YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
330


__ADS_3

Sudah dua hari Yumna ada di rumah, rasanya sangat bosan ketika tidak ada kegiatan sama sekali. Asisten kini datang dua hari sekali, membersihkan dan memasak untuk Yumna. Semua pekerjaan asisten yang pegang, Yumna tidak diperbolehkan untuk memegang pekerjaan karena asisten sudah melakukannya dengan cepat sebelum Yumna turun tangan.


"Mbak, saya bosan," ucap Yumna protes kepada wanita yang usianya tidak jauh darinya.


"Kalau bosan kan bisa nonton drakor, Mbak Yumna," jawab wanita itu sambil mencuci piring yang ada di wastafel.


Percuma saja, Yumna malah semakin kesal jika sudah seperti ini. Dia mengambil lap dan membersihkan meja dapur yang sebenarnya sudah bersih.


"Itu sudah saya lap, Mbak," ucap asisten tersebut hendak mengambil lap yang ada di tangan Yumna.


"Sudah, saya pengen lap ini meja. Saya bosan. Badan sakit semua kalau nggak gerak," ucap Yumna lagi.


Asisten tersebut kini hanya membiarkan apa yang Yumna mau, lagipula memang orang hamil tidak boleh hanya diam saja. Jika memang pekerjaan yang ringan tak apa lah.


"Mbak, dulu waktu hamil ada ngidam apa yang paling di pengenin?" tanya Yumna iseng.


"Saya ngidam tuh pengen buah rambutan, Mbak. Padahal waktu itu nggak musim, suami repot carinya kemana, hehe. Kalau Mbak Yumna?" tanya asisten tersebut tanpa menolehkan kepalanya, masih terus melanjutkan tugasnya mencuci piring dan wadah bekas memasak barusan.


"Nggak tau," ucap Yumna sambil terus mengelap meja berulang kali.


"Loh, kok nggak tau. Apa belum kerasa pengen apa gitu?" tanya asisten tersebut lagi, kini menolehkan kepala menatap majikan cantiknya tersebut.


Yumna kini duduk di kursi dan memainkan lap di tangannya. "Nggak tau, Mbak. Kan katanya kalau ngidam tuh pengennya yang susah, yang bisa bikin suami atau orang terdekat repot," ujar Yumna.


Tiba-tiba asisten tersebut tertawa terkekeh mendengar ucapan Yumna ini.


"Ya, nggak lah, Mbak. Nggak semua ngidam itu begitu," ucap wanita itu. Yumna melihatnya dengan bingung, karena setahunya orang yang mengidam itu merepotkan orang lain. Setidaknya itu yang dia perhatikan selama ini, juga karena cerita dari Mama Lily.


"Waktu saya hamil anak pertama, saya pengen rambutan yang lagi nggak musim. Iya, dulu bikin repot suami saya, tapi untuk anak kedua saya malah ngidam nggak yang neko-neko juga," ujar wanita itu.

__ADS_1


"Nggak tau ya, saya cuma usap perut saya dan bilang sama si jabang bayi, biar kalau ngidam tuh nggak repotin orang. Tersiksa rasanya kalau ngidam yang begituan. Memang kita nggak bisa melawan rasa ingin itu, tapi setidaknya saya berhasil buat anak kedua. Nggak macam-macam ngidamnya, sampai-sampai suami saya tanya kok beda sama anak pertama dulu," tambahnya dengan bangga.


"Terus?" Yumna ingin menengarkan kelanjutannya.


"Ya ... nggak terus-terus. Begitu aja," ucapnya.


"Suami saya suka tanya, tapi ya ... saya juga bingung mau ngidam apa, nggak pengen apa-apa, kok," ucap Yumna lagi.


"Ya, nggak masalah, Mbak. Soal ngidam atau enggak kan emang bukan kemauan kita. Bersyukur kalau nggak pengen yang repot. Sumpah, deh. Waktu saya nggak kesampaian makan buah rambutan tuh, saya nggak bisa berhenti ngerengek sama suami, kadang juga sampai nangis. Bayangan buah rambutan tuh ada di depan mata, rasanya juga makan apa-apa nggak enak karena kebayang buah rambutan terus," ucapnya sambil mengingat masa lalu.


"Terus? Dapat rambutannya?" tanya Yumna semakin ingin tahu.


"Dapat, tapi menjelang lahiran, cuma ya ... baru aja berbuah, jadi rasanya masih belum terlalu manis. Cuma sesudah itu mah aman," ucapnya.


"Emang kalau ngidam nggak keturutan katanya bisa ileran ya anaknya?"


"Memangnya ngidamnya apa?"


"Pengen lihat dan pegang bunga bangkai," ucap wanita itu sambil tertawa cekikikan.


Yumna pun ikut tertawa kecil, membayangkan apa yang diceritakan asisten ini barusan. Dia mengusap perutnya dan berbicara di dalam hati, jangan sampai kedua anaknya ini mengalami ngidam parah dan membuat yang lain kerepotan.


***


Akhir pekan, seperti apa yang direncanakan oleh Arya dan keluarga, dua keluarga besar itu akhirnya pergi ke villa di mana mereka akan menginap satu malam di sana.


Jalanan lumayan padat merayap, ini di karenakan banyak kendaraan yang mempunyai tujuan sama, pergi ke luar kota untuk menikmati akhir pekannya. Mobil Bima dan Arya berjalan beriringan, berusaha tidak tertinggal jauh satu sama lain. Arya bersama dengan Mitha di depan, Bima dengan Lily dan Syifa, di belakangnya ada si kembar dengan menggunakan dua motor, dan di belakang lagi ada Haidar dan juga Yumna.


Meski sudah berangkat sedari pagi sekali, tapi ternyata bukan hanya mereka yang mempunyai pemikiran ini, sepertinya semua orang yang ada di jalanan ini juga memiliki pemikiran yang sama untuk sampai di tujuan pada waktu yang ditentukan.

__ADS_1


"Kamu oke, kan?" tanya Haidar pada sang istri yang hanya diam dan menyesap aroma kulit jeruk di depan hidungnya. Khawatir sekali pada Yumna.


"Hem, nggak apa-apa. Sudah nggak terlalu mual."


"Apa kita pulang lagi aja?" tanya Haidar lagi. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Nggak perlu. Lagian pulang ke kota juga udah terlanjur sampai di sini," jawab Yumna.


Memang benar, tempat tujuan mereka hanya berjarak dua jam lagi, jika pulang kembali ke kota besar akan memakan waktu lebih lama lagi.


"Iya. Kalau kamu ngerasa nggak nyaman, bilang aja sama aku ya?" pinta Haidar. Yumna kembali menganggukkan kepalanya.


Hampir tiga jam, setelah berkutat dengan kemacetan yang luar biasa, akhirnya semua orang sudah sampai di villa yang di tuju. Lelah akibat perjalanan terbayar sudah saat mendapati villa besar yang berada di tengah kebun teh. Sangat besar sekali dan juga indah sehingga membuat semua lelah akibat perjalanan menghilang begitu saja.


"Waaah, indah sekali!" seru Syifa mengagumi yang ada di sana. Yumna pun tersenyum senang dengan apa yang dia lihat di sini. Semua hijau. Perkebunan teh yang sangat rindang sekali, udara yang ada di sana juga terasa dingin.


"Ayo semuanya, kita masuk!" teriak Arya sambil membawa kopernya masuk ke dalam villa tersebut. Seorang penjaga villa menyambut mereka dan membantu yang lainnya membawakan barang.


"Kamu suka di sini?" tanya Haidar saat Yumna hanya diam menatap ke kejauhan di mana pemandangan yang menyejukkan matanya terhampar di depan mata. Sangat asri dan membuat tenang jiwa dan pikirannya, sejenak menghilangkan pemikiran dari kesedihan dirinya karena resign dari pekerjaan.


Yumna melirik ke arah suaminya dan kembali tersenyum.


"Aku suka. Di sini nyaman sekali. Lain kali kita pergi berdua ke sini buat menikmati pemandangan," ucap Yumna. Entah kenapa pikirannya sedikit egois, ingin berdiam diri di sini hanya berdua saja dengan suaminya.


...****************...


mampir juga ke sini ya.


__ADS_1


__ADS_2