
Semua telah kembali ke rumah masing-masing. Yumna dan Haidar kali ini pulang terlebih dahulu ke rumah Keluarga Mahendra seperti permintaan Yumna, setelah tiga malam baru mereka akan menginap di rumah Keluarga Rahadian. Haidar tidak keberatan mengenai hal itu karena setelah minggu depan dia dan Yumna akan menempati rumah milik Bima yang dulu ditempati bersama dengan Lily.
Haidar merebahkan dirinya di atas kasur dengan nyaman. Sudah sangat lama sekali dirinya tidak pernah masuk lagi ke kamar ini. Sebenarnya sedikit canggung masuk ke dalam rumah Keluarga Mahendra setelah apa yang dia lakukan dulu kepada Yumna.
"Yumna," panggil Haidar saat Yumna sedang melepaskan ikatan rambut di kepalanya.
"Hem?"
"Apa gak sebaiknya kita tinggal di rumah papi aja? Kan papi juga punya rumah yang lain yang akan dikasihkan buat kita," ucap Haidar dengan menatap langit-langit kamarnya. Sebenarnya agak terganggu dengan keinginan Yumna yang satu ini. Rasanya sedikit membuat tak nyaman saja jika mereka tinggal di rumah itu.
"Memangnya kenapa kalau tinggal di rumah papa? Kamu keberatan?" tanya Yumna melirik Haidar dari ekor matanya.
"Gak juga, sih. Tapi, rasanya gimana ya. Seharusnya kan aku yang sediakan rumah untuk kamu," ujar Haidar dengan hati-hati.
"Oh, sama aja itu kamu keberatan, Haidar! Kemarin kan kita udah bicarakan ini, dan kamu bilang oke aja." Yumna sedikit kesal karena Haidar tidak mempunyai pendirian.
"Gak keberatan, cuma rasanya gimana ya ...."
"Iya, itu namanya keberatan! Kan kita udah bahas sebelumnya. Terus, kenapa kamu cuma diam aja kemarin, iya, iya doang? Gak ada tuh maksa buat tinggal di sana," ucap Yumna lagi.
Haidar kini terdiam, memang benar dirinya kemarin mengiyakan karena ingin membuat Yumna senang, nyatanya sekarang dirinya berpikir jika hal itu rasanya kurang pantas saja.
Yumna telah selesai dengan rambutnya, dia mendekat pada Haidar dan duduk di samping suaminya itu.
"Haidar, dengar. Kalau ada sesuatu yang kamu tidak suka, kamu boleh bilang sama aku. Kamu boleh larang aku, jangan kamu cuma diam saja dan sekarang kamu keberatan kaya gini. Aku jadi bingung kalau kamu begini," ucap Yumna dengan menatap Haidar lekat-lekat.
Haidar kini duduk dan memegang tangan Yumna. "Maaf, aku cuma berpikir apa yang ada di dalam kepalaku."
__ADS_1
"Jadi, kita ke rumah papi aja?" tanya Yumna lagi. Sedikit berat jika harus tinggal di sana karena dia tidak tahu di mana rumah milik Arya dan juga bagaimana keadaan rumah itu, apakah membuat nyaman atau tidak.
"Aku nurut aja sama kamu. Kalau kamu ngerasa nyaman dan tidak mau ke rumah papi, kita tinggal di rumah papa aja," ucap Haidar lagi.
"Terus, rumah papi?" tanya Yumna tidak puas mendapatkan jawaban Haidar. Dia sedikit takut jika Haidar merasa terpaksa tinggal di rumah yang dia mau.
"Gak apa-apa, sesekali kita lihat ke sana. Kalau sekiranya kamu suka bisa kita pindahan," ucap Haidar lagi. Yumna mengangguk, meskipun sedikit tidak setuju dengan usulan itu, tapi dia tidak ingin membuat Haidar kecewa.
"Iya," ucapnya pelan. Haidar tersenyum, tapi dia juga merasa bersalah karena melihat sorot mata Yumna yang berbeda seperti itu.
Haidar melihat Yumna yang diam menunduk, dia mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Aku salah ya?" tanya Haidar.
"Eh, salah apa?" Yumna mengangkat kepalanya dan menatap suaminya tidak mengerti.
Yumna menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa, aku juga salah kok. Harusnya aku juga tanya dulu sama kamu apa yang kamu suka dan yang kamu gak suka," ucap Yumna pelan.
Tiba-tiba saja Haidar tertawa terkekeh, membuat Yumna menjadi bingung.
"Kenapa ketawa?"
"Aku cuma lagi pengen ketawa aja."
Yumna semakin tidak mengerti akan ucapan Haidar.
Haidar mendekat dan mencium kening Yumna. "Aneh, rasanya dulu kita gak pernah ya berselisih begini, kenapa sekarang suasananya jadi gak enak, ya?" ujar Haidar dengan terkekeh pelan. Yumna pun sama, mendengar ucapan Haidar membuatnya berpikir demikian. Dia sama tertawa juga.
__ADS_1
"Iya, ih. Kok aneh, ya. Dulu kita fine aja. Kenapa sekarang jadi begini?"
"Gak tau, apa mungkin karena kita sekarang menjalani hubungan ini dengan cinta?" bisik Haidar dan mendekat ke arah Yumna, mencium pipi Yumna dengan lembut membuat wanita itu tersipu malu.
"Yumna. Boleh gak--?" tanya Haidar pelan.
"Boleh apa?" tanya Yumna cepat memotong ucapan suaminya, sedikit berdebar mendengar ucapan Haidar.
"Aku ...."
"Gak boleh!" teriak Yumna sedikit keras sambil melambaikan tangannya di depan dada. Sadar dengan suaranya yang keras setengah berteriak tadi membuat dia malu terhadap suaminya itu, berlebihan sepertinya.
"Aku ... aku sedang gak bisa," ucap Yumna.
"Eh? Gak bisa? Kamu gak bisa apa?" tanya Haidar bingung. "Aku mau mandi dan mau kamu carikan handuk," ucap Haidar yang membuat Yumna menghela napasnya dengan lega. Dadanya bergemuruh karena mengira jika Haidar menginginkan haknya sekarang.
"Oh, handuk ya? I-iya, aku akan ambil sekarang," ucap Yumna lalu berdiri.
Haidar yang melihat keanehan daam diri Yumna menahan tangan itu. "Kamu kenapa pipinya merah?" tanya Haidar.
"Merah? Gak apa-apa, kayaknya di kamar ini terlalu panas, deh."
Ac yang ada di dalam kamar itu jelas sekali menyala dan membuat udara yang ada di dalam sana terasa dingin. "Aku mau ambil handuk dulu." Yumna melepaskan tangan Haidar dan pergi menuju ke lemari.
Haidar terkekeh pelan hampir tanpa suara melihat tingkah Yumna yang canggung seperti itu.
'Astaga! Gimana kalau dia minta?' batin Yumna, dadanya masih berdebar dengan keras membayangkan hal tersebut.
__ADS_1