YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
329


__ADS_3

"Yumna, gimana?" tanya Mira mendekat ke arah Yumna. Mira menunggu di luar pintu karena penasaran berapa kisaran denda yang harus Yumna bayarkan untuk resignnya ini. Yumna memberikn kertas yang baru saja dia dapatkan.


"Eh, astaga!" ucap Mira terkejut dengan denda yang ada. Jika mungkin untuk Yumna, angka itu tidak lah masalah, tapi beda dengan dirinya yang bukan orang berada.


Mira menghela napasnya terdengar sedikit kasar untuk pendengaran Yumna.


"Aku bakalan betah deh, setidaknya sampai kontrakku di sini selesai. Memang sih dengan tunjangan dan lain-lain yang ada lebih ringan juga, tapi ... sayang banget kalau harus bayar segini juga," ucap Mira.


Yumna mengangguk setuju.


"Ya, lumayan juga, Mir. Emang kalau kamu keluar dari sini mau kemana?" tanya Yumna ingin tahu, MIra mengangkat kedua bahunya.


"Aku cuma bilang aja, sayang lah kalau aku harus keluar dari sini. Gajinya lumayan gede," ucap Mira tersenyum malu. Bagi dirinya yang tak berpunya, tentu saja gaji yang ditawarkan di sini sangatlah besar, hanya harus mengikuti aturan yang berlaku yang terkadang mencekik lehernya, belum lagi dengan ucapan jahat dari teman satu divisinya.


Kedua orang itu keluar dari perusahaan tersebut, para wanita yang selalu mencibir keduanya, setelah tahu kenyataan siapa Yumna sebenarnya, tidak pernah nampak lagi dan tidak pernah berani menyinggung Yumna. Takut jika mereka berada di dalam masalah. Mereka hanya menyingkir dan berusaha untuk menutup mulut, meski di luar jauh di belakang Yumna, tetap saja membicarakan istri dari Haidar tersebut.


Haidar melihat Yumna dari kejauhan, segera keluar saat melihat istrinya keluar dari perusahaan tersebut. Yumna yang sekarang lebih ceria semenjak kehamilannya melambaikan tangannya ke arah sang suami berada.


"Aku duluan ya," pamit Yumna. "Nanti kalau hari libur mainlah ke rumah kecil kami," tawar Yumna. Mira hanya mengangguk kecil dan tersenyum, dia yakin gubuk kecil yang dimaksud berbeda dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Yumna orang yang suka merendah, jadi 'rumah kecil' dalam artian Yumna dan dirinya tentu saja berbeda.


"Iya, nanti aku akan sempatkan main ke rumah kamu," ucap Mira. Yumna tersenyum senang, tapi juga sedih karena akan meninggalkan sahabat sebaik Mira yang sedari awal dia masuk ke perusahaan ini selalu saja menemaninya baik suka mau pun duka.


Yumna melambaikan tangannya ke arah Mira, juga dengan Mira, membalas lambaian tangan sahabatnya yang hendak pergi meninggalkan dia sendirian.


"Ah, aku nggak ada teman lagi," ucap Mira saat Yumna sudah pergi dari dekatnya. Sedih, tapi mau bagaimana lagi. Yumna juga berhak untuk kehidupannya sendiri.


"Kamu sudah pamitan dengan yang lainnya?" tanya Haidar saat Yumna sudah masuk ke dalam mobil. Yumna menganggukkan kepala.


"Sudah." Tampak raut sedih terdapat pada wajahnya.


Haidar mengusap puncak kepala Yumna dengan lembut dan tersenyum. "Semua akan terbiasa nanti. Aku nggak mau lihat kamu sedih. Kita pulang ke rumah atau ke rumah mama?" tanya Haidar mencoba untuk menenangkan hati Yumna. Setidaknya jika bertemu dengan keluarganya pasti kesedihan Yumna akan menghilang.


Yumna menggelengkan kepala. "Kita pulang aja ke rumah. Masakin aku makan malam, ya," pinta Yumna pada sang suami.


Senyum tersungging di bibir Haidar. Permintaan sang istri tidak pernah sulit untuknya. Bersyukur dengan keinginan Yumna yang tidak membuatnya repot, meski iya rasanya dia ingin jika berjuang lebih lagi untuk mengidam sang istri.


"Oke, makan malam apa yang harus aku buatkan?"


"Apa aja, aku nggak susah kok," ucap Yumna lagi sambil menyandarkan kepalanya pada belakang kursinya.


Mobil pun pergi dari depan perusahaan tersebut dengan kecepatan yang sedang. Haidar sangat berhati-hati setelah tahu jika Yumna tengah hamil. Sebisa mungkin dia tidak ingin membuat istrinya merasa tidak nyaman.


"Sayang, nanti kalau ada yang jual permen kapas berhenti ya. Biasanya ada di lampu merah dekat jalan pulang," ucap Yumna meminta.


"Cuma itu?" tanya Haidar.

__ADS_1


"Hem, cuma itu aja."


Makanan yang Yumna maksud dijual oleh anak kecil di lampu merah, Yumna menunjuk anak perempuan dengan pakaian kebesaran yang duduk di pinggiran jalan tengah menunggu pembeli. Wajah itu tampak ceria berbincang dengan teman sebayanya.


Kasihan.


Anak sekecil itu sudah merasakan sulitnya hidup dan berjualan permen kapas juga tisu.


Yumna membeli dua bungkus permen kapas dan membeli satu tisu yang dijajakan oleh kedua anak itu. Dia juga mengeluarkan uang selembaran seratus ribu untuk keduanya.


"Ambil saja kembaliannya," ucap Yumna sambil menyodorkan uang tersebut dan menerima dua permen kapas dan satu buah tisu. Dua anak perempuan itu melompat dan bersorak gembira saat mendapati uang dengan nominal besar tersebut, setelah itu Yumna dan Haidar melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke rumah.


Pak Dani membukakan pintu gerbang untuk mobil yang Haidar bawa. Mobil itu berhenti karena perintah dari Yumna.


"Pak Dan. Buat Bapak," ucap Yumna memberikan gula-gula kapas itu untuk Pak Dani satu bungkus. Haidar menatap heran sang istri, tapi dia tidak protes apa pun. Mobil itu berjalan lagi hingga berhenti di parkiran mobil, berjajar dengan dua mobil yang lainnya, mobil Yumna dan juga mobil mewah yang dihadiahkan oleh Papi Arya waktu ulang tahun Yumna kemarin.


"Kayaknya aku harus simpan satu mobil ini di rumah mama," ucap Yumna saat keluar dari mobil.


"Yang mana?" tanya Haidar. Yumna menunjuk mobil kesayangannya, sebenarnya berat untuk menyimpannya di rumah Keluarga Mahendra, tapi di rumah ini sudah sempit karena parkiran mereka juga sudah penuh.


"Bukannya itu mobil kesayangan kamu?" tanya Haidar.


"Aku nggak mungkin juga kalau simpan mobil hadiah dari papi di rumah mama, nanti papi sedih dong," ucap Yumna.


"Ya, nggak apa-apa. Kan papi nggak tau," ujar Haidar berusaha untuk menghibur Yumna, tapak wajah itu sedih sekali.


"Apa, kita bangun parkiran lagi? Jadi, nggak perlu mobil ini disimpan di rumah mama?" tanya Haidar memberi usul.


Yumna melihat sekeliling yang ada di depannya, lalu menggelengkan kepala. "Rumah ini bakalan jadi berbeda," ucap Yumna. "Aku udah suka dengan rumah ini, seperti ini," tambahnya lagi.


Haidar mendekat ke arah sang istri dan menarik tangannya. "Ya sudah. Apa pun keputusan kamu, aku akan ikuti. Apa yang kamu inginkan aku akan dukung. Lagian juga kamu kan jarang juga pergi ke luar. Kalau kamu mau pake mobil tinggal bilang sama aku, aku bakalan suruh sopir ambilkan ke rumah mama. Gimana?" tanya Haidar. Yumna tersenyum dan mengangguk saja.


Ya, lagian juga benar. Sepertinya dia tidak akan sering keluar jika memang tidak banyak urusan di luar. Mungkin hanya pergi ke rumah Keluarga Mahendra atau ke rumah Keluarga Rahadian.


"Ayo, aku masakkan makan malam," ucap Haidar.


Dua orang itu pergi ke dalam rumah, sementara Haidar memasak, Yumna membersihkan dirinya di kamar.


Yumna menikmati permen kapas yang telah dibelinya tadi dengan perlahan sambil melihat Haidar yang sibuk dengan wajan dan penggorengan.


Makan malam telah siap, Yumna dan Haidar telah duduk di meja makan dan menikmati makanan tersebut. Yumna tampak menikmati apa yang Haidar suguhkan. Dia tidak protes dengan masakan yang Haidar buat. Terkadang laki-laki itu menatap Yumna, menunggu apa yang akan dia katakan. Akan tetapi, bila tidak mengeluarkan suara apapun selain mengatakan jika masakannya enak.


"Syukurlah kalau kamu suka," ucap Haidar lega. Dia kemudian mengambil nasi dan lauk-pauk yang dia masak tadi. Haidar memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut, tapi satu detik kemudian dia memuntahkan makanan itu kembali.


"Yumna, jangan dimakan lagi," ucap Haidar hendak merebut piring milik Yumna.

__ADS_1


Yumna menahan piring miliknya agar tidak diambil. "Kenapa jangan dimakan?" tanya Yumna bingung.


"Ini asin. Sudah kamu jangan makan lagi. Kita beli saja makanan di luar," ucap Haidar dengan merasa tidak enak hati. Yumna menatap suaminya itu tidak suka, dia menarik piringnya dan kembali menikmati makanan tersebut dengan santai.


"Aku nggak peduli yang penting ini masakan kamu," ucap Yumna yang membuat Haidar melongo keheranan. Yumna tampak tidak keberatan memakan makanan tersebut, malah dia terlihat sangat menikmati sekali.


"Jangan kamu memaksakan karena aku yang memasak," tegur Haidar. Sumpah, masakannya kali ini rasanya tidak karuan.


"Aku nggak maksain diri. Memang ini enak buat aku. Aku mau masakan kamu," ucap Yumna lagi.


Haidar bisa apa selain membiarkan istrinya itu makan kembali, masih untung tidak dimuntahkan.


"Kamu makan dulu deh aku mau ke kamar dulu sebentar," pamit Haidar kepada sang istri. Yumna hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.


Haidar kemudian pergi ke kamarnya dan segera mengambil hp miliknya. Dengan cepat dia menghubungi seseorang.


"Halo Mami. Mi, Yumna aneh banget hari ini," ucap Haidar mengadu pada sang mami. Mitha yang sedang duduk selonjoran sambil menonton TV segera menegakkan tubuhnya, terkejut dengan apa yang anaknya katakan.


"Aneh gimana?" tanya Mitha dengan cepat. Arya yang ada di sebelahnya menatap heran. Haidar pun mengatakan apa yang tadi terjadi tentang Yumna.


"Aneh banget kan, Mi?"


Mendengar cerita putranya itu membuat Mitha tertawa terbahak-bahak, Haidar menjadi kesal karena ibunya tidak menjawab malah tertawa terpingkal di sana.


"Ya memangnya kenapa kalau memang Yumna mau seperti itu. Yang terpenting 'kan itu juga nggak bikin dia dalam bahaya. Mungkin aja memang dia ngidam pingin masakan kamu," ucap Mitha yang masih tertawa dan mengusap sudut matanya yang basah.


"Iya tapi kan itu aneh. Masa iya masakan rasa asin dia makan juga," ungkap Haidar.


Mitha menangkap nada kekhawatiran yang terdengar dari putranya ini. Dia hanya bisa menenangkan sang putra.


"Sudah kamu jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa sama Yumna. Kalau memang dokter tidak melarang berarti tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir," ujar Mitha. Akan tetapi, ucapan ibunya itu rasanya masih membuat Haidar tidak merasa tenang.


"Mami yakin soal itu?" tanya Haidar sekali lagi.


"Iya mami yakin. Selama dia tidak melakukan hal yang berbahaya, selama dokter tidak melarang," ucap Mitha sekali lagi. Akhirnya Haidar hanya bisa percaya dengan apa yang Mitha katakan, dia melongok dari dalam kamr, melihat Yumna yang tampak dari tempatnya berdiri. Benar, Yumna tidak apa-apa dan tampak sangat menikmati makanan yang dia buat.


"Ya sudah, deh. Aku tutup dulu teleponnya," pamit Haidar lalu menutup telepon dan kembali ke tempat di mana Yumna berada.


Haidar terdiam ketika melihat Yumna sudah melahap makanan di piring lumayan banyak, lauk yang dia buat barusan kini ada di dalam piring Yumna dan hanya menyisakan secukupnya untuknya.


"Sayang, aku makan ini semua kamu nggak marah, kan?" tanya Yumna menatap Haidar. Suaminya itu hanya mengangguk dan tersenyum saja.


Ya, sepertinya tidak apa-apa kali ini. Asalkan tidak dengan yang berbahaya.


...****************...

__ADS_1


mampir sini yuk



__ADS_2