YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
143. Permintaan Mitha


__ADS_3

Haidar menghembuskan nafasnya mendengar titah dari mami. Benar-benar kali ini Mami tidak akan melepasnya.


Haruskah aku jadi anak baik sekarang?


"Mami mau pergi. Kamu baik-baik ya disini. Ada penjaga yang akan bantu kamu kalau kamu butuh apa-apa."


"Hem ...." Haidar tanpa memutar tubuhnya. Mitha menggelengkan kepalanya. Masa bodoh jika anaknya marah dengan keputusannya. Semua sudah bulat menjadi keputusannya. Yang penting Haidar tidak kembali dengan wanita itu.


Mami dengan segera pergi dari rumah sakit dan menuju ke suatu tempat.


Sampai di sebuah rumah Mitha bertemu dengan penjaga, dan penjaga itupun segera mencari si pemilik rumah. Tak lama dia kembali dan mempersilahkan Mitha untuk masuk.


"Mbak Mitha apa kabar?" tanya Lily yang melihat Mitha datang ke rumahnya. Mereka saling memeluk penuh rindu.


"Baik, Lily. Kamu apa kabar? Lama kita gak ketemu!" ucap Mitha.


"Baik, Mbak. Ayo masuk." Keduanya masuk ke dalam rumah.


"Lily. Apa kabar dengan yang lainnya?" tanya Mitha lagi.

__ADS_1


"Semua baik, Mbak. Keluarga Mbak Mitha?" tanya Lily balik bertanya.


Mitha menundukkan kepalanya. "Haidar kecelakaan, Ly."


"Ya ampun! Kapan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lily tak percaya.


"Ya begitulah. Patah tulang tangan dan kaki," ujar Mitha.


"Em sebenarnya maksud kedatangan ku kesini karna mau bertanya soal Yumna. Maafkan kelakuan Haidar selama ini Ly. Sungguh Mbak gak tahu kalau dia berani melakukan hal itu. Mbak yang gak bisa mendidik Haidar dengan baik. Haidar sekarang sudah menyesal karena tidak mempertahankan Yumna." sesal Mitha.


"Sudahlah, Mbak. Bukan salah Mbak Mitha. Anak-anak kita sudah besar. Mereka sudah punya pemikiran sendiri saat melakukan hal itu. Kita bisa apa, Mbak!" Lily menenangkan mantan besannya.


"Aku juga sedih dengan pisahnya mereka, Mbak. Tidak ada orangtua yang mau anaknya bercerai. Tapi ya mau gimana lagi kalau memang tidak bisa dipertahankan?" pasrah Lily. Keduanya kini hanya diam.


Seorang maid membawakan minuman untuk Mitha dan Lily.


"Yumna dimana sekarang? Haidar bilang Yumna menghilang, nomornya juga tidak aktif lagi." tanya Mitha.


"Yumna sedang menenangkan diri, Mbak. Aku juga gak tau anak itu dimana." dusta Lily.

__ADS_1


"Jadi kamu gak tahu Yumna ada dimana?" Mitha tidak percaya.


Lily menggelengkan kepalanya. "Anak itu persis seperti aku, Mbak. Kalau ingin menenangkan diri dia gak mau ada seorangpun yang tau keberadaan dia dimana. Tapi dia selalu mengabari kami kalau dia baik-baik saja."


"Kita bisa cek lokasi nomor dia kan?" tanya Mitha antusias. Rasa rindu pada Yumna sangat lah menggebu.


"Yumna hanya mengirim email. Bukan telpon, Mbak. Kami cukup sulit lacak dia." Lily melirik Mitha, takut jika kebohongannya diketahui oleh wanita itu. Lily cukup kenal Mitha seperti apa.


"Aku sangat kangen dengan Yumna, Ly. Gak ada dia rumah jadi sepi." tutur Mitha sedih.


"Iya Mbak aku juga sedih."


"Kamu masih punya 3 yang lain, sedangkan aku cuma ada satu dan bandelnya minta ampun!"


"Ly. Jika suatu saat Haidar ingin mendekati Yumna, apa kamu dan Mas Bima akan memberi kesempatan lagi! Haidar belum menjatuhkan talak pada Yumna." tanya Mitha penuh harap.


Lily menghembuskan nafasnya. "Aku terserah Yumna saja, Mbak. Ini hidup Yumna. Aku gak berhak larang dia atau mengatur hidup dia."


Lily dan Mitha saling terdiam.

__ADS_1


__ADS_2