YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
148. Tidak Pernah Menyusahkan Mami


__ADS_3

Haidar sudah sampai di rumah, mami membantu Haidar mendorong kursi roda, sedangkan Agnes membawakan tas milik Haidar. Mereka kini sudah sampai di dalam rumah. Mami segera memanggil salah satu asisten untuk membantu Agnes membawakan tas ke kamar tamu.


"Mi, kok di kamar tamu sih?" Haidar bertanya dengan bingung saat mami membawanya ke sana.


"Terus kalau mau di mana?" Agnes berkata sambil melemparkan tubuhnya di atas kasur.


"Kamarku kan di atas, Mi!" Haidar protes. Dia abaikan pertanyaan dari sepupunya itu


"Elo sadar diri dong. Kaki Lu lagi kayak gitu, Lu mau guling di tangga dari lantai atas ke bawah?" Agnes berkata dengan tidak berperasaan. Masa bodoh dengan pemikiran sepupunya ini. Sudah biasa!


"Dasar lo sepupu nggak punya hati!" Haidar mencerca Agnes dari tempatnya. Kalau saja kakinya bisa digerakkan, dia pasti akan menghambur ke arah Agnes dan mencubit mulut wanita itu dengan gemas.


"Ya kali lo mau terjun bebas!" Agnes tertawa lalu dia bangkit dari atas kasur dan berjalan meninggalkan Haidar. Mitha hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anak ini. Tidak pernah bisa akur.

__ADS_1


"Mami. Aku mau di kamarku!" rengek Haidar dengan manja. Dia menatap mami dengan muka membalasnya.


"Kamu nanti naik turunnya susah. Mami enggak mau direpotkan naik turun ke lantai atas karena kamu berteriak memanggil," ucap mami dengan sedikit nada kesal pada suaranya. Haidar memutar bola mata dengan malas.


"Keterlaluan sekali! Aku ini kan sedang sakit, wajar dong kalau sesekali Mami aku repot kan." Haidar bersungut, sama kesalnya dengan mami. Mami memukul kepala Haidar cukup keras, hingga pria itu terpekik kesakitan.


"Sakit Mami!" Haidar berseru dengan marah sambil memegangi kepalanya yang sakit. Mami memutar kursi roda Haidar hingga pria itu kini berhadapan dengan mami. Kedua tangan mami bertolak di pinggang, mami melotot tajam ke arah putra sulungnya itu.


"Kamu bilang sesekali?" gerutu mami pada Haidar. Mami menunduk seraya menunjuk ke arah kening Haidar dengan ujung telunjuknya. Kepala Haidar hingga tertolak ke belakang akibat perbuatan mami.


Haidar berdecak kesal dengan perlakuan mami terhadapnya. Dia seperti anak tiri saja, atau memang iya? Entahlah!


"Kenapa mami jahat sekali? Aku ini anakmu bukan, sih?" tanya Haidar dengan kesal.

__ADS_1


"Mau kamu Mami ingatkan?! Mau M aami perlihatkan bekas luka operasi karena mengeluarkan kamu dari perut ini?!" mami semakin kesal dengan anak ini. Entah dia mirip dengan siapa.


"Sudahlah. Bicara dengan kamu membuat Mami stress. Mami keluar dulu mau ngobrol sama Agnes!" Mami kini meninggalkan Haidar di tempatnya. Haidar menatap heran sekaligus kesal pada sosok Mami yang kini meninggalkannya sendirian.


Mami berjalan keluar dari kamar tamu yang kini akan menjadi kamar Haidar sementara waktu. Lagi-lagi Haidar berdecak dengan kesal, dia ingin berbaring tapi sulit untuk bergerak, sedangkan mami sudah meninggalkannya dan kini terdengar suaranya tengah tertawa bersama Agnes.


Haidar menggerakkan kursi rodanya untuk mendekat ke arah ranjang, dia berusaha berpindah tempat meski kini kesusahan.


"Nasib. Kenapa menyedihkan sekali hidupku?" gumam Haidar.


Susah payah kini Haidar telah berhasil memindahkan dirinya ke atas tempat tidur.


Haidar berbaring dengan kaku, tangan dan kakinya masih terasa sakit.

__ADS_1


"Andaikan Yumna ada di sini." gumam Haidar. Rasanya hidupnya sudah tidak sama lagi dengan dahulu. Dia lebih banyak merasa kesepian setelah kepergian Yumna. Haidar berjanji setelah dia sembuh nanti dia kan mencari Yumna di manapun dan sampai kapan pun.


__ADS_2