YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
317. Revisi


__ADS_3

Randy berjalan ke arah di mana Aldy berada. Laki-laki itu tersenyum dan mengulurkannya tangannya memberikan selamat untuk sang sahabat yang kini tengah berbahagia dalam acaranya. Meskipun menurutnya pesta ini sederhana tapi cukup banyak orang dari kalangan atas yang datang ke sana.


"Selamat untukmu, sahabatku. Aku harap dengan bertambahnya usia perusahaan ini kau akan semakin maju dan juga semakin sukses."


Aldy pun meraih uluran tangan dari sahabatnya tersebut, memeluk laki-laki itu dengan singkat dan mendapatkan tepukan pelan pada pundaknya.


"Terima kasih atas kedatangannya, aku kira kamu tidak bisa datang malam ini."


"Sebenarnya aku sangat sibuk sekali, tapi kalau aku tidak datang apa kamu akan terima?" katanya, laki-laki itu sambil tertawa kecil yang mendatangkan pelototan dari Aldy.


"Hah, terserah kau sajalah, kamu memang orang yang tidak menyenangkan sama sekali. Apa salahnya kalau kamu bilang gabut di rumah dan datang ke sini untuk mencari gadis cantik? Aku pasti akan mencarikan untuk kamu, haha!" Aldy tertawa terkekeh saat melihat raut wajah dari Randy yang menjadi cemberut.


"Lupakan saja tentang wanita, rasanya aku masih ingin sendiri saja," ucap Randy.


"Kenapa?"


"Aku menyukai seorang wanita, tapi ternyata dia telah bersuami."


Aldy menatap sahabatnya tak percaya. "Hati-hati, apakah kamu ingin jadi pebinor?" tanya Aldy sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Aku masih punya harga diri, tapi kalau dia berencana untuk bercerai dari suaminya tentu saja aku akan mendukung dia. Haha!"


Lirikan malas Aldy berikan kepada sahabatnya itu. Dia tidak habis pikir kepada laki-laki ini kenapa sampai bisa memikirkan hal tersebut, padahal wanita yang mengantri di belakangnya sangat banyak sekali.


"Yang bener aja! Kamu nggak ada rencana buat seperti itu kan?" tanya Aldy menyelidik. Randy hanya mengangkat kedua bahunya.


"Jangan sampai kamu membuat hubungan suami istri yang baik-baik saja menjadi rusak karena kamu yang egois. Dulu juga aku pernah berpikir untuk melakukan itu, tapi ternyata aku lebih ingin dia bahagia dengan pilihannya," kenang Aldy. Randy melihat tatapan sendu dari sahabatnya, dia tidak percaya jika Aldy pun ternyata sama seperti dirinya.


"Ya ampun kenapa nasib percintaan kita sama?" Randy tertawa kecil, begitu juga dengan Aldy. Dia juga tidak menyangka jika ternyata Randy juga mencintai wanita yang telah bersuami.


"Iya kenapa harus sama? Bodohnya aku dulu, padahal kami saling menyukai satu sama lain, tapi entahlah siapa yang salah dalam hubungan ini. Tidak ada yang saling berbicara sampai akhirnya aku menyesal karena tidak pernah berterus terang sama dia." Aldy menghela napasnya cukup keras, mengembuskannya ke udara.


Dia melirik kepada Randy dan saling tertawa, rasanya lucu sekali dengan kehidupan percintaan mereka yang seperti ini, jelas-jelas banyak wanita yang silih berganti datang dan menawarkan diri, tapi mungkin itulah yang membuat mereka tidak mau. Tidak ada tantangannya sama sekali.


"Aku jadi penasaran siapa orang yang kamu suka?" ucap Randy. Aldy hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aku juga penasaran siapa wanita yang kamu maksud, Bung!" Akhirnya kedua pria itu tertawa bersama.


Suasana pesta semakin ramai, beberapa orang ada yang baru masuk ke dalam sana menikmati hidangan yang telah tersedia.


"Oh ya, mana mami dan papi? Aku belum bertemu dengan mereka," ucap Randy.

__ADS_1


Aldy mengedarkan tatapannya ke arah lain mencari di mana kedua orang tuanya berada, kemudian dia menemukan mereka dan menunjuknya.


"Ternyata mereka ada di sana, ayo akan aku kenalkan kamu kepada seseorang juga."


"Siapa?"


"Seorang pengusaha yang ingin kamu temui sejak lama," ucap Aldy lalu mereka berdua berjalan menuju orang yang dimaksud.


Bima masih berbincang dengan Yoga dan Adit, juga ada Lily, Wanda, dan Celia di antara mereka, sedangkan Syifa, Arkhan dan Azkhan entah ke mana. Mereka bertiga pastinya sedang berburu makanan, dan memang itulah kenyataannya. Kedua adik kembar itu hanya mengikuti sang kakak dan menjaganya dari belakang, jelas mereka tidak suka dengan tatapan para pria kepada kakaknya itu.


"Kalian ini kenapa ikutin aku terus?" tanya Syifa dengan kesal. Dia tidak bisa bergerak dengan bebas karena ada kedua adiknya yang mengikuti.


"Takut kamu nyasar," jawab Azkhan.


Syifa memutar bola matanya malas. "Nggak akan ada yang nyasar di sini. Lagian juga kalian kenapa sih emangnya, aneh banget deh!" Syifa mengambil sebuah kue dan menikmatinya.


"Nggak ada yang aneh. Emangnya kenapa juga kalau kita ikutin kamu?"


Syifa benar-benar tidak ingin berdebat sekarang ini, dia lebih ingin menikmati makanan yang ada di tangannya. "Terserah kalian saja lah," ucapnya singkat lalu kembali memasukkan setengah kue tersebut ke dalam mulutnya.


Arkhan menghembuskan nafasnya, dan segera mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jasnya, lalu memberikan benda itu kepada Syifa. "Kalau makan itu yang bener, jangan belepotan kayak anak TK," ucap sang adik. Syifa lalu mendekat ke arah adiknya tersebut dan menyodorkan wajahnya.


"Kamu bisa bersihkan sendiri," ucap Arkhan kesal. Syifa hanya mengangkat kedua tangannya di mana ada gelas dan juga piring kecil berisi kue.


Aldy dan Randy berjalan menyibak kerumunan para tamu yang datang, mereka dengan cepat sampai ke tempat di mana orang tuanya berada.


"Mi, Pi, ada Randy di sini."


Yoga dan Wanda mengalihkan tatapannya melihat sang putra bersama dengan seorang pria, wanita itu tersenyum dan mendekat mengulurkan tangannya kepada Randy.


"Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kamu?" tanya Wanda kepada Randy.


"Saya baik, Tante," ucap Randy sambil membalas uluran tangan ibu dari sahabatnya.


"Syukurlah kalau begitu, Tante senang sekali kamu bisa meluangkan waktu untuk datang ke pesta kecil kami," ucap Wanda berbasa-basi.


Randy juga bersalaman dengan yang lainnya, mengucapkan selamat atas keberhasilan dan pencapaian dari perusahaan milik laki-laki tersebut.


"Papa Bima, ada seseorang yang mengagumi Papa selama ini." Aldy menunjuk Randy, pemuda itu mengulas senyum kepada Bima.


"Salam kenal untuk Anda, Pak Bima. Senang sekali saya bisa bertemu Anda di sini." Randy memberikan telapak tangannya dan langsung disambut ramah oleh Bima.

__ADS_1


"Salam kenal juga untukmu anak muda."


"Saya sudah lama mengagumi Anda, tapi ternyata sangat sulit sekali untuk kita bisa bertemu," ucap Rendy dengan penuh suka cita. Dia sedikit malu dengan pria ini, pasalnya sedari dulu sangat mengaguminya dan berusaha untuk bertemu akan tetapi kesibukan Bima membuatnya baru bisa menemuinya sekarang ini.


"Ya, saya minta maaf sekali, sebenarnya saya ingin hidup menjadi orang biasa dan mempunyai banyak waktu untuk bertemu dengan orang lain, tapi nyatanya terlalu banyak sekali tanggung jawab yang harus saya pegang sampai sekarang ini. Ah, andaikan saja putriku mau melanjutkan bisnis ini, tentu saya akan pensiun dan menikmati hari tua di rumah bersama istri saya," ucap Bima sambil merangkul Lily ke dalam pelukannya.


Randy tersenyum lalu terkejut saat melihat wajah Lily, seakan dia mengenali wajah itu.


"Apakah ini Nyonya Mahendra?" tanya Randy lalu mengulurkan tangannya kepada Lily.


"Iya ini istri saya, boleh bersalaman tapi jangan lama-lama," tegur Bima yang membuat Randy menarik tangannya kembali setelah bersentuhan beberapa detik dengan tangan Lily.


"Anda sangat cantik sekali, Nyonya. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan pasangan yang sangat spesial di sini," puji Randy. Lily tersipu malu mendengar pujian dari pemuda ini.


"Jangan memuji kami seperti itu. Kami hanyalah pasangan tua yang menunggu untuk bisa duduk santai di rumah," ucap Lily.


Mereka bersama-sama saling berbicara, seperti biasanya dalam pertemuan para pengusaha yang dibahas adalah bisnis mereka masing-masing. begitu juga dengan Randy yang tidak melewatkan kesempatan kali ini untuk bisa berbasa-basi dan mengajukan kerjasama dengan perusahaan Bima. Siapa yang tidak tahu dengan perusahaan satu ini, salah satu dari sekian perusahaan yang masih bertahan dan sangat kuat yang masih bisa berdiri sampai sekarang ini.


Mereka masih berbicara saat tiba-tiba saja Syifa mendekat dan merajuk kepada sang ayah. Dia merasa kesal karena kedua adik kembarnya tidak membiarkannya mengambil makanan lagi.


"Papa! Bilang sama mereka berdua jangan ikutin aku terus!" rajuknya tanpa malu, menunjuk ke arah kedua adik kembarnya yang hanya diam dengan senyuman.


Bima tersenyum malu kepada Randy dan sedikit menganggukkan kepalanya meminta jeda untuk berbicara kepada sang putri.


"Ada apa lagi, Syifa? Apa kamu tidak lihat kalau Papa sedang berbicara dengan orang lain?" katanya Bima kepada putrinya ini. Syifa yang terlanjur kesal tidak peduli, dia mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangan di depan dada.


"Karena aku sedang kesal, Papa. Masa aku nggak boleh makan!" ujarnya lagi.


"Karena dia sudah makan banyak, Pa. Lihat aja tuh pipinya makin bulat. Nanti gimana kalau buletnya sampai turun ke perut!" ujar Azkhan yang mengundang tawa dari Celia. Mendengar ucapan adiknya yang seperti itu membuat Syifa semakin kesal.


"Papa!" teriak Syifa lagi. "Dia sudah ejek aku!"


Bima sedikit pusing dengan kelakuan Syifa. Rasanya gadis ini semakin manja saja dan dia juga tidak tahu di mana kini mereka berada.


Celia tidak tahan melihat wajah Syifa yang cemberut seperti itu, dia mendekat dan menarik tangan putri dari Bima. "Ya sudah Syifa sama Mami saja, lagian Mami juga pengen duduk. Ayo Lily, Wanda. Kita pergi ke sana. Kalian berdua, anak nakal, tidak usah ikut!" tunjuk Celia pada anak kembar Lily, lalu tanpa menunggu protes kedua orang itu Celia menarik tangan Syifa pergi menjauh.


"Mami nggak adil kenapa kita nggak diajak juga?" protes Azkan, Syifa berbalik tersenyum dan menjulurkan lidahnya mengejek sang adik.


"Maafkan perilaku putri saya tadi, dia memang masih suka manja," ucap Bima meminta maaf kepada Randi. Laki-laki itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Pak Bima. Memang anak perempuan biasanya manja kepada ayahnya," ujar Randy memaklumi yang membuat Bima menjadi senang akan laki-laki itu.

__ADS_1


Diam-diam Randy melirik ke arah di mana Syifa kini bersama Lily dan Celia. Ternyata itu anaknya Pak Bima, berarti aku salah mengira, pikir Randy.


__ADS_2