
Lelah sudah pasti pekerjaan yang dia lakukan sekarang ini, di perusahaannya yang dulu tidak ada orang yang berani mengusik karena Yumna adalah anak pemilik perusahaan sedangkan di sini statusnya sama dengan yang lainnya, hanya karyawan biasa.
Yumna kembali ke tempatnya diiringi tatapan kebencian dari wanita yang tadi dia siram, tidak ingin melihat lagi ke arah wanita itu, yang ada Yumna ingin sekali mencabut rambut dari kepalanya setelah dari awal dia masuk hingga sekarang wanita itu dan beberapa yang lain selalu saja memerintahnya dengan seenak jidat mereka. Membeli kopi bukan tugasnya, ada yang lebih bisa disuruh tanpa harus mengganggu pekerjaan sesama karyawan.
"Hei! Anak baru! Beraninya kamu siram aku!" teriak wanita itu tak terima. Dia mendekat pada Yumna, tapi gerakannya ditahan seseorang dan menggerakkan kepalanya menunjukkan atasan yang lewat di dekat ruangan mereka. Semua yang berkumpul di sana kembali ke tempanya masing-masing.
Seorang karyawan baru yang masuk lebih dulu dari Yumna mendekat dengan menjulurkan kepalanya. "Awas loh, dia itu pendendam," ujar wanita yang Yumna kira usianya lebih muda satu tahun darinya.
Yumna mengalihkan tatapannya dari komputer yang masih menyala. "Gak peduli. Dia harus tau batasan!" ujar Yumna dengan nada yang kesal.
"Aku sih bilangin aja, lebih baik kamu jangan melawan, sih. Bisa lebih parah dia kasih balasan," ucap wanita itu lagi dengan pelan, takut jika terdengar dan selanjutnya dia akan diganggu lagi sama seperti dulu sebelum Yumna masuk ke perusahaan ini.
"Gak apa-apa. Coba aja kalau dia lebih parah dari ini, aku akan balas lebih parah lagi!" ujar Yumna sambil tersenyum smirk. Wanita dengan tag name Mira merasa ngeri pada wanita ini. Biasanya tidak ada yang betah dan bertahan lama di sini, sempat dirinya ingin menyerah karena perlakuan senior, tapi mengingat jika mencari pekerjaan itu sulit dan dia sangat butuh sekali uang maka dia bertahan meski rasanya setiap pulang bekerja dia menangis di rumahnya.
"Nanti pulang ada yang jemput gak? Maaf ya, aku sering ninggalin kamu," ucap Mira dengan rasa tak enak hati.
"Gak ada, sih. Gampang lah, taksi banyak kalau gak ada angkutan umum," ucap Yumna tersenyum.
__ADS_1
"Gajian masih lama, loh. Kamu ga takut kehabisan uang kalau sering naik taksi?" tanya Mira lagi.
Yumna tersenyum kecil. "Kalau soal itu ... aku nanti mau ajukan kasbon. Kira-kira boleh gak ya? Hehe," tanya Yumna sambil tersenyum malu.
Mira menggelengkan kepala. "Aku pernah dulu, sebelum enam bulan kerja tuh gak boleh ajukan kasbon."
"Eh, enam bulan? Bukan tiga bulan, ya?" tanya Yumna.
"Bukan, di sini enam bulan kerja, baru bisa ajukan kasbon. Itu pun gak bisa banyak," jawab Mira.
"Ohh, gitu. Baru tau."
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Semua yang ada di ruangan itu telah selesai dengan pekerjaannya, mereka bersiap untuk pulang kini.
Yumna dan Mira berjalan bersama ke arah lift, dari belakang mereka wanita yang tadi Yumna siram berjalan dengan cepat dan menarik tangan Yumna yang hampir terulur untuk menekan tombol lift.
"Eh, ada apa ini?" tanya Yumna dengan terkejut mendapati tangannya ditarik dengan kasar seperti itu.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, cuma mau kasih tau kamu aja. Jangan harap kamu bisa tenang kerja di sini!" ancam wanita itu dengan marah. Dia menghempaskan tangan Yumna dengan kasar sehingga Yumna merasakan sakit pada sendi sikunya.
Wanita itu kemudian berjalan mendahului keduanya masuk ke dalam lift bersama dengan beberapa orang yang lain.
"Kamu gak apa-apa, Yumna?" tanya Mira dengan khawatir. Yumna menggelengkan kepalanya, tangan yang sakit dia pegang erat. Wanita itu kurus, tapi tenaganya lumayan juga sehingga membuat Yumna kesakitan.
"Besok-besok jangan ngelawan lagi, deh. Ngeri kalau sampai dia buat ulah." Mira meminta.
"Sudah lah, jangan pikirin soal itu. Dia boleh semena-mena, tapi suatu saat nanti dia akan kena karma juga," ujar Yumna.
Kini keduanya telah sampai di lobi perusahaan, di luar sudah sangat gelap, tidak ada bintang atau cahaya bulan, tertutup oleh awan yang mendung.
"Aku pulang duluan, ya. Ojek dah jemput," pamit Mira saat ojek langganan miliknya sudah datang. Yumna melambaikan tangannya pada Mira sebelum wanita itu menghilang dengan Kang Ojek langganannya.
Melirik ke arah sekitar, Yumna tidak mendapati orang-orang yang tadi satu ruangan dengannya. Dia segera menghubungi sopir pribadi ayahnya. Tak lama mobil datang dan berhenti di depan Yumna, sekali lagi dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Aman," pikir Yumna, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam sana.
Begitulah setiap harinya, dia akan dijemput oleh sopir pribadi yang menunggunya di tempat lain dan akan mendekat jika suasana sudah kondusif. Sebenarnya Yumna tidak ingin diantar jemput oleh sopir, tapi Bima mengancam tidak akan memberi izin bekerja di sana jika Yumna tidak diantar jemput oleh sopirnya. Sehingga setiap hari saat berangkat bekerja, dia harus turun beberapa puluh meter dari kantornya dan berjalan kaki. Begitu juga saat pulang bekerja. Dia akan melakukan hal yang sama, tidak ingin identitasnya diketahui oleh orang lain.
__ADS_1
"Apa kita akan langsung pulang?" tanya sopir pada Yumna. Yumna yang sedang memainkan hpnya berhenti sejenak, merasa aneh dengan suara sopir yang jelas berbeda dari biasanya.
"Kenapa diam? Apa kita akan langsung pulang?" tanya sopir itu lagi.