YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
323


__ADS_3

Haidar merengut kesal mendengar perkataan dari ayahnya. Mana dia tahu kemana saja Yumna telah pergi selama ini? Lagi pula, dia juga tidak pernah bertanya kemana Yumna ingin pergi.


"Kalau bertanya dulu, mana ada yang namanya kejutan," ujar sang papa. Haidar kini tengah berpikir. Akan tetapi, rasanya dia menjadi lebih bingung lagi karena memikirkan hal tersebut.


"Ya mana Haidar tau, Pi. Papi kan tau Yumna itu anak siapa. Mungkin aja sudah banyak tempat yang Yumna datangi sama keluarganya," ujar Haidar membela diri. Arya hanya mengangguk, diam-diam setuju dengan apa yang putranya katakan barusan.


"Bener, sih. Coba kamu pikirin dulu deh, cari di internet mana tempat yang bagus. Atau, coba tanya Agnes. Kali aja dia tau tempat rekomendasi yang bagus buat Yumna," ucap Arya memberi saran.


Haidar tersenyum senang, jika pun Yumna protes dengan tempat yang akan dia ajukan nanti, bukankah dia bisa menyebut nama Agnes? Haha!


"Jangan punya pikiran jahat. Papi suruh kamu cari ide," ujar sang papi yang seakan tahu akan pikiran licik sang anak.


"Ish, apaan sih! Dah ah, lagian kalau emang mau kasih hadiahnya nanti juga ngapain Papi suruh aku datang ke sini sekarang? Aku sibuk, Pi. Aku lagi siapin tempat kejutan ulang tahun buat Yumna nanti," ujar Haidar lagi, lalu berdiri dari duduknya.


"Sebentar, Haidar." Arya mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.


"Apa lagi?" tanya Haidar.

__ADS_1


"Bawa ini, untuk Yumna."


Kening Haidar mengerut melihat benda kotak berwarna hitam yang disodorkan oleh sang ayah.


"Apa ini?" Gatal rasanya, penasaran juga dengan isi yang ada di dalam sana sehingga Haidar hendak membuka penutup kotak tersebut. Namun, punggung tangannya dipukul sang ayah sedikit lebih keras.


"Untuk Yumna! Bukan buat kamu," ucap Arya lagi dengan jari telunjuk yang terarah pada putranya.


"Iya. Cuma intip sedikit aja. Jangan pelit!" ucap Haidar, dia membuka penutup benda tersebut dan melihat sebuah kunci dengan berhiaskan pita serta ucapan selamat ulang tahun untuk Yumna.


"Buat apa? Dikasih yang murah aja kamu tabrakin terus, apalagi yang mahal. Rugi bandar," ucap sang ayah sambil tertawa puas melihat wajah kesal sang anak.


"Pilih kasih! Tapi ... makasih hadiahnya karena Papi sudah perhatian sama istriku," ucap Haidar lalu mendekat dan memeluk sang ayah yang sangat sayang kepadanya. "Yumna pasti akan suka dengan hadiah ini," ucap Haidar lagi.


"Ya, semoga aja. Papi nggak bisa kasih yang spesial buat Yumna, hanya ini yang bisa Papi berikan buat dia. Sebenarnya, Papi ingin hadiahkan rumah yang ada di utara, tapi kalau Yumna tidak mau menempati rumah itu percuma juga. Lebih baik Papi sewakan dulu, kelak kalau kalian punya anak nanti, Papi akan berikan satu untuk masing-masing," ucap Arya yang membuat Haidar terharu dan kembali memeluk sang ayah.


"Makasih, Pi. Aku akan pergi dulu. Jangan lupa, nanti malam datang ke acara kami." Haidar mengingatkan.

__ADS_1


"Pasti. Papi akan selesaikan pekerjaan lebih cepat, tapi kalau juga terlambat, kalian mulai saja duluan," ucap Arya. Haidar hanya mengangguk dan pergi dari ruangan tersebut dengan hati yang puas.


Saat dia keluar dari dalam ruangan sang ayah, tanpa sengaja Haidar berpapasan dengan Mey. Sekretaris itu hanya diam dan menunduk dengan tangan bergetar memegangi nampan, membiarkan Haidar untuk melewatinya.


"P-Pak Haidar sudah akan pulang?" tanya wanita muda itu.


"Iya, saya akan pulang. Mey, lain kali kalau kamu mau menyatakan cinta, kamu lihat dulu laki-laki yang kamu sukai seperti apa. Saya hanya khawatir kamu akan sakit hati kalau kamu seperti tadi. Jika ada laki-laki beristri dan menerima cinta kamu, sama saja dengan menjerumuskan kamu kepada hal yang tidak benar. Kamu akan lebih sakit lagi dan akan sangat menyesal karena telah menyukai laki-laki yang telah beristri. Percayalah, yang dia inginkan hanya keuntungan semata. Jangan sampai kamu menyesal," ucap Haidar. Mey mengeratkan pegangan tangannya pada nampan, sehingga tampak memutih buku-buku di tangannya.


"I-iya. Saya mengerti." Mey berusaha menelan ludah, menahan dirinya, apa yang Haidar katakan memang benar adanya. Bagaimanapun juga mencintai laki-laki beristri tidak pernah dibenarkan, yang ada hanya cemoohan dari orang lain.


"Saya pergi dulu. Ingat, jangan sampai kamu menyesal dan terbuai dengan rasa semata. Gunakan akal sehat kamu dengan baik," ucap Haidar, lalu pergi dari hadapan Mey.


...***...


Maaf, up-nya dikit. Masih keliling cari kontrakan. Sambil nunggu up selanjutnya, mari mampir dulu ke sini.


__ADS_1


__ADS_2