YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
176. Mami Bertanya


__ADS_3

Yumna telah sampai di rumah. dia turun dari dalam taksi dan berjalan dengan cepat menuju ke dalam.


Lily yang sedari tadi menunggu kepulangan Yumna sedikit heran dengan tingkah anak gadisnya itu. Wajah Yumna terlihat sembab. Langkah kakinya terlihat kasar seakan ingin membuat retak lantai yang ada di bawahnya.


"Yumna kamu sudah pulang?" pertanyaan Lily membuat Yumna berhenti melangkah. Yumna tadi tidak memperhatikan sekitar sehingga tadi dia terus saja berjalan. Tidak tahu jika ada mama Lily di sana, terlihat Syifa juga sedang tertidur diatas sofa.


"Eh mama? Mama sedang apa di sini?" tanya Yumna kepada Lily.


"Mama menunggu kamu pulang dari tadi. Mama sangat khawatir sampai tidak bisa tidur. Tuh Syifa juga ikut menunggu kamu." Tunjuk Lily ke arah Syifa.


"Maaf Ma, kenapa juga Mama harus menunggu sih? Aku ini sudah bukan anak kecil lagi. Harusnya Mama tidur saja," ucap Yumna sedikit kesal. Mama Lily memang seperti itu, sedari dulu seakan menganggap dirinya seperti anak kecil yang harus selalu dipantau. Terkadang Yumna tidak menyukai hal itu. Membuat pergerakannya tidak bebas.


"Bagaimana Mama bisa tidur, Mama dari tadi khawatir sama kamu. Eh tadi bagaimana kamu bisa bertemu dengan Mitha?" tanya Lily.


"Mami Mitha ada di pesta itu. Dia bersama dengan Haidar," jawab Yumna. Sorot mata Yumna seketika menjadi redup. Terlihat sendu di wajahnya dan itu terlihat oleh Mama Lily.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Lily kepada Yumna. Yumna menganggukan kepalanya. Dia tidak mau membuat mama Lily khawatir.


"Ya sudah kalau begitu sana kamu istirahat dulu," ucap Lily.


"Iya Ma," jawab Yumna.


Yumna kembali berjalan melangkahkan kakinya ke arah tangga. Dengan cepat ia kini berada di dalam kamarnya. Yumna merebahkan diri di atas kasur. Dia tidak peduli untuk mengganti gaun dan juga melepaskan sepatunya.


Yumna mengambil bantal dan menutup wajahnya. Dia biarkan bantal itu di sana beberapa saat lamanya. Nafasnya terasa sesak akibat tertutup oleh bantal itu, tapi dia tidak mempedulikannya. Yumna lebih merasakan sesak rasa di hatinya saat tadi mendengar ucapan Haidar.


...***...


Mitha menatap Haidar yang kini terbaring di ranjang rumah sakit. Putranya itu tadi ia dapati sedang pingsan di trotoar. Beberapa orang mendapati dia terbaring disana, hanya melihat dan saling melirik tanpa mau membantunya.


*A*pa yang terjadi sama kamu Haidar? Kenapa kamu bisa pingsan seperti itu?


Mitha bertanya-tanya dalam hatinya. Dia merasa bingung dengan apa yang terjadi sampai Haidar pingsan seperti itu dan dia juga tidak mendapati Yumna ada di sana.


Mitha tadi terkejut saat melihat Haidar pingsan dan untung saja Juan juga masih ada di sana. Dia membantu Mitha mengevakuasi Haidar ke dalam mobil. Mitha membawa Haidar ke rumah sakit karena khawatir. Anak bandel ini tidak pernah pingsan. Lalu apa yang membuat dia pingsan kali ini?

__ADS_1


Tadi dokter sampai berkata mungkin rasa sakit pada kaki Haidar yang membuat pria ini pingsan, sedikti bengkak di bawah sana. Sepertinya Haidar memaksakan kakinya bergerak dengan keras.


Mitha mengeluarkan hp-nya dari dalam tas. Segera dia mencari nama Yumna dan menekan ikon hijau pada layar benda pipih miliknya.


Mitha sejenak ragu, dia kembali mematikan panggilannya. Apakah dia harus memberitahu Yumna dengan keadaan Haidar saat ini?


"Eughh!" Mitha mengalihkan tatapannya ke arah asal suara. Haidar terlihat membuka matanya. Dia kemudian menutupi matanya itu menggunakan lengan. Rasa silau dari lampu yang ada di atas sana membuat dia tidak bisa melihat dengan baik. Kakinya masih terasa sakit, meski tidak sesakit tadi.


"Haidar. Kamu sudah sadar?!" seru Mitha mendekat ke arah Haidar. Mitha merasa senang karena putranya ini sudah siuman.


"Aku dimana, Mi?" tanya Haidar kepada Mitha. Suaranya terdengar lirih.


"Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan Haidar," ucap Mitha kepada Haidar.


Haidar terdiam. Dia ingat tadi dia mengejar Yumna hingga akhirnya tak sadarkan diri karena merasakan sakit pada kakinya.


"Apa sih yang terjadi sama kamu sampai kamu pingsan seperti itu? Mami kira kamu mengantar Yumna pulang, kalian gak ada di sana tadi," tanya Mitha kepada Haidar. Haidar hanya terdiam mendengar pertanyaan Mitha. Di dalam pikirannya teringat wajah Yumna yang terlihat marah dan juga pukulan wanita itu tadi terhadapnya yang sebenarnya tidak menyakitkan sama sekali.


"Haidar! Apa yang terjadi saat Mami tidak ada? Dan itu juga, Yumna, kemana dia? Tadi Mami tidak melihat ada Yumna disana. kamu ada apa dengan Yumna? Kamu apakan dia?" Mitha mulai curiga dengan putranya ini. Bisa saja Haidar mengatakan sesuatu kepada Yumna, tapi apakah itu?


"Marah? Marah kenapa?" tanya Mitha dengan bingung.


Haidar menggelengkan kepalanya.


"Marah gimana sih?" tanya Mitha dengan penasaran. "Kamu bilang apa sama dia? Atau kamu melakukan hal yang tidak baik sama dia?" taya Mitha lagi. Dia hampir saja mendaratkan cubitannya pada putrannya itu.


"Bukan Mami!" Haidar menepis tangan Mitha yang hampir saja mendarat di perutnya. "Ih, Mami! Aku ini selalu saja salah di mata Mami. Memang Mami pikir aku ini bregs*k gitu sampai melakukan hal seperti itu sama wanita?" tanya Haidar dengan kesal. Maminya ini memang keterlaluan sekali.


"Ya habis kenapa sampai Yumna marah seperti itu dan meninggalkan kamu?" tanya Mitha lagi.


"Aku juga gak tau, Mi. Tadi aku cuma bilang sama dia tentag perasaanku ini ...."


"Terus?" tanya Mitha memotong ucapan putranya.


"Bentar lah, Mi. Belum juga selesai ngomong udah dipotong aja!" ucap Haidar dengan kesal kepada maminya itu.

__ADS_1


"Ya terus apaan? Kenapa dia sampai marah seperti itu?" tanya Mitha dengan tidak sabar.


"Ya aku gak tau, Mi. Dia cuma nanya bukannya aku sama Vio, terus aku bilang, 'kan aku sudah putus sama dia karena dia menghianati aku. Dia ...."


"Astaghfirullah. Haidar! Tentu aja dia marah sama kamu." Mitha merasa geram dengan keterangan dari putranya ini. Pantas saja wanita itu marah. Dengan kesal Mitha memukul kepala anaknya itu dengan menggunakan tas miliknya.


"Aw, Mami. Sakit! seru Haidar kepada sang mami.


"Aku ini sedang ngomong kok Mami timpuk aja. Keterlaluan Mami ini. Udah anak lagi sakit malah dianiaya pula!" kesal Haidar sambi mengusap kepalanya yang sakit.


"Ya kamu memang pantas dapetinnya."


"Ih kok gitu?" tanya Haidar dengan bingung. Apa kesalahannya sampai mami memukulnya dan bilang pantas.


"Kamu tahu gak sih kesalahan kamu dimana?" tanya Mitha dengan kesal kepada Haidar. Haidar hanya menatap Mitha dengan tidak mengerti. Dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menatap Mami Mitha dengan tatapan bak anak TK yang sedang kebingungan memilih sesuatu di depannya.


Mitha menepuk keningnya dengan cukup keras.


"Dasar anak ini kenapa beda sekali sama Bapaknya!" seru Mitha.


"Please deh Mom. jangan berbellit. Gak usah bawa pria tua bangka itu disini. Dia gak ada, lagi bersenang-senang sama daun muda di luar sana," ucap Haidar asal. Mendengar ucapan putranya itu Mitha melotot dengan tajam. Dia siap mengangkat tasnya kembali tinggi-tingi.


"Eh, Mom. Ampun, aku cuma bercanda!" seru Haidar sambil menutupi kepalanya dengan menggunakan tangan. Tak mau lagi benda itu mendarat di kepalanya yang sangat berharga. Bagaimaa jika kepalanya dan wajahnya yang tampan ini benjol dan tak tampan lagi?


"Mi, jangan suka pukul aku pakai tas napa sih? Coba bayangin kalau anak Mami ini benjol dan cacat wajahnya gara-gara ditabok sama Maminya sendiri. Nanti Mami rugi sendiri, gak akan dapat menantu yang cantik!" seru Haidar.


Mitha menurunkan tas yang ada di tangannya. Dia berdecak kesal dengan kelakuan dan kenarsisan putranya ini.


"Makanya kalau ngomong itu dijaga! Jagan asal jeplak. Kamu mau punya mami tiri yang galak?" tanya Mitha.


"Sudah biasa dapat yang galak," jawab Haidar yang kemudian mendapat dua pukulan maut di kepalanya lagi.


...***...


hai-hai. datang lagi nih bawa pengumuman. Yuk kepoin cerita ini

__ADS_1



__ADS_2