YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
120. Persidangan Terakhir.


__ADS_3

Haidar menatap sekeliling. Tak ada orang yang dia cari di ruangan itu. Entah kemana Yumna, tak biasanya dia terlambat, padahal dia saja yang biasanya terlambat masih bisa menyempatkan dirinya untuk datang. Hanya ada pengacara dan juga mama Lily yang ada disana.


Hingga sidang berakhir dan hakim menyatakan putusannya, palu pun sudah berbicara. Mereka sah bercerai. Yumna tak datang juga, bahkan mantan mertuanya kini entah ada dimana, tak terlihat sama sekali. Pengacara Yumna sedang membereskan berkas yang ada di tangannya, dia bersiap untuk pergi saat Haidar mendekat ke arahnya.


"Kemana Yumna? Kenapa dia tidak datang?" tanya Haidar kecewa.


"Nona Yumna sedang ada urusan lain di luar kota. Tidak bisa datang untuk menghadiri purtusan akhir sidang." Pengacara wanita itu menoleh sekilas dan bicara seperlunya menjawab pertanyaan Haidar.


"Permisi, saya masih ada pekerjaa lain." pamit pengacara itu. Haidar hanya terdiam di tempatnya, dia merasa kehilangan tak melihat gadis itu. Padahal dia sendiri yang mengatakan bahwa akan mengikuti sidang ini hingga akhir. Dia ingkar janji!


Dengan perasaan kesal Haidar berjalan keluar dari pengadilan, menuju ke arah mobilnya di parkir. Selama sidang yang memerlukan waktu tiga bulan ini, dia haya bertemu dengan Yumna beberapa kali. Tapi hari ini dia malah pergi ke luar kota, ada urusan apa? Kenapa tidak mengabarinya sama sekali kalau dia tak akan datang?

__ADS_1


...***...


"Sayang. Perceraian kamu dengan mantan istri kamu lancar, kan?" Vio menyerahkan minuman berwarna merah di tangannya pada Haidar. Tanpa menjawab dia menerima gelas itu dan menenggaknya dengan cepat. Rasa terbakar di tenggorokannya seketika terasa panas, tapi dia tak peduli. Dia hanya ingin menghilangkan rasa kesalnya akibat dia yang ingkar janji.


"Sayang! Ih, kamu di panggil kok malah diam saja sih?!" Vio mulai merajuk, dia tak suka jika Haidar mulai acuh padanya. Dia lebih mementingkan minuman memabukkan itu daripada mendengarkannya.


"Hem?" tanya Haidar, tapi masih tetap menenggak minuman yang kedua.


"Kamu mau dengar apa sih? Tentang perceraian aku semua lancar, kamu jangan khawatir. Aku duda sekarang! Kalau besok kamu mau menikah dengan aku juga bisa!'" Haidar menggerakan alisnya ke atas dan ke bawah. Dia menarik pinggang kekasihnya untuk duduk di atas pangkuanya. Memeluknya erat dan juga menciumi leher dan pipi Vio dengan gemas.


"Ih kamu, genit. Hentikan!" Vio mendorong kepala Haidar yang terus saja menyosornya, dia merasa geli, Haidar memutuskan untuk memanjangkan bulu halus di rahangnya.

__ADS_1


Haidar mengeluarkan sesuatu yang ada di saku di balik jasnya. Dia membukanya dan mengambil tangan Vio.


"Vi, aku gak mau kita tunangan. Kita langsung menikah saja. Bagaimana?" tanya Haidar seraya memasukan cincin itu di jari manis Vio, seperti yang dia duga, jari manis Yumna dan jari manis Vio sama ukurannya. Dia senang akan hal itu.


Mata Vio berbinar bahagia. Cincin dengan berlian indah itu kini tersemat di jari manisnya. Terlihat indah, cantik, dan bercahaya. Dia mengangkat tangannya dan menatap cincin itu dengan senyuman riang.


"Aku mau. Tapi kenapa gak romantis banget acara lamarannya?!" Vio memberengut sebal, pria ini tak penah bisa romantis sedari dulu.


"Nanti. Aku akan cari waktu dan tempat yang pas untuk melamar kamu lagi." Haidar tertawa kecil melihat wajah kekasihnya yang memberengut lucu.


"Mana ada lamaran dua kali?" cerca Viola dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


__ADS_2