merebut makanannya sedangkan Haidar mempertahankan makanan itu di dalam selimutnya, alhasil keduanya bergelung di dalam sana, saling merebut, dan juga mempertahankan. Saling berteriak mencerca satu sama lain. Hingga...


"Aaaakkhhh!!" Yumna terpekik saat Haidar menarik tangannya hingga dia terjatuh di atas tubuh Haidar.


Mereka saling menatap satu sama lain.


Aaah sudahlah... πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’


...β˜…β˜…β˜…...


Satu orang wanita dan seorang pria baru saja masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Di dorongnya si wanita ke daun pintu, lalu si pria memutar kunci yang menggantung di tempatnya. Si wanita memeluk leher pria itu posesif. *******, menghisap, dan saling melenguh dalam kenikmatan. Nafas mereka saling berhembus penuh nafsu.


"Akkhhhh!!!" memekik karena terkejut saat pria itu menggendongnya ala bridal dan melemparnya di atas kasur, lalu menindihnya di bawah kungkungan tubuh kekarnya. Kembali saling ******* satu sama lain.


"Aku harus pergi!" ucap pria itu melepas tautan bibir mereka.


"Pergi? Begitu saja?!" protesnya, bangkit dan duduk menatap pria di depannya.


"Bagaimana kalau Haidar datang kesini, dan melihat aku ada disini?" ucap pria itu.


"Dia tidak akan datang kesini! Percayalah!" melingkarkan kedua tangannya di leher sang pria.


"Benarkah?" wanita itu mengangguk.


"Karena aku selalu melarangnya menggangguku saat aku tidur."


"Kenapa?"


"Karena percuma juga! Dia sering menginap tapi tidak pernah menyetuhku! Memangnya aku bisa tahan menahan gejolak nafsu pada diriku? Tubuhnya seksi, kuat, tapi dia membuaku tersiksa karena tidak bisa merasainya!"


Pria itu tersenyum.


"Dia sangat cinta sama kamu!"


"Ya, benar. Dia sangat cinta sama aku!" Bangkit dan duduk di pangkuan pria itu, menggesekkan dada besarnya pada dada bidang laki-laki itu.


"Dan kamu juga cinta sama dia?" tanyanya lagi. Dia mengangguk.


"Aku memang cinta sama dia, tapi aku juga cinta dengan tubuhmu!" Mendekat, mencium leher si pria dan memberikan warna merah disana. Dia memasukkan tangannya ke dalam kaos si pria itu. Menggoda tonjolan kecil yang berada disana hingga si pria melenguh nikmat. Tersenyum senang karena wanita di hadapannya selalu saja bisa memuaskan dirinya.


Di tahannya tangan Vio, dan dia tarik keluar membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya.


"Kalau kau cinta dengan tubuhku, maka buktikan sebesar apa kau mencintai tubuh ini!" ucapnya sensual.


Vio tersenyum mendengar perkataan pria di depannya. Dia mendorong pria itu dan naik ke atas tubuhnya. Meloloskan kaos si pria dan melemparnya ke lantai. Begitupun dengan si pria, dia menarik resleting di gaun seksi milik kekasih gelapnya dan melakukan hal yang sama, melempar semuanya ke lantai.

__ADS_1


AC yang tak di nyalakan membuat udara di dalam kamar itu semakin panas, namun tak menghentikan kegiatan mereka yang menguras tenaga dan keringat.


__ADS_2