YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
134. Kangen Yumna


__ADS_3

Yumna terbangun saat menjelang sore hari. Yumna mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menggaruk lehernya yang tidak gatal. Lalu mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Kok aku bisa disini? Perasaan tadi aku di meja." gumam Yumna. Yumna melihat jam yang sudah hampir jam tiga sore. Ini berarti dirinya tidur hampir selama dua jam. Apa tidak ada yang mencarinya?


Gegas Yumna masuk ke kamar mandi dan mencuci muka. Memoles bibirnya dengan lipstik sedikit.


Yumna keluar dari ruangannya.


"Mbak Win. Apa ada orang yang cari saya?" tanya Yumna.


Wina, sekretaris kakek berdiri dan dengan sopan.


"Ada sih Mbak, beberapa. Tapi tadi sebelumnya Mas Bian sudah menyampaikan sama saya kalau ada apa-apa suruh orang ke ruangannya saja. Katanya Mbak Yumna sedang istirahat karena lelah, ya? Apa Mbak Yumna kurang sehat? Mau saya carikan obat?" tanya Wina. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah. Tadi saya minum obat sakit kepala dan efeknya malah mengantuk. Gak sadar kalau ketiduran. Hehe..."

__ADS_1


"Terimakasih ya, Mbak Win. Kalau nanti ada yang cari saya gak apa-apa, suruh masuk aja." Wina mengangguk kali ini. Lalu kembali pada pekerjaannya saat setelah Yumna masuk kembali ke ruangannya.


Yumna terdiam menatap ke arah luar jendela. Teringat mungkin saja Bian yang memindahkan dirinya tadi.


***


Suara dentuman musik terdengar telinga. Cahaya lampu kelap kelip membuat pusing bagi yang tidak pernah melangkahkan kaki kesana. Atoma menyenangkan dari minuman dan parfum saling berlomba mencapai hidung.


Disini lah Haidar berada. Club malam. Haidar sedang duduk di depan meja bartender, satu sloki minuman di depannya masih utuh belum tersentuh. Tidak juga berniat untuk turun ke lantai dansa meski beberapa teman barunya mengajaknya turun.


Haidar menatap layar hpnya. Sudah beberapa bulan dia tidak bertemu dengan wanita ini. Apa kabar dia? Apakah dia baik-baik saja? Dia wanita yang sangat menyebalkan, tidak mau mengalah, bar-bar, pokoknya sangat, sangat menyebalkan. Tapi kenapa dia sangat merindukannya?


Beberapa orang menyapa mereka. Ben hanya mengangkat tangannya untuk melambai sejenak lalu kembali pada Haidar. Tubuhnya kembali bergerak seirama dengan hentakan musik.


"Pulang yuk!" aja Ben kemudian. Sudah hampir satu jam Haidar disini dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan minuman pun tidak ia sentuh sama sekali.

__ADS_1


"Duluan aja sana gih. Gue masih mau sendiri." usir Haidar pada sahabat sekaligus temannya itu.


"Hei. Elo kesini buat apa sih? Cuma untuk nongkrong gak jelas? Minum enggak. Dansa juga enggak. Bete gue!" kesal Ben, lalu mengambil gelas milik Haidar dan menenggaknya habis. Haidar terdiam tanpa protes. Dia lebih memilih diam terus mengamati wajah Yumna didalam ponselnya. Kapan sekiranya mereka akan bertemu kembali?


"Elo cinta banget ya sama Yumna?" tanya Ben.


Haidar hanya mengangkat kedua bahunya.


"Gak tau. Gue cuma gak mau jauh dari dia. Gue cuma selalu ingin lihat senyum dia. Dan gilanya, gue seneng kalau dia marah-marah sama gue. Awalnya kesal ama dia, tapi sekarang gak ada dia hidup gue jadi sepi." ujar Haidar. Ben hanya manggut-manggut di kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2