
Haidar dibangunkan saat Yumna meringis kesakitan. Dalam kantuknya dia melihat dokter dan perawat tengah mengurusi Yumna, semua orang juga sudah keluar dari ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Haidar menatap Arya yang membangunkannya.
"Yumna sepertinya mau lahiran. Sana cuci muka dan bersiap ke ruangan bersalin," titah sang ayah. Haidar langsung melompat bangun dan segera pergi ke kamar mandi dengan cepat. Saat dia keluar, Yumna sudah dibawa pergi oleh perawat ke ruangan bersalin.
Haidar segera melajukan langkah kakinya dengan cepat menuju ke ruangan tersebut.
"Ada yang mau menemani pasien di dalam?" tanya dokter saat Haidar belum sampai ke dalam. Bima maju, tapi segera Lily cegah dan menggelengkan kepalanya. Bima menatap pada sang istri. Apakah Lily tidak tahu jika dia mengkhawatirkan putrinya?
"Jadi, siapa yang akan masuk?" tanya dokter wanita itu lagi.
Lily menatap Haidar dan menyuruhnya masuk. Semua orang menatap Lily. Mitha dan Arya tidak mengira jika Lily berpikir bijaksana dengan menyuruh Haidar masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Mari Pak Haidar, silakan masuk," ucap dokter itu mengajak Haidar.
Haidar menatap sang ibu dan hanya diberikan anggukkan kepala olehnya. Dia mengikuti langkah dokter dan segera memakai pakaian khusus di ruangan tersebut.
Mitha mendekati Lily. "Terima kasih, Ly. Terima kasih," ucap wanita itu menggenggam tangan Lily. Lily tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, sama-sama," ucap Lily. Mitha memeluk Lily dengan sayang. Dia yakin jika mertua putranya ini tidak akan membuat kekecewaan.
"Mas," panggil Lily, sadar dengan raut wajah suaminya, Lily menyandarkan kepala di bahu bidang sang suami. "Tau nggak, apa yang dirasain kami para wanita saat melahirkan?" ujar Lily, Bima terdiam. "Dulu, waktu aku melahirkan Yumna, aku juga pengen ditemenin suami." Lily menelusupkan jemari tangannya pada jemari besar sang suami.
"Ya, aku sadar sih waktu itu, aku egois karena sudah pergi dari kamu. Tapi dalam hati ini aku nangis karena nggak ada kamu. Mas Adit juga nggak bisa diandalkan, malah pingsan!" ujar Lily mengingat waktu dulu saat dirinya melahirkan di Surabaya.
Bima terkekeh mendengar ucapan sang istri. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menemukan Lily dengan cepat. Juga mungkin akan merasa bersalah juga dengan Yumna jika dirinya masuk ke dalam sana.
__ADS_1
"Ya, terima kasih, telah melahirkan anak-anak yang lucu untuk aku. Aku lapar, kita pergi cari makanan?" tanya Bima. Lily tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tapi di kantin aja ya. Aku nggak mau kalau Yumna lahiran dan kita nggak ada," ucap Lily. Bima menganggukkan kepalanya dan mengajak sang istri pergi. Lily berpamitan sebentar kepada besannya untuk pergi ke kantin.
Bukan tidak ingin menunggu Yumna melahirkan, tapi Lily sedang menjaga perasaan Bima saat ini. Bima juga belum mengisi perutnya sedari siang tadi dan Lily sangat khawatir jika Bima akan terkena sakit, karena akhir-akhir ini kondisi Bima juga tidak terlalu baik.
"Papa, Mama, mau kemana?" tanya Syifa saat melihat orang tuanya pergi.
"Mau ke kantin."
"Ikut!" ucap Syifa, tapi Arkhan menahan tangan kakaknya itu dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di sini.
"Nggak usah ganggu orang tua!" ujar Arkhan memperingatkan. Syifa mengerucutkan bibirnya dan terpaksa tinggal di sini.
__ADS_1