YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
334


__ADS_3

"Aku kangen kamu! Kamu pulangnya lama," jawab Yumna tersenyum senang, aroma yang ada di tubuh sang suami dia hirup dalam-dalam, bau keringat bercampur dengan parfum sangat segar menurutnya.


Mendengar jawaban istrinya Haidar tersenyum senang, baru kali ini Yumna memeluknya dan mengatakan kangen, membuat jiwa lelakinya sangat bahagia karena merasa dibutuhkan oleh sang istri. Haidar mengusap rambut Yumna lembut.


"Ya, ampun. Aku kan tadi bilang mau lembur sebentar, cuma dua jam aja. Kamu kok sampai segininya. Aku bawa makan malam, kamu sudah makan belum?" tanya Haidar, Yumna menggelengkan kepalanya.


"Aku nunggu kamu, jadi belum makan," jawab Yumna. Dua orang itu akhirnya pergi ke ruang makan untuk menikmati makan malam yang Haidar bawakan.


Malam semakin larut, Yumna telah tertidur tak lama setelah pergulatan panas mereka barusan. Kini Haidar sudah tidak ragu lagi untuk bermain jungkat jungkit di atas tubuh sang istri, nyatanya Yumna baik-baik saja dan dokter juga menyatakan jika kandungan Yumna sehat dan sangat kuat. Tetap saja jika Haidar akan menengok dua kecebongnya harus dengan sangat berhati-hati sekali.


Hp Yumna menyala di atas nakas, Haidar hanya meliriknya sekilas tanpa melakukan apa-apa, tapi semakin lama hp yang terus menyala itu membuatnya penasaran juga. Akhirnya Haidar mengambil hp Yumna yang terdapat pesan dari Tia, sahabat SMP Yumna dulu.


Haidar sempat ragu sedikit, tapi kemudian dia membuka pesan yang terdapat pada hp sang istri karena Tia terus mengiriminya pesan. Dia ingin mengabarkan kepada Tia jika Yumna sudah tertidur semenjak sepuluh menit yang lalu.


Saat Haidar membuka pesan tersebut, dia terpaku dengan isi yang ada di dalamnya. Terdapat banyak pesan yang belum Yumna buka.


Haidar semakin penasaran saat membaca jawaban pesan dari Tia tadi, dia memutuskan untuk membaca semua pesan itu dari atas. Tidak sopan memang membuka pesan meski Yumna adalah istrinya, tapi ....


[Harusnya kamu terus terang saja ingin pergi kemana.] pesan dari Tia di jam sebelum dirinya pulang bekerja tadi.


[Aku masih sungkan untuk bilang.]


[Kenapa sungkan? Kan kalian ini suami istri.]


[Haidar sibuk dengan kerjaannya, aku takut dia terganggu dan maksain diri buat pergi ke sana.] balas Yumna dengan emot sedih.


[Aku pikir enggak juga sih, mungkin dia juga senang akan pergi dan dia juga sudah persiapkan ini semua. Kalian kan belum pernah honeymoon. Atau, Papi Arya juga bisa handle kerjaan Haidar, kan?]


[Iya, sih. Aku masih bingung.]

__ADS_1


Tia memberikan emot tertawa terbahak untuk Yumna. [Kalau aku jadi kamu, aku mau diajak honeymoon. Mumpung kamu juga belum punya baby, nanti kalau dah ada baby kamu bakalan susah pergi ke tempat yang jauh.] balas Tia.


[Iya, sih. Kamu bener.]


[Ya, sudah. Tunggu apa lagi? Jadi deh pergi ke Are, seperti yang kamu mau dulu.]


Haidar kini terdiam melihat kata 'Are' di pesan milik Tia. Ternyata Are adalah nama tempat, bukan bidang luas seperti yang dia kira sebelumnya.


Haidar menghentikan membaca pesan terdebut karena pesan di bawahnya hanyalah obrolan biasa yang menyatakan jika Yumna tak enak hati kepada dirinya. Dia segera mengambil hp miliknya dan mengetik di pencarian dengan kata Are. Akan tetapi, apa yang dia lihat di sana bukan nama sebuah tempat, melainkan hanya kata dari bahasa asing.


Haidar tidak berhenti mencari, informasi yang dia dapat dari Tia memang membantu, tapi tak banyak. Dia terus mencari dan mencari, tapi nama kota tersebut tidak ada. Belum ketemu.


"Ah, besok aku cari lagi." Kepalanya terasa pusing, berdenyut akibat terlalu lama menatap pada hpnya. Akhirnya Haidar ikut memejamkan matanya di samping sang istri.


*******


Haidar menyerah dengan mana kota itu. Sudah hampir seharian dia mencari, tapi dia tidak yakin juga. Pekerjaan dia abaikan sedari tadi, hanya demi untuk mencari nama 'Are' yang dimaksud oleh Tia semalam. Akhirnya, dia memutuskan untuk menghubungi Tia saja, daripada semakin pusing dan membuatnya tidak bisa bekerja dengan baik. Kebetulan dia memliki nomor sahabat istrinya itu sudah sejak lama.


"Astaga. Are di mana sih?" gumam Haidar sambil melakukan panggilan kepada Tia. Setelah tiga kali panggilan akhirnya Tia mengangkat telepon darinya.


Tia yang ada di rumahnya mengerutkan keningnya saat melihat hpnya berbunyi dengan nama Haidar di sana, jelas dia tahu siapa Haidar karena nama Haidar yang ada di kontaknya hanyalah nama suami dari Yumna, sahabatnya.


Suami Tia melihat sang istri yang masih diam melihat nama di hpnya itu.


"Siapa?" tanya sang suami yang baru saja pulang dan tengah menggendong anak mereka.


"Haidar."


"Suami Yumna?" tanyanya lagi, Tia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa? Kok nggak diangkat?" tanya sang suami lagi.


"Nggak tau, aku angkat dulu deh ya." Tia meminta izin untuk menjawab panggilan tersebut. Sang suami hanya mengangguk sebagai jawaban dan mengajak anaknya bermain.


"Ya. Ada apa, Haidar?" Suara Tia terdengar dari dalam benda pipih milik Haidar, laki-laki itu tersenyum karena akhirnya Tia menjawab telepon darinya.


"Akhirnya kamu angkat panggilan aku juga," ujar Haidar senang. Dari rumahnya, Tia mengerutkan keningnya bingung. Tentu sangat tidak biasa laki-laki ini menghubunginya. Tiba-tiba saja Tia menjadi khawatir. Mungkinkan Haidar menghubunginya karena ada sesuatu yang terjadi kepada Yumna?


"Em ... ada apa, Haidar? Apa ada yang terjadi sama Yumna?" tanya Tia dengan khawatir. Suaminya sampai menatap sang istri yang tiba-tiba saja berwajah panik.


"Ya, memang ada yang terjadi," jawab Haidar, tanpa tahu apa yang Tia maksud dengan pertanyaannya tadi. "Aku cuma mau tanya sesuatu. Semalam aku yang buka pesan yang kamu kirimkan kepada Yumna dan aku baca pesan itu. Maaf sekali, bukan maksudku apa-apa, tapi aku mau tanya sesuatu. Aku mau tau, Are itu apa? Apakah nama kota? Atau desa?" tanya Haidar menambahkan.


Mendengar hal itu Tia menjadi tenang, ternyata maksud Haidar menghubunginya hanya ingin tahu apa itu Are. Dia menghela napasnya lega, bahwa tidak ada yang terjadi dengan sahabatnya itu.


Akhirnya Tia memberitahu Haidar apa itu Are.


"Kamu jangan kasih tau Yumna, ya. Aku mohon. Aku bener-bener nggak tau Yumna ingin pergi kemana, beruntung semalam aku buka pesan kalian."


Tia terkekeh mendengar permintaan dari Haidar. "Oke, siap. Aku nggak akan kasih tau, Yumna. Semoga kalian bisa bersenang-senang di sana, ya."


"Terima kasih atas bantuannya."


Panggilan berakhir, Haidar akhirnya bisa tersenyum dengan senang karena akhirnya dia tahu kemana akan membawa Yumna nanti.


"Tau gini, dari pagi aku telepon saja Tia," ucap Haidar sambil tersenyum geli. Memang suatu hal tidak bisa dia lakukan sendirian, semua makhluk hidup butuh teman dan juga butuh bantuan dari orang lain meski sekecil apa pun itu.


...****************...


Mampir juga ke sini yuk! punya kak Thatya.

__ADS_1



__ADS_2