YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
370


__ADS_3

Setiap hari adik-adik Yumna akan berjaga untuk menemani sang kakak di rumahnya sementara Haidar pergi bekerja. Baik Syifa maupun si kembar tak ada yang mau meninggalkan Yumna sebelum pengganti mereka datang. Hanya berjaga bila mana Yumna merasa sakit lagi seperti waktu itu, padahal di rumah tersebut ada seseorang asisten yang bekerja dan tinggal di rumah tersebut. Barulah saat sore hari setelah Haidar pulang dari kantor, mereka pulang ke rumahnya.


"Assalamualaikum!" seru Haidar yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Waalaikum salam.


Yumna dan Azkhan menjawab bersamaan. Haidar mendekat pada sang istri yang duduk sambil memainkan hp-nya, mencium kening sang istri dengan lembut dan menyimpan sebuah bungkusan di atas meja. Dia tak peduli ada adik iparnya yang sama duduk di sana juga.


"Apa ini?" tanya Yumna.


"Martabak telur. Aku lewat tadi dan rasanya kok pengen beli," jawab Haidar. Yumna tersenyum senang dan membuka makanan tersebut. Aroma wangi gurih dari makanan tersebut menyeruak memenuhi ruangan keluarga yang juga berfungsi sebagai ruang tamu.


"Aku ambil piring dulu." Yumna hendak bangkit, tapi Haidar mencegahnya dan dia yang pergi ke dapur untuk membawa piring


"Kak, aku pulang dulu, ya. Bang Haidar kan sudah ada di sini," pamit Azkhan sambil membawa tasnya dan menggendongnya di salah satu pundaknya yang lebar.


"Loh, makanannya juga belum siap, Az!"

__ADS_1


"Nggak ah, buat Kakak saja. Aku ada perlu sebentar lagi. Mau langsung pergi juga," ucap adiknya itu.


"Ketemu siapa? Iriana?" tanya Yumna.


"Bukan, ketemu orang yang mau modif motornya. Aku pergi ya. Bang, aku pergi dulu ya!" teriak Azkhan pada Haidar yang baru saja datang.


"Ini nggak makan dulu?" tanya Haidar mendekat.


"Satu aja. Sudah ya. Aku pergi. Hubungi aku kalau Kak Yumna mau lahiran lagi!" seru pemuda tersebut kemudian pergi dari sana dengan langkah yang cepat sambil memakan satu potong martabak yang dia ambil.


"Astaga, Sayang. Apa itu enak?" tanya Yumna pada sang suami. Setiap kali makan harus selalu ada kecap untuk makanannya.


"Enak aja," ucap Haidar santai. Yumna tak habis pikir dengan suaminya ini, jika biasanya orang lain mengidam hanya di bulan-bulan tertentu kenapa suaminya masih saja aneh sampai usia kandungannya saat ini?


Yumna hanya tersenyum saja melihat Haidar yang tampak nikmat makan dengan sangat lahap.


"Aduh!" tiba-tiba saja Yumna meringis kesakitan. Haidar mengalihkan tatapannya dan melihat Yumna yang meringis memegangi perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu mau lahiran?" tanya haidar khawatir. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Nggak, anak kamu nendang perut aku kencang banget. Lihat deh," tunjuk Yumna ke perutnya, gerakan perut itu sangat kencang sekali sehingga Haidar bisa melihatnya dengan sangat jelas sekali.


"Haha, aku kira kamu mau lahiran. Kira-kira anak kita cewek apa cowok ya?" ujar Haidar sambil mengelus perut sang istri, barulah setelah itu gerakan anak yang ada di dalam kandungan Yumna perlahan mereda, tidak lagi bergerak kuat dan seperti sedang bermanja-manja dengan sang ayah.


"Nggak tau, aku nggak perlu tau anak kita cewek atau cowok. Yang terpenting mereka sehat dan juga pintar," ucap Yumna. Haidar mengangguk setuju.


Gerakan dari perut itu kembali kencang saat Haidar hampir mencium istrinya.


"Auhh! Kayaknya anak kita pengen sama ayahnya deh," ucap Yumna sambil tertawa, Haidar menatap sang istri dan setuju dengan ucapannya.


"Kalau gitu izinkan aku buat tengokin anak kita. Biar mereka bahagia," ucap Haidar yang diangguki oleh Yumna.


Haidar menggendong Yumna ke dalam kamar, sementara itu asistennya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kedua majikannya itu yang setiap hari semakin senang bercinta saja.


"Memang ya, kalau orang hamil itu bikin ketagihan," ucap wanita tersebut sambil membereskan dapur.

__ADS_1


__ADS_2