YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
338


__ADS_3

Nuansa putih terlihat dengan sangat jelas hingga sejauh mata memandang. Pepohonan yang hijau tertutup lembutnya salju yang jatuh di atas daun dan dahannya, sedikit condong dahan itu karena menahan berat. Permukaan tanah kini tertutup dengan kelembutan salju yang selalu turun di musim dingin.


Gunung dan sekitarnya tampak indah saat Yumna menatapnya dari balkon kamarnya. Dia ingin segera pergi untuk bermain salju, tapi tubuhnya lelah setelah beberapa jam perjalanan menuju ke kota ini, karena mereka baru saja sampai dua jam yang lalu.


"Sayang, ayo kita istirahat dulu sebelum bermain salju nanti siang," ucap haidar sambil merapikan bantal untuk Yumna.


Yumna tidak mengalihkan tatapannya dari pemandangan yang ada di luaran sana. Rasanya tidak ingin melewatkan pandangan dari sesuatu yang sudah lama dia idamkan. Sangat indah, dan sekarang dia sudah ada di sini.


"Iya." Akan tetapi, Yumna tidak juga beranjak dari sana sehingga haidar mendekat dan memeluk Yumna dari belakang, dan melabuhkan dagunya di bahu Yumna. Rasa hangat yang berasal dari tubuh keduanya membuat Yumna dan Haidar merasa nyaman. Udara sangat dingin, meskipun mereka sudah memakai pakaian yang tebal pun, rasanya masih tetap menggigil juga.


"Indah, ya," ungkap Haidar, ikut menyanjung pemandangan indah yang ada jauh di hadapannya.


"Hem, ya. Indah banget," jawab Yumna.


"Nggak sia-sia aku tanya sama Tia. Ternyata tempat ini yang kamu inginkan," ucap Haidar.


Yumna mengalihkan tatapannya dari depan dan melihat sang suami.


"Oh, jadi kamu tanya Tia?"


Haidar terkekeh pelan. "iya, aku tanya sama Tia. Maaf, aku nggak sengaja buka chat kamu sama Tia malam itu, jadi aku tanyakan saja. Kenapa kamu nggak bilang sih sama aku pengen liburan ke sini?" tanya Haidar, sedikit sebal sebenarnya, karena mengingat dia mencari tempat ini selama dua hari penuh dan sudah membuat kepalanya pusing.


"Aku takut."


"Takut aku repot dan kamu bikin aku ninggalin kerjaan?" tanya Haidar. Yumna mengangguk.


"Kamu sudah menjadi pemimpin perusahaan, aku takut kamu akan sibuk dan aku juga nggak mau buat maksa kamu pergi."

__ADS_1


Haidar menghela napasnya, terdengar dengan sangat jelas di pendengaran Yumna.


"Aku nggak terpaksa kok, justru sesekali ku juga butuh healing. Aku minta kamu buat jujur sama aku. Kan sudah aku bilang dulu, apa pun yang kamu inginkan kamu harus bicara sama aku. Jangan sampai kamu pendam sendiri. Kamu juga yang bilang kan, aku mana tau isi hati manusia satu sama lainnya. Aku bukan Tuhan, aku hanya manusia biasa. Kamu istriku, aku juga nggak tau kamu inginkan apa."


Yumna terdiam mendengar ucapan sang suami. Meski iya Haidar sering mengatakan hal itu, tapi dirinya tak sampai hati untuk mengemukakan semua yang dia mau kepada Haidar. Bukan karena takut dibilang yang tidak-tidak oleh laki-laki itu, hanya saja takut jika Haidar lebih memilih dirinya daripada tanggung jawabnya pada apa yang dia pegang.


"Kalau begitu, buatkan aku es kepal dari salju," ucap Yumna dengan senyuman yang tidak bisa Haidar abaikan.


"Eh, maksudnya dari salju itu?" tunjuk Haidar heran. Yumna hanya mengangguk saja.


"Yups! Aku pernah lihat acara di TV, kayaknya enak makan salju es pake sirup," ucap Yumna.


Haidar dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Yang benar saja, Yumna. Lebih baik jangan. Aku takut kamu akan sakit perut nantinya. Salju itu kan ...."


"Please, My Hubby!" seru Yumna membalikkan diri sang menatap sang suami dengan puppy eyes-nya.


"Tapi itu ...."


"Oke. Aku akan ambilkan. Tapi gimana aku dapatkan sirup di sini?" gumam Haidar bingung.


"Aku sudah bawa!" seru Yumna, lalu pergi dari hadapan Haidar untuk mengambil sesuatu yang ada di kopernya. "Ini dia!"


Haidar melongo melihat apa yang ada di tangan sang istri. Ternyata Yumna sudah mempersiapkan apa yang dia inginkan.


"Sejak kapan kamu bawa itu? Aku nggak tau," tanya Haidar.


"Waktu kamu selesai packing, aku masukan ini sebelum kita pergi ke bandara," ucapnya sambil tersenyum terkekeh. "Nih! Yang banyak ya, Sayang."

__ADS_1


Haidar pasrah, kini hanya bisa mencari mangkok kecil untuk memberikan apa yang Yumna mau.


"Sayang, tapi salju ini kotor kan?" tanya Haidar sebelum keluar dari rumah kayu yang mereka sewa di dekat pegunungan tempat seluncur salju.


Haidar berjalan di antara tumpukan salju yang belum terlalu tebal sementara Yumna memperhatikan dari teras rumah penginapan tersebut.


"Yang itu. Ambil yang ada di atas pohon," tunjuk Yumna pada pohon dengan banyak salju di dekat Haidar. Meski tidak yakin, tapi Haidar mengambilkannya juga, dia mengambil tidak sampai pada permukaan daun. Takut jika akan kotor. Tak lama dia berhasil mengumpulkan salju yang lembut di dalam mangkok dan kembali ke teras.


"Kayak gini?" tanya Haidar. Dia tidak tahu es kepal yang Yumna maksud seperti apa.


Yumna menerima mangkok kecil tersebut dan memeluknya di depan dada, mencium aroma salju yang dingin di bawah hidungnya. Tangannya sedikit menekan permukaan salju itu hingga sedikit padat, lalu menuangkan sirup berwarna hijau di sana.


"Ahhh, enaaakkk!" Yumna berseru saat satu suapan kecil salju meleleh bersamaan dengan rasa manis melon di mulutnya. Ternyata benar apa yang dikatakan di dalam acara TV tersebut, rasanya lebih lembut dibandingkan dengan es yang diserut oleh penjual es kepal atau es serut. Apalagi dengan pemandangan yang indah dan berhadapan langsung dengan gunung yang menjulang tinggi dan tertutup oleh putihnya salju yang bersih.


Melihat wajah Yumna yang sangat menikmati membuat Haidar yang tadinya mengerutkan keningnya kini mendekat dan ingin mencobanya. Yumna memberikan satu suapan kecil untuk sang suami.


Rasanya aneh, karena ini adalah hal yang pertama kali Haidar rasakan. Memang saljunya sangat lembut dan cepat meleleh di mulut, tapi tetap saja dia berpikir jika bisa saja mereka sakit perut memakan benda ini.


"Terima kasih, My Hubby!" ucap Yumna menarik wajah Haidar dan mencium pipinya lembut. Haidar terharu dan senang dengan perlakuan istrinya ini.


Sesenang inikah dirinya bisa mewujudkan keinginan sang istri? Rasanya indah sekali.


"Kamu tau nggak, Sayang?"


"Apa?" tanya Yumna sambil terus menikmati apa yang ada di tangannya.


"Ternyata sebahagia ini bisa membuat seorang istri senang," ucap Haidar. Yumna menyimpan mangkuk itu di lantai kayu, berdiri dan menarik tangan Haidar.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Haidar bingung.


"Menyenangkan hati suami," ucap Yumna dengan kerlingan di matanya.


__ADS_2