
Siang yang panas dan terik membuat kerongkongannya terasa kering. Yumna berjalan melewati para pengunjung restoran, dia mencari kursi yang kosong, memilih satu meja yang terdapat di atas hamparan pasir yang lembut, dengan payung besar di atasnya. Melempar sepatunya tepat di bawah meja, dan meremas pasir lembut itu dengan jari-jari kakinya.
Yumna tersenyum menatap kakinya yang penuh pasir, lalu melemparkan pandangannya ke tepi pantai. Dia mengangkat tangannya ke atas meja lalu menopang dagunya. Mengetuk-ketuk pipinya dengan menggunakan jari telunjuk. Kembali tersenyum menatap beberapa orang yang sedang bermain di tepi pantai, beberapa anak berlarian disana. Banyak juga yang berenang. Tak lupa dengan beberapa bule yang berjemur di bawah terik matahari.
Yumna iri pada mereka. Ingin rasanya dia berlarian mengejar ombak, atau sekedar memberi tanda telapak kakinya di atas pasir yang baru saja di tinggalkan sang ombak, tapi ingatan itu melekat dengan jelas bagaimana membuatnya menjadi penakut!
Pantai tidak akan membuatnya tenggelam! Mencoba mensugesti dirinya sendiri, tapi bayangan itu masih saja setia hadir mengganggunya.
Mengusap wajahnya kasar, menghembuskan nafasnya yang berat.
"Bagaimana kabar dia ya? Apa dia selamat?" gumam Yumna pelan. Ingat akan suatu hal yang membuat dirinya terganggu selama ini.
Bayangan sosok seorang anak lelaki yang berenang mendekat ke arahnya, lalu kemudian menariknya dari dasar laut membawanya ke permukaan. Dan setelah dirinya di selamatkan oleh yang lain, anak itu menghilang di telan lautan!
"Permisi, Nona! Pesanannya!" seorang wanita menyimpan jus jeruk, lengkap dengan potongan lemon dan payung kecil sebagai hiasannya. Dan juga makanan lain yang Yumna pesan sebelum dia duduk disana.
"Trimakasih!"
Pelayan itu kembali ke tempatnya, sementara Yumna menikmati makanan dan minuman yang ada di hadapannya.
Yumna menyipitkan matanya saat tak sengaja melihat Haidar dan Vio juga ada di sana terhalang oleh beberapa meja dan pengunjung restoran.
"Hadeuhhh... tahu dia disini aku gak bakalan kesini deh!" cibir Yumna lalu menyesap jus miliknya. "Restoran kan banyak, kenapa juga harus di tempat yang sama! Haaah ya sudah lah. Terlanjur pesen makanan juga!" Yumna menatap makanan di depannya lalu memakannya.
Perlakuan Haidar pada Vio membuat Yumna merasa panas, jijik, dan ingin muntah melihatnya.
"Lebay!" lalu berdiri dan pindah tempat duduk membelakangi mereka. Tanpa menghiraukan kedua orang itu Yumna makan dengan lahap karena memang dirinya sedang sangat lapar.
Makanan sudah habis, Yumna diam hanya menikmati pemandangan laut dari sana. Dia memanggil pelayan untuk membawa semua piring kotor miliknya dan memesan lagi, satu buah kelapa muda segar.
"Minta di kasih es dikit ya mas!" ucap Yumna. Pelayan pria itu mengangguk sembari mengatakan untuk menunggunya sebentar.
Yumna kembali merenung. Bukan merenungi Haidar. Dia sudah masa bodoh dengan pria itu! Yang Yumna fikirkan sekarang adalah anak laki-laki yang sudah menolongnya dulu. Laut membuat dia mengenang ketakutan dan rasa bersalah di masa lalunya!
"Apa dia selamat? Atau tidak?" kembali mengingat. Merasa dirinya jahat jika anak laki-laki itu tidak terselamatkan. Rasa bersalah dan juga penasaran selama lebih dari dua belas tahun masa hidupnya.
__ADS_1
Yumna ingat jelas saat itu. Waktu sekolahnya mengadakan tamasya ke Bali. Dirinya di dorong oleh teman sekelasnya saat baru saja turun dari pesawat hingga membuat kakinya terkilir. Yumna ingat dengan jelas, sangat, sangat, sangat jelas dia di dorong hingga dia terjatuh di tangga pesawat. Tapi gadis itu tidak mau mengakuinya.
Hahh... Siapa yang menyangka jika Yumna pun tak luput menjadi korban bully di sekolahnya. Ya... tak aneh dengan cinta monyet, dan entah kenapa para anak gadis tanggung itu begitu nekat mendorongnya. Iri karena Yumna menjadi yang terfavorit di antara siswi di kelasnya. Bukan hanya di kelasnya, bahkan di beberapa kelas yang lain.
Pada siang menjelang sore, semua anak ikut serta naik ke kapal feri, begitupun dengan Yumna. Dia sebenarnya malas ikut kesana karena kakinya yang masih sakit, tapi Tia merengek meminta dia ikut karena Tia juga tidak ada teman lain selain dirinya.
Yumna dan Tia sedang menikmati pemandangan dari atas kapal, mereka sedang berbincang berdua seraya bercanda satu sama lain. Mereka tak sadar kalau ada tiga orang yang mendekati mereka dan mendorong Yumna sampai terjatuh ke laut nan dalam.
Tia terkejut. Dia berteriak memanggil Yumna, dan meminta tolong. Sedangkan tiga gadis tanggung itu saling melirik lalu melarikan diri. Bukan maksud mereka mendorong Yumna hingga tercebur ke tengah laut, hanya ingin menjahilinya saja. Tapi mereka salah besar karena perbuatannya telah mengakibatkan seseorang celaka!
Yumna jauh tertinggal dari kapal feri yang membawanya tadi, dia mencoba berenang meski merasakan rasa sakit di pergelangan kakinya. Semakin lama semakin sakit, dan akhirnya dia tak kuat lagi untuk berenang.
Dia perlahan mulai tenggelam, tangan dan kakinya sudah tidak kuat lagi untuk di gerakkan. Air laut perlahan masuk ke dalam hidungnya hingga terasa asin di tenggorokannya. Rasa takut seketika menyelimutinya. Takut jika ia tidak akan selamat. Takut jika ia akan membuat keluarganya sedih, takut jika ia melihat mama, Syifa, juga yang lainnya menangis.
Fikirannya menyuruhnya untuk tetap bergerak tapi nyatanya Yumna tidak bisa, dia terlalu takut bahkan hingga ia lupa caranya bernafas dan mengedipkan mata. Takut jika dia berkedip, dan saat itulah dia akan berada di alam lain!
Semakin dalam, dan semakin dalam. Semakin gelap, segelap tatapan di mata Yumna. Wajahnya datar, tanpa ekspresi namun dalam sorot matanya terlihat ketakutan yang teramat sangat. Tubuhnya kaku sulit di gerakkan.
Sebuah tangan menariknya ke atas, akhirnya membuat pandangan Yumna kembali bercahaya. Yang dia lihat hanya dada anak laki-laki itu. Tangan yang sama kecilnya dengan dirinya. Selebihnya ia tak ingat lagi hingga tiba-tiba saja ia bisa melihat cahaya terang dan juga merasakan paru-parunya yang refleks bernafas.
Setelah kejadian itu Yumna terbangun di sebuah rumah sakit. Kakinya yang terkilir sudah di perban. Jarum infus juga sudah menancap di lengannya. Mama Lily dan papa Bima juga ada disana. Pasti ada yang memberi mereka kabar tentang kecelakaan yang terjadi pada Yumna, dan mereka langsung berangkat dengan menggunakan jet pribadi.
Dan saat Yumna menanyakan perihal anak laki-laki itu Lily dan Bima hanya saling memandang. Apa mereka tidak tahu?
Yumna tersadar saat seseorang menyimpan sekaleng jus jeruk di mejanya seraya mengatakan permisi dengan suara beratnya.
"Mas, saya kan pesannya buah kelapa, bukan minuman kaleng!" ucap Yumna mengambil minuman kaleng itu dan menyodorkannya pada pria yang berdiri di sampingnya.
"Itu minuman punya saya!" pria itu mengambil benda tersebut membuat Yumna melongo.
"Kamu ngapain disini bengong sendirian?! Boleh gabung, kan?" ucapnya tapi tanpa menunggu jawaban dari Yumna, dirinya sudah duduk di tempat yang Yumna duduki semula.
"Eh, iya gak papa kok."
"Kamu ngapain ngelamun sendirian. Hum?"
__ADS_1
"Hehe, gek ngelamun sih, Sen. Cuma lagi inget masa dulu." ucap Yumna.
"Gak ngelamun, tapi inget masa dulu? Bukannya sama saja ya?!" Seno tertawa kecil, membuat Yumna ikut tertawa. Seno membuka minuman kalengnya dan menawarkan pada Yumna.
"Gak ah, aku pesen buah kelapa, tapi masnya belum dateng juga!" tolaknya.
"Aku gak sengaja tadi lihat kamu disini, jadi mampir dulu barang sebentar sambil istirahatin kaki." ucap Seno.
"Kamu pasti lagi inget kejadian dulu ya?" tebak Seno. Yumna hanya tersenyum meringis.
"Masa lalu jangan di inget terus! Harusnya siapin masa depan!" ujar Seno. Seorang pria datang membawakan buah kelapa muda nan segar pada Yumna.
"Silahkan. Maaf lama menunggu!"
"Terimakasih!" ucap Yumna. Lalu pelayan itu pergi kembali ke dalam.
"Iya, aku tahu! Aku juga udah gak larut sama masalah itu kok, cuma masih penasaran aja sama anak itu. Dia selamat apa enggak ya?" melirik ke arah Seno.
"Mudah-mudahan saja!" ucapnya. Mereka terdiam menikmati angin yang bersemilir siang itu.
"Kalau suatu saat kamu ketemu sama anak laki-laki yang dulu tolong kamu. Kamu mau apa, nih?" tanya Seno tiba-tiba.
Yumna berfikir sebentar. "Mau apa ya? Mungkin kalau dia ganteng, aku akan bersedia nikah sama dia buat ungkapin rasa trimakasih aku. Hehee... itupun kalau dia mau!" ucapnya asal.
"Dasar!" Seno menggelengkan kepalanya seraya tertawa kecil. Yumna ternyata tidak pernah berubah sedari dulu.
"Kalau ternyata orang itu jelek?" tanya Seno.
"Ya kalau jelek juga gak papa, sih yang penting dia setia!"
"Kalau ternyata anak laki-laki itu adalah aku?" melirik ke arah Yumna. Yumna menutupi mulutnya yang tertawa keras.
"Gak mungkin! Kamu kan gak bisa berenang!" lalu menyesap air kelapa muda yang menyegarkan tenggorokannya.
Seno tersenyum menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
__ADS_1