
Jodoh?
Ya ampun! Bahkan, Yumna tidak menyangka dengan pernyataan papanya ini. Jodoh, gaes ....
Rasanya Yumna ingin menghilang saja dari muka bumi ini. Eh jangan lah, jangan muka bumi, mati dong!
"Pa. Papa sadar gak sih dengan apa yang Papa bicarakan? Jodoh? Yumna saja baru selesai beberapa bulan yang lalu, Papa bilang Papa akan jodohkan aku?" ucap Yumna setelah susah payah menelan makanannya.
"Kenapa? Kamu gak setuju?" tanya Bima kepada putrinya itu. Yumna menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi menatap papanya dengan kesal.
"Pa. Yumna masih mau sendiri. Gak mau menikah dekat-dekat ini." protes Yumna, makanan yang ada di depannya sudah tidak berselera lagi untuk dia makan.
Bima menyunggingkan senyuman di bibirnya. Dia menggelengkan kepalanya membuat Yumna bingung. "Papa bilang menjodohkan. bukan menikahkan. Kalau kalian nantinya jodoh sampai menikah ya Papa senang dong!" seru Bima. Yumna mendecih sebal. Dia tadi sudah memikirkan tentang pernikahan ternyata bukan. Syukurlah, tapi dia juga sudah terlanjur kesal dengan permintaan papanya ini.
"Mau ya. Papa akan sangat tenang kalau kamu mau menerima perjodohan ini." Bima memohon dengan memelas.
"Papa apa-apaan sih Pa. Kayak aku gak laku aja!" Yumna berkata dengan kesal. Kali ini dia mengambil garpunya dan menusuk beefsteak yang ada di depannya dengan kasar. Bunyi dentingan garpu dan piring terdengar dengan jelas.
__ADS_1
"Ya gak apa-apa. Papa cuma mau kamu menjalani hubungan lagi dengan pria lain. Siapa tau ada keinginan kamu untuk menikah dan nantinya punya anak. Kalau kalian menikah nanti anak kalian gak apa, Papa dan Mama yang urus. Kalian gak perlu memikirkan soal anak." ucapan Papa Bima membuat mata Yumna melotot. Bagaimana ada orangtua semacam ini? yang menyuruh anaknya secara tidak langsung untuk meninggalkan buah hatinya?
"Papa gila!" ucap Yumna lalu mempercepat makannya. Yumna rasanya ingin segera kembali ke kantor tidak ingin berlama-lama disini dan berakibat papanya terus bicara melantur tidak karuan.
"Loh, Papa gila kenapa?" tanya Bima dengan bingung. "Apa Papa salah bicara seperti itu?"
"Iya. Papa salah! Gak ada hujan gak ada angin tiba-tiba bicara soal jodoh dan anak." Yumna kesal, dia lalu bangkit dan meninggalkan papanya yang kini terdiam bingung di kursinya.
"Eh mau kemana?" tanya Bima dengan setengah berteriak.
"Pulang!" jawab Yumna tanpa menoleh.
"Hem. Nanti siang aku balik." Yumna menjawab kembali. Dia terus saja berjalan keluar dari tempat itu dengan langkah yang cepat.
Bima merasa bingung, dia menggaruk belakang kepalanya dengan pelan.
"Salahku dimana? aku kan hanya menawarkan akan mengurus cucuku. kenapa Yumna marah?" gumam Bima pelan.
__ADS_1
Yumna terus berjalan dan menghentikan sebuah taksi. Dia menyebutkan sebuah alamat. Dengan cepat taksi itu pergi ke alamat yang Yumna sebutkan tadi.
Tidak sampai satu jam, Yumna telah sampai di alamat yang dituju. Bibirnya tersenyum menatap sebuah rumah yang sudah lama tidak ia datangi. Yumna segera masuk ke dalam rumah itu. Beberapa pelayan yang ada disana mengangguk hormat padanya.
"Yumna!!!" Suara Tia melengking seraya berlari kecil mendekat ke arah Yumna. Kedua tangannya terbuka dengan lebar, siap merengkuh tubuh kurus Yumna.
"Tia. Aku kangen!" Yumna dan Tia saling berpelukan. Mereka bagai Lala dan Po yang sudah lama tidak bertemu, saling memeluk dengan erat.
"Kapan kamu pulang? Aku khawatir kata mama kamu pergi." seru Tia dengan mencubit lengan Yumna sedikit keras. Dia sangat gemas dengan sahabatnya ini. menghilang tanpa kabar selama beberapa bulan.
"Sakit!" seru Yumna terpekik karena barbarnya sahabatnya ini.
"Rasakan! Ini akibatnya kalau kamu suka kabur dari aku!" Tia masih mencubit lengan Yumna dengan gemas.
"Aduh maaf. Aku hanya ingin memenangkan diri!". jawab Yumna.
"Tia, siapa itu? Teman kamu ya?" Suara seorang pria dari dalam rumah membuat Yumna menoleh kan kepalanya ke arah asal suara.
__ADS_1
"iya kak! Apa makananya sudah matang?" Tia berseru juga. menjawab suara yang berasal dari dalam rumahnya.
"Sudah. Kamu ... "