
"Kita ketemu lagi nona, masih ingat dengan saya?" dia bertanya dengan senyum manis terulas di bibirnya. Yumna memutar bola matanya ke atas, tanda sedang berfikir. Dia sepertinya pernah bertemu dengan pria ini tapi dimana? Kapan?
"Nona sudah lupa? Kita bertemu di bandara saat di Lombok. Dan kebetulan sekali ya kita bertemu disini!" dia tertawa kecil.
"Ah... Ya aku ingat. Anda yang memberikan tiket pesawat gratis untukku." Yumna mengangguk saat ingat dengan pria itu.
"Ralat, tidak gratis. Tapi Nona membelinya dengan mentraktirku sarapan!" pria itu tertawa menularkan hal yang sama juga pada Yumna.
"Kita kebetulan bertemu disini ya. Bagaimana bisa?" Yumna heran juga. Negara ini luas. Akan tetapi, sepertinya dunia mereka lah yang sempit.
"Mungkin kita berjodoh!" Yumna menatap kaget pria itu. Ucapannya terlalu berani sebagai orang yang baru dua kali bertemu. Apa pria ini tukang kibul.Tukang gombal dah sebagainya?
"Em maksudku ini takdir. Mungkin kita memang di takdir kan untuk bertemu lagi disini. Maaf" Pria itu berkata dengan canggung dengan mengangkat kedua tangannya di depan dada. Sungguh bukan maksud dia mengatakan hal itu tadi, dia hanya refleks mengatakannya, entah kenapa.
"Oh ya, karena kita ketemu lagi disini dan kita duduk berdua disini, dan juga hujan masih lebat di luar, kita pasti akan terlibat obrolan cukup lama. Perkenalkan namaku Willy Juna Wiyata. Panggil aku Willy, atau Juan juga boleh." pria itu mengulurkan tangannya.
Yumna terdiam menatap tangan besar yang terarah padanya. Bukan karena uluran tangan itu dia terdiam, tapi karena ucapan kalimat pria itu yang tidak biasa. Sebagai lelaki dia payah untuk memulai percakapan dan memperkenalkan diri, bukan?
Willy kecewa saat Yumna hanya diam tak jua menerima uluran tangannya. Tapi sedetik kemudian matanya berbinar saat Yumna tersenyum dan menyambut telapak tangannya. Ah dia bukan tersenyum, tapi dia tertawa dan terdengar seperti sedang mengejeknya!
Yumna menyimpan cangkir kopi di tangannya.
"Anda itu ... tidak bisa kah manis sedikit pada perempuan?" Yumna tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan yang satunya, lalu menarik tangannya yang lain dari genggaman tangan Willy. Ada perasaan kecewa di dalam hatinya saat Yumna kembali duduk bersandar dan mengambil kembali cangkir kopinya.
Willy tersenyum canggung. Dia memang payah dalam hal itu.
__ADS_1
"Haha... Aku memang tidak bisa bermulut manis dengan wanita." Dia merasa malu sendiri. Menggaruk belakang telinganya yang tak gatal sama sekali.
Yumna menyembunyikan tawanya dengan menyesap kopi yang sudah terasa menghangat. Sungguh nikmat setelah melewati tenggorokannya.
Willy memanggil pelayan dan melakukan pemesanan. "Anda mau makan ... Nona?"
"Panggil saja aku Yumna."
"Makan malam di awal?" tanya Willy. Yumna melirik jam yang ada di tangannya. Ini masih jam enam sore.
"Tidak usah Tuan Juan, tidak apa-apa kan aku panggil Anda dengan nama itu? Aku akan makan malam di rumah saja." tolak Yumna dengan halus. Juan mengangguk.
"Mau menambah kopi? Sepertinya hujan masih akan lama." Juan kembali menawarkan setelah melihat keadaan di luar. Yumna mengikuti arah pandang Juan ke arah luar, hujan masih saja deras pertanda jika langit tak akan menghentikan curahan air itu dalam waktu dekat.
"Oke kalau yang itu aku akan terima." Yumna setuju. Kopi di cangkirnya memang tinggal sedikit.
Mereka terlibat pembicaraan ringan. Yumna merasa senang karena ada seseorang yang menemaninya sambil menungu hujan.
"Ah ya, waktu di Lombok Anda dengan siapa? Apa memang Anda sendirian?" tanya Juan lalu mengambil cangkir kopinya. Dia meniupnya dan menyesapnya perlahan.
"Jangan terlalu formal, panggil saja namaku. Maaf, tapi panggilan itu sedikit mengganggu karena kita teman mengobrol, bukan rekan kerja." ucap Yumna.
Juan tersenyum sembari mengangguk. Dia suka dengan gadis ini, dari pembicaraan mereka tadi gadis ini cukup berwawasan luas. Dia juga tipe wanita yang modern, namun sangat menjaga akhlak dan sopan santunnya. Tak terlihat sedikitpun jika gadis ini hanya baik dan sopan untuk mendapatkan perhatiannya. Bahkan dia tak menyangka jika ada wanita yang menolak menatap dirinya saat berbicara seperti gadis yang ada di hadapannya ini.
Juan menyandarkan dirinya pada kursi. Dia senang menatap Yumna yang sedang berbicara. Bibir gadis itu bergerak lucu apalagi saat dia tersenyum. Bibir tipis itu terlihat indah. Bahkan hari hujan yang menyebalkan seperti sekarang ini berubah menjadi hal yang menyenangkan. Di sertai suara hujan yang terdengar dari luar, dan juga langit yang mulai menghitam, di temani secangkir kopi hangat, suasana jadi terasa romantis, bukan?
__ADS_1
Apa yang aku pikirkan? Juan mencoba menyadarkan dirinya. Dia sudah lancang memikirkan suasana romantis dengan adanya gadis periang ini.
"Ah, maaf. Saya permisi sebentar." Yumna menunjukan hpnya yang menyala pada Juan, Juan hanya mengangguk. Dalam hati dia bertanya siapa gerangan yang menelpon gadis ini.
"Iya? Ah, aku ada di kafe. Terjebak hujan dan aku gak bisa pulang. Iya jangan khawatir. Yumna baik-baik saja, Kek." Yumna berbicara sedikit keras mengimbangi suara di dalam kafe dan juga suara hujan yang terdengar dari luar.
Juan tiba-tiba saja bisa bernafas dengan lega saat gadis itu menyebut 'Kek'.
Apa yang menelpon kakeknya? bertanya dalam hati. Dia menunggu Yumna sampai selesai dengan si penelpon, tak sopan bukan jika bertanya. Mereka baru saja bertemu dan juga berkenalan.
"Oke aku tunggu kalau begitu. Iya. Trimakasih kek." Yumna menyimpan kembali hpnya ke dalam tas.
"Maaf, itu tadi kakek." Yumna meminta maaf atas ketidaksopanan dirinya baru saja.
"Tidak apa-apa, santai saja." Juan mengangkat tangannya di depan dada menandakan kalau dia tak keberatan.
"Apa aka ada yang datang menjemput? Maaf, aku dengar tadi."
Yumna tersenyum lalu mengangguk. "iya, kakek khawatir dan bilang akan menjemputku disini." ucap Yumna.
"Syukurlah. Am... Maaf aku gak bisa tawarkan kamu pulang, aku gak bawa mobil karena aku juga hanya sedang berkunjung kesini."
"Tidak apa-apa. Santai saja. Lagipula aku juga gak akan dengan gampang menerima tawaran dari orang asing. Maaf... Tapi nenekku akan bawel kalau ada pria yang antar aku pulang ke rumah." Yumna tertawa kecil meminta maaf pada pria di depannya ini.
"Sepertinya nenek lebih bawel daripada orangtua ya?" ucap Juan, dia sama tertawa mengikuti Yumna.
__ADS_1
"Ya benar sekali, apalagi kalau sudah bicara soal pasangan. Rasanya aku ingin lari saja dari sana dan bersembunyi di suatu tempat. beruntung kakek selalu datang tepat waktu dan menyelamatkanku." Yumna berujar masih dengan tawa yang sama.
Juan tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Sedetik pun rasanya tak rela. Semua yang ada di diri Yumna dia sangat suka.