
Yumna terusik tidurnya, sesuatu terasa berat menindih perutnya. Nafas hangat berhembus di lehernya. Dia membuka mata. Terlihat wajah damai Haidar dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya. Melihat ke arah bawah, tangan Haidar berada tepat melingkar di tubuhnya, telapak tangan Haidar menyentuh buah dada Yumna. Pas di tangan Haidar.
"Aaakhhh!!!" terkejut hingga berteriak. Tanpa sadar menggerakkan kakinya menendang Haidar, mengambil bantal dan memukuli wajah Haidar dengan kuat.
"Aaakhh mesum! Kurang ajar! Pergi sana!" teriak Yumna dengan keras.
Haidar yang merasa sesuatu menimpa wajahnya berkali-kali terusik dari tidurnya. Refleks dia menutupi wahahnya dengan tangan. Yumna masih berteriak memaki Haidar.
"Eh Yumna, apa-apaan sih lo?" tanya Haidar yang baru saja sadar dari tidurnya.
Yumna beringsut menjauh dengan bantal yang ia peluk erat-erat di dada.
"Tuh kan. Elo ingkar janji! Bilangnya gak akan apa-apain gue tapi semalam elo ngapain, huh?!!"
"Apa?!' tanya Haidar bingung. Dia sama sekali tidak mengerti dengan yang di bicarakan Yumna. Haidar bangun untuk duduk, menguap lebar-lebar, ia masih sangat mengantuk.
__ADS_1
"Eh, jangan sok pura-pura lupa dan gak tahu ya. Apa maksud lo pegang-pegang gue?" tunjuk Yumna tepat di depan hidung Haidar, sementara satu tangannya masih memeluk bantal dengan erat.
"Pegang-pegang apaan?" Haidar masih bingung.
"Elo pegang... pegang... Anu..." Yumna terbata dia merasa malu membicarakan.
"Pegang apaan?"
"Elo pegang dada gue!" teriak Yumna sambil memukul kembali Haidar dengan bantal di tangannya. Haidar menepis bantal itu, Yumna tidak berhenti begitu saja. Dia menggunakan kedua tangannya untuk memukuli Haidar.
"Elo jahat. Dasar cabul!" teriak Yumna kesal.
"Hei gue kan gak sengaja. Gue tidur pules semalam! Mana tahu kalau tangan ini menjelajah!" ucap Haidar dia menahan tangan Yumna dan menariknya hingga Yumna hilang keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Haidar. Pandangan mereka seketika beradu. Yumna terdiam mematung.
'Aaaakhhh nafas gue, sesak! Tolong!'
__ADS_1
Sadar dengan posisi mereka, Yumna menarik tangannya dan bangun dari tubuh Haidar.
"Dasar cabul lo! Awas aja kalau lain kali elo berani pegang-pegang gue, gue setrum lo!" ancam Yumna sambil bangkit dari atas kasur.
"Uuhhh... Mauuu... Setrum pake apaan, neng? Pake cinta kah. Mau bangeet!" ucap Haidar sambil tersenyum menggoda. Yumna mendelik tajam.
"Jangankan lain kali neng. Kenapa gak sekarang aja? Abang rela kok!"
Hiiihhhh.....
Yumna bergedik geli sekaligus jijik melihat Haidar, dia setengah berlari ke arah kamar mandi membuat Haidar tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Yumna.
"Perasaan semalam gue mimpi lagi main lempar-lempar balon air sama Bang Ben! Masa sih gue pegang..." Haidar melihat telapak tangannya sendiri, membayangkan apa yang dia pegang semalam. Tangannya bergerak-gerak seakan sedang memainkan balon air di tangannya. "Pantes aja balon airnya kerasa anget ada tonjolannya! Ternyata balon airnya Yumna yang gue pegang!" Muka Haidar mendadak panas hingga ke telinganya. Dan sesuatu mendesir dari dalam tubuhnya mengalir hingga ke bagian bawah. Celananya serasa menyempit.
"Sial!" Rutuk Haidar lalu menghempaskan dirinya kasar di atas kasur. Dia mengangkat tangannya lagi di atas kepalanya, kembali menatap telapak tangannya, tanpa sadar menariknya ke arah hidung, menciumnya. Aroma mawar. Menarik tangannya ke atas, menatapnya lagi.
__ADS_1
"Balon air... Balon air!" Haidar tersenyum geli.
"Gila. Untung aja dalam keadaan tidak sadar. Kalau gue sadar pasti cap lima jari udah berbekas di pipi!" Mengelus pipinya yang terasa ngilu walau hanya membayangkannya saja.