YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
52. Aku Gak Suka Barang Bekas


__ADS_3

"Kenapa gak di tutupin sih merahnya, jadi malu kan!" ucap Haidar saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil.


"Ih, elo gak lihat kalau rambut gue udah di urai? Ketutupan rambut kan?" ucap Yumna seraya menaikkan letak kacamatanya.


"Trus kenapa mereka bisa lihat tanda merah di leher elo?"


"Ya mana gue tahu, Haidar! Gara-gara elo juga sih main gigit-gigit segala! Jadi malu kan! Gimana sama gue nanti di kantor coba?!" tanya Yumna.


"Ya masalah di kantor kan urusan elo!" jawab Haidar, Yumna memukul lengan Haidar dengan kesal.


"Gak tanggung jawab banget sih ni orang!" cerca Yumna.


"Ya kalau gitu, elo gak usah masuk kerja dong! Ikut ke kantor gue aja! Stand by kalau badan gue pegel elo yang pijitin!" Haidar menarik turunkan kedua alisnya.


"Enak aja! Lo kata gue ini tukang pijit! Gak mau! Mau apa juga ke kantor elo. Kerjaan gue banyak!" ucap Yumna.


Mereka terus berdebat hingga akhirnya sampai di kantor Yumna.


"Nanti gue jemput!" ucap Haidar.


"Gak usah kalau elo sibuk! Mendingan urusin aja tuh pacar elo yang seksi itu!" ucap Yumna lalu keluar dan membanting pintu mobil Haidar sedikit keras.


"Hehhh... Marah dia!" Haidar menatap kepergian Yumna hingga sampai pintu masuk perusahaannya.


Suara telfon berdering membuat Haidar menolehkan kepalanya.


'Sayang!' suara manja seseorang terdengar dari kejauhan sana. Terdengar kesal.


"Apa Vivi sayang?"


'Aku lagi kesel nih! Kamu ke apartemen aku! Sekarang!'


"Aku ada meeting sebentar lagi!"


'Kamu lebih mentingin kerjaan kamu daripada aku? Ya sudah kalau begitu, jangan ketemu aku lagi!'


Tut... Tut... Tut....


"Ya ampun! Kenapa punya cewek dua-duanya udah marah aja pagi-pagi!" Haidar menepuk keningnya sedikit keras. Dia kemudian melakukan panggilan telfon pada sekretrarisnya dan meminta meeting hari ini di batalkan. Haidar melajukan mobilnya ke apartemen Vio.


...***...


Dion menatap Yumna yang baru saja melewatinya. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri. Lahkahnya kasar tidak seperti biasanya.


"Pagi Yumna!" Yumna berhenti dan menoleh ke samping. Terlihat Dion dengan senyuman di bibirnya.


"Eh, Dion. Pagi juga!" sapa balik, Yumna memasang wajah tersenyum.


"Eee... Anu...Soal acara tah..."


"Yumna!" panggilan seseorang membuat Dion urung meneruskan ucapannya.


Rania datang dengan membawa satu kantong kresek di tangannya.


"Gorengan nih, mau gak?" tawarnya.


"Mau!" Yumna mengambil satu bakwan jagung dari sana lalu menikmatinya.


"Ada Dion juga! Mau?" mendekatkan kantong plastik putih itu pada Dion.


"Eh, enggak. Udah sarapan makasih!" tolak Dion.


Bima berjalan melewati mereka dengan langkah tegapnya, dia melirik sebentar pada Yumna tanpa menghentikan langkahnya. Yumna mengangguk tersenyum pada sang papa sekaligus bosnya! Semua itu tak luput dari perhatian Dion. Ketiganya menatap kepergian Bima hingga menghilang ke dalam lift.


'Tumben Pak Bima pakai lift karyawan!' batin Dion.


"Ya udah, yuk Na. Kita ke ruangan. Bye Dion!" Rania menarik tangan Yumna dan pergi ke ruang kerja mereka. Dion menatap kepergian keduanya dengan diam.


'Apa mungkin Yumna gak pulang kerumah ya? Bajunya masih seperti yang kemarin, dan lehernya...tadi itu seperti...'


"Hei di panggil dari tadi ngelamunin apa sih?!" seorang teman Dion menepuk pundaknya membuat Dion tidak meneruskan kata-kata di hatinya. Entah sejak kapan pria itu berdiri di samping Dion.


"Gak ada!" ucapnya lalu pergi ke ruangannya.

__ADS_1


...★★★...


Haidar menoleh ke kanan dan ke kiri, dia lalu menekan tombol kunci apartemen Vio hingga akhirnya terdengar suara 'bip' dan pintu pun terbuka.


"Vi? Kamu dimana? Vio?" panggil Haidar. Tak ada jawaban. Haidar terus berjalan dan mencari Vio di kamarnya.


"Vi? Vivi?!" panggilnya lagi, tapi yang terdengar hanya suara air dari kamar mandi.


Haidar duduk di tepi ranjang, dia memainkan hp di tangannya. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah si cantik nan seksi, Viola!


"Hai, sayang!" Haidar menoleh saat Vio memanggilnya. Dia terpana karena melihat Vio yang.... WOW!!


Wanita itu memakai bathrobe dengan belahan dada terlihat yang hampir tumpah dari tempatnya. Dan paha putih yang terlihat sangat seksi nan menggoda.


Glekk!


"Sayang!"


"Eh, ehm. Iya?" Haidar kalap menjawab panggilan Vio hingga hpnya terjatuh dari tangannya. Haidar mengambil hpnya yang terjatuh tepat di hadapan Vio. Terlihat kaki Vio yang jenjang nan mulus hingga ke paha, membuat Haidar susah payah menelan salivanya.


"Sayang, bagaimana permintaanku kemarin?" duduk di atas pangkuan Haidar, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Haidar.


"Yang... yang mana?" Melihat dada montok membuat Haidar dengan susah payah menelan ludahnya!


"Iiihhh kamu! Masa baru aku bilang kemarin sudah lupa!" Vio berseru dengan manja sambil menggesekkan dadanya pada dada Haidar.


"Oh, yang... Yang itu! Jordy kan?"


"He-em!" mengangguk manja.


"Aku belum uruskan!" jujur Haidar.


"Kok belum?!" Vio melepaskan kedua tangannya dan berdiri seketika. "Kamu benar-benar gak sayang sama aku ya! Sekarang kamu sudah beda semenjak kamu menikah sama dia! Biasanya apa yang aku mau, kamu lakuin. Kenapa sekarang kamu gak mau lakuin hal yang mudah seperti itu buat aku!" Vio menghentakkan kakinya lalu pergi ke arah jendela.


Haidar bangkit dan mendekat ke arah Vio. Memeluknya erat dari belakang.


"Vi, maafkan aku! Bagaimana aku bisa suruh bawahan aku buat urusin itu semua kalau sekarang saja aku masih belum ke kantor!"


"Alasan!" Vio menepis tangan Haidar dan kembali duduk di tepi ranjang dengan perasaan kesal. Haidar mengikuti kekasihnya dan berjongkok di hadapan Vio.


"Kamu kan bisa telfon bawahan kamu buat urusin itu semua buat aku! Kamu kan bos. Masa gak bisa suruh bawahan kamu lewat telfon!" ucap Vio kesal.


"Iya-iya, nanti aku telfon. Jangan marah ya! Please!" mohon Haidar.


"Asalkan kamu bisa yakinkan Jordy supaya membuat aku jadi model iklannya, aku mau maafin kamu!" ucap Vio masih kesal.


"Oke, tapi nanti. Sekarang biar aku masak dulu buat kamu sarapan!" Haidar bangkit berdiri dan hendak melangkah, namun tangannya di tahan Vio. Haidar menoleh ke arah Vio.


"Haidar! Kamu gak akan berubah, kan? Kamu gak akan hianati aku, kan? Kamu gak akan berpaling dari aku, kan?" tanya Vio sendu.


Haidar mendekat dan duduk di samping Vio.


"Dari dulu perasaanku sama kamu gak akan berubah, sayang!" mengusap kepala Vio dengan sayang. Vio melabuhkan kepalanya di dada Haidar.


"Bener ya! Kamu gak akan tinggalin aku!" Haidar mengangguk. "Janji?" tanya Vio.


"Ya. Tentu!" ucap Haidar dia mencium kening Vio dengan sayang. Vio mendongakkan kepalanya ke atas menatap netra Haidar. Haidar tersenyum seraya mendekatan dirinya pada Vio, merasakan bibir seksi wanita itu dengan lembut.


"Emmmm...." Vio memejamkan matanya saat merasakan sensasi nikmat di mulutnya. Begitupun Haidar yang merasakan rasa hangat disana. Vio dengan lihainya membalas ciuman Haidar. Membelit dan menghisap lidah lawannya.


Hangat.


Manis.


Yum....


Haidar melepaskan ciumannya saat tiba-tiba terlintas bayangan lain. Bayangan istrinya.


"Kenapa?" tanya Vio saat melihat Haidar menyusut sudut bibirnya yang basah.


"Tidak apa-apa!" Haidar bangkit berdiri.


"Aku akan masak buat kamu!" ucap Haidar lalu pergi dari kamar itu. Vio menatap kepergian Haidar. Dia merasa kesal karena Haidar tak biasanya menghentikan aktifitas mereka.

__ADS_1


Vio menatap punggung Haidar yang hanya terbalut baju kemeja berwarna biru muda. Dia dengan cekatan mengiris bawang, tomat, dua buah cabai rawit, dan juga beberapa udang untuk di buat nasi goreng.


"Haidar." Vio memeluk Haidar dari belakang.


"Hemmm?" jawab Haidar. Dia mulai memasukkan bumbu ke dalam wajan berisikan minyak yang sudah mulai panas.


"Kamu... Gak ngapa-ngapain dia kan? Maksud aku, aku bisa percaya sama kamu kan? Kamu harus menjadi yang pertama buat aku!" ucapnya posesif.


"Iya, tentu saja. Aku selalu jaga jarak sama Yumna!"


"Jangan sebut nama dia!" ucapnya tak suka.


"Iya. Aku selalu jaga jarak sama dia!" ralatnya.


"Baguslah! Aku gak suka milikku sudah terpakai oleh orang lain! Aku gak suka barang bekas!" ucapnya.


"Haidar, kalau kita menikah nanti kamu gak akan larang aku buat kembali jadi model kan? Kamu gak akan larang aku buat syuting lagi kan?"


"Sebenarnya aku suka kalau kamu jadi istriku saja!" ucap Haidar. Dia mengambil tangan Vio untuk di kecupnya. Haidar berputar ke belakang, saling berhadapan dengan Vio. "Tapi aku juga gak bisa larang kamu dengan kebahagiaan kamu!" sambungnya.


Vio tersenyum senang, dia melingkarkan tangannya ke leher Haidar dan menempelkan bibirnya pada bibir Haidar. Haidar membalas perlakuan kekasihnya tak kalah panas. Hingga tercium bau yang aneh pada masakannya Haidar tersadar dan mendorong Vio pelan. Dia segera mematikan kompornya.


"Hampir saja!" ucap Haidar mengelus dadanya. Vio tersenyum merasa lucu melihat ekspresi Haidar.


"Gara-gara kamu! Hampir gosong, kan!" Haidar mencubit hidung Vio dengan sedikit keras. Dia berlalu pergi membawa piring dan memindahkan nasi goreng itu ke atas piring dan membawanya pada Vio yang kini duduk di kursinya.


"Makan! Atau mau aku suapi?" tanya Haidar.


"Suapin!" ucap Vio manja.


Haidar menyuapi Vio hingga suapan terakhirnya.


Vio beringsut dari duduknya, dan beralih ke pangkuan Haidar. Dia mencium kembali bibir Haidar dengan penuh perasaan, namun kali ini tangannya pun tidak tinggal diam. Satu persatu melepas kancing baju Haidar. Dia memasukkan tangannya ke dalam sana dan menggoda tonjolan kecil di dada Haidar. Vio melepaskan ciuman bibirnya dan turun ke leher dan pundak Haidar. Membuat warna merah disana.


Panas dingin, itulah yang di rasakan Haidar. Sesuatu telah bangkit dari dirinya membuat senyum Vio mengembang.


"Stop!" Haidar menahan tangan Vio yang hendak membuka sabuknya.


"Sayang, tolong. Jangan!"


"Kamu gak inginkan aku?" tanya Vio yang masih berjongkok di depannya. Mata mereka saling bersinggungan.


"Aku bukan gak ingin kamu sayang, tapi aku gak ingin menodai kamu! Jangan ya!" ucap Haidar menarik tangan Vio hingga gadis itu berdiri. "Aku akan lakukan itu kalau kita menikah nanti!"


Vio merengut sebal. "Memangnya kenapa? Mau sekarang atau nanti sama saja, kan? Kita akan bersama-sama!" ucapnya.


Haidar mengambil Vio ke dalam pangkuannya dan memeluknya.


"Hei, ingat aku janji apa sama orang tua kamu dulu? Aku janji akan lindungi kamu! Aku janji akan jaga kamu! Jadi jangan buat aku ingkar dengan janji itu!" Haidar mengingatkan.


"Ya sudah. Aku ke kantor dulu ya!" pamit Haidar, Vio mengangguk meski tak bicara apapun.


"Jangan ngambek, dong!" Haidar mengecup bibir Vio sekilas. Dia lantas mengeluarkan kartu hitam dari dalam dompetnya.


"Beli tas keluaran Chanel terbaru yang kamu inginkan!"


"Kamu kira aku ini matre!" dengus Vio kesal.


"Kamu gak pernah matre, hanya aku yang royal!" ucapnya sambil menyelipkan kartu itu ke belahan dada besar Vio.


"Nakal!" ucap Vio sambil mendekatkan dirinya lagi pada Haidar. Haidar membalas semua perbuatan kekasihnya. Menciumnya dengan pelan namun pasti.


"Sudah! Jangan buat aku semakin stress karena gak bisa makan kamu!" ucap Haidar. Dia mengisyaratkan Vio untuk bangkit.


Vio mengantar kepergian Haidar hingga ke pintu unitnya. Lalu masuk kembali saat merasa yakin Haidar sudah masuk ke dalam lift.


Vio mengambil hpnya dan menghubungi seseorang.


"Dia sudah pergi!" klik. Panggilan di matikan. Dia duduk di meja pantry sambil menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain, menyesap rokok yang baru saja ia nyalakan, dan memutar wine di gelasnya.


Tak lama menunggu, pintu terbuka. Seorang pria datang dan mendekat ke arahnya, tanpa banyak berkata apa-apa pria itu langsung menarik Vio ke dalam pelukannya, menciumnya, lalu menyeretnya ke dalam kamar.


...*...

__ADS_1


Di kantor.


Haidar memerintahkan bawahannya untuk bertemu dengan Jordy. Apapun sanggup ia lakukan demi kebahagiaan Vio.


__ADS_2