
"Mami mohon sama kamu, Yumna. Kamu mau kan bantu bicara sama Haidar?" tanya Mitha penuh harap pada Yumna. Yumna hanya terdiam dengan apa yang Mami bicarakan barusan.
Aku harus bicara apa? Dan bagaimana aku akan menghadapi Haidar? batin Yumna.
"Apa kamu tega dengan Mami? Bagaimana kalau Mami gak akan punya menantu lagi selamanya? Padahal sih Mami harap kamu menjadi menantu yang pertama dan juga yang terakhir dalam hidup Mami, tapi kalau kamu tidak mau dengan Haidar, ya Mami bisa apa? Sudahlah ... memang hidup Mami jika Mami tidak akan punya menantu lagi dan juga tidak akan punya cucu. Mami bisa apa kalau Haidar juga ingin menduda selamanya?" Mitha dengan nada sedih mengatakan hal itu kepada Yumna, berharap jika Yumna mau kembali dekat dengan Haidar, atau jika tidak, mereka akan saling bicara dan selanjutnya ... Tuhan akan membimbing jalan mereka.
Aku gak rela kalau Yumna gak sama Haidar! Pokoknya mereka harus bisa sama-sama lagi! Apapun dan bagaimanapun caranya! batin Mitha dengan penuh harap.
Yumna menjadi tidak tega dengan apa yang dikatakan Mami Mitha itu. Dia merasa kasihan juga kepada Mitha, apalagi Mitha bicara dengan nada penuh permohonan.
"Iya. Baiklah, Mi. Aku akan bicara dengan Haidar," ucap Yumna akhirnya yang membuat senyum dari bibir Mitha terbit. Mitha merasa senang dengan apa yang dia dengar, lalu dia memeluk Yumna dengan erat.
"Terima kasih banyak Yumna. Mami doakan agar kamu juga dapatkan kebahagiaan kamu," ucap Mitha. Dengan Haidar bukan dengan yang lain, apalagi dengan pria itu, batin Mitha mengingat pria yang bersama dengan Yumna di malam pesta itu.
Mitha dan Yumna kembali dengan kegiatannya memanjakan diri seraya terus bercerita tentang masa kecil Haidar yang selalu saja manja.
"Mami serius Yumna. Mami tau persis dengan sikap Haidar. Dia memang cinta sama kamu. Apa kamu gak bisa memaafkan Haidar dan kembali sama dia?" tanya Mitha saat mereka baru saja selesai melakukan treatment.
Lagi-lagi Yumna hanya diam tidak menjawab. Dirinya bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya ada apa dengan perasaannya ini. Apa dia memang benar menyukai Haidar atau tidak?
"Maafkan Mami. Harusnya Mami tidak membuat kamu bingung. Mami hanya terlalu berharap kalau kamu mau kembali dengan Haidar, tapi Mami juga gak mau maksa kamu, kok!" Mitha tertawa kecil. Dia memang sengaja melakukan hal itu, agar Yumna mau berpikir bolak-balik dengan perasaannya.
"Kita bersihkan diri dulu," ajak Mitha lalu terlebih dahulu berjalan meninggalkan Yumna.
Yumna menatap kepergian Mitha ke ruangan lain. Dia menekan dadanya agak sedikit keras. Detak jantungnya terdengar sedikit cepat dan juga keras karena mendengar apa yang tadi mami bicarakan itu. Sama persis dengan apa yang Haidar katakan malam itu.
Kedua wanita beda generasi itu keluar dari dari tempat mereka memanjakan diri tadi. Tubuh keduanya kini terasa sangat fresh dan juga sangat nyaman, rasa penat yang mereka rasakan akhir-akhir ini seakan hilang begitu saja.
Sebuah mobil hitam mendekat ke arah keduanya. Mitha memang tadi menelepon sopir di rumah untuk menjemput mereka.
__ADS_1
Yumna terpaku melihat mobil yang sangat dikenalnya itu.
"Mami!" Haidar melambaikan tangannya setelah membuka jendela.
"Loh, Haidar? Kok kamu disini?" tanya Mitha dengan bingung.
"Pak Man gak bisa jemput Mami. Tadi Papi telepon minta dijemput di bandara," jawab Haidar.
Yumna memutar bola mata dengan malas. Dia sepertinya tahu jika ini adalah akal-akalan mantan mertuanya ini, sebagai upaya mendekatkan dirinya kembali dengan Haidar.
"Oh, ya sudah. Kita pulang. Yumna, masuk!" Mitha tidak menunggu jawaban Yumna, dia menarik tangan Yumna untuk masuk ke dalam sana.
"Mi, Yumna pesan taksi aja deh," tolak Yumna seraya mempertahankan dirinya, memberatkan tubuhnya agar tidak lagi ditarik oleh Mitha.
"Loh kok pakai taksi? Kan Mami yang bawa kamu kesini, jadi Mami juga dong yang harus antar kamu pulang," ucap mami dengan memaksa Yumna.
"Tapi, Mi ...."
"Benar apa yang Mami katakan itu, Yumna. Lebih baik kamu cepat naik daripada Mami terus merengek seperti anak kecil." Haidar berbicara dari dalam mobil. Yumna kini pasrah. Dia mengangguk dan masuk ke kursi penumpang di belakang Mitha. Beruntung Mitha tidak memintanya duduk di deoan. Apa yang akan terjadi kalau dirinya duduk di samping Haidar?
"Jadi Papi pulang hari ini?" tanya Mitha pada Haidar. Haidar kini mulai melajukan mobilnya ke arah jalanan.
"Iya, urusan Papi sudah selesai," jawab Haidar dengan tidak menoleh kepada Mitha. Haidar sangat fokus pada jalanan di depannya.
"Syukur deh, Mami gak akan kesepian lagi kalau ada Papi."
"Aku kan ada Mi," sungut Haidar.
"Ada dimana? Kamu pulang dari kantor langsung masuk ruang kerja. Apa bedanya ada kamu dan tidak?" tanya Mami dengan nada yang ketus. Coba kalau kamu mau menikah lagi, Haidar. Mami pasti gak akan kesepian." tutur Mitha dengan sebal.
__ADS_1
Yumna yang mendengar pembicaraan kedua orang ibu dan anak itu hanya diam, dia lebih memiih untuk membuka hpnya saja. Lagipula dia tidak ada di dalam pembahasan mereka berdua.
"Yumna, apa kamu mau makan malam dulu bersama dengan Mami?" tawar Miitha membuat Yumna tersentak.
Yumna mengalihkan tatapannya ke arah Mami yang menolehkan kepala.
"Eh, Mi tidak usah. Mama pasti sudah menyiapkan makan malam untuk kami," tolak Yumna dengan halus.
"Oh, ya sudah lah. Lain kali kamuharus mau ya kalau Mami ajak makan malam di rumah," ujart Mitha lagi.
"Iya, Mi." Yumna menjawab, dia lalu menundukkan kepalanya saat tatapannya bertemu dengan Haidar di spion yang ada di depannya.
Haidar tersenyum tipis melihat Yumna yang kini salah tingkah. *A*pa mungkin benar kata Mami kalau Yumna juga suka sama aku?
Banyak pembicaraan yang mereka bahas, Yumna sesekali mereka bawa dalam pembahasan itu, tepatnya Mitha yang menyeret Yumna dalam pembicaraan mereka berdua.
Mobil kini masuk ke dalam pelataran sebuah rumah dan kemudian berhenti di depan teras rumah Kediaman Keluarga Rahadian. Yumna yang sedari tadi hanya bermain hp tidak sadar jika mobil telah membawanya kembali ke rumah yang pernah ia tinggali bersama dengan Haidar.
"Yumna. Mau mampir dulu ke dalam?" tawar Mitha. Yumna melirik ke arah jam di tangannya.
"Ah, sudah lah. Kamu pasti juga ditunggu sama Mama kamu," ucap Mitha lagi.
"Haidar, tolong antarkan Yumna dengan selamat ke rumahnya, ya." Pinta Mami Mitha. Haidar hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Yumna, terima kasih kamu telah mau menemani Mami tadi," ucap Mami pada Yumna seraya melambaikan tangannya pada Yumna yang masih ada di dalam mobil. Yumna pun balas melambaikan tangannya pada Mitha.
Mitha menutup pintu mobil rai luar, sekali lagi dia melambaikan tangannya pada Yumna.
Hah anak itu. Apa bisa berhasil? gumam Mitha.
__ADS_1
"Awas saja kalau tidak berhasil, Mami akan jodohkan kamu sama si gendut itu!" geramnya.