
Yumna bangun saat pagi dan tak mendapati Haidar di sebelahnya. Melirik ke arah kamar mandi, tak ada suara apapun dari dalam sana. Lalu pandangannya menyapu ke sekitar. Sepatu, jaket dan hp Haidar sudah tak ada.
"Masih pagi dah menghilang aja!" gumam Yumna. Dia mengedikkan bahunya dan kemudian berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.
Yumna mandi dengan segera, tak lama hanya butuh waktu lima belas menit karena ia ingat semalam Seno mengiriminya pesan kalau dia punya waktu untuk membawa Yumna sarapan lalu di sambung jalan-jalan ke suatu tempat.
Setelah siap, Yumna kemudian berjalan keluar dan menemui Seno yang ternyata sudah menunggunya di kafetaria yang ada di sebelah hotelnya. Kali ini Seno terlihat tampan dengan baju santainya, dia memakai kemeja corak khas pantai dan celana pendek sebatas lutut, dan sandal gunung yang menjadi alas kakinya. Di atas kepalanya bertengger sebuah topi koboi berwarna krem. Satu kata, tampan!
"Kenapa?" tanya Seno saat melihat Yumna hanya terdiam menatapnya.
Yumna tersenyum lalu berjalan memutari tubuh Seno. Dia mencakup dagunya seraya menganggukan kepalanya sendiri.
"Apa ada yang aneh?" tanya Seno. Yumna menggelengkan kepalanya lalu tertawa kecil.
"Gak ada yang aneh sih, bagus malah!" ucap Yumna.
"Kalau bagus kenapa masih ada kata 'sih' nya?" cebik Seno. Dia lantas mengeluarkan sesuatu dari bagpaper yang dia bawa.
"Ini, biar kalau nyasar aku bisa cari kamu!" ucap Seno dan menyerahkan sebuah baju kemeja dengan corak dan warna yang sama.
"Cih alesan! Bilang saja kalau ingin coupelan!" ujar Yumna, tapi dia melepaskan tas kecil yang tersampir di pundaknya, menyimpan tas itu di atas meja, lantas dia memakai baju yang sama persis dengan Seno.
__ADS_1
Seno hanya tertawa lirih, 'ketahuan!' wajahnya memerah.
"Kita mau kemana?" tanya Yumna tak sabar.
"Sarapan dulu lah! Aku sudah pesankan!" jawab Seno. Yumna tersenyum malu, saking tak sabarnya sampai dia melupakan sarapan.
Yumna dan Seno sarapan bersama sambil menikmati udara pagi yang masih segar. Suara dentuman ombak yang tak jauh dari sana terdengar jelas di telinga. Semakin lama langit semakin terang. Mereka menikmati sarapan sambil mengobrol ringan, tak jarang keduanya tertawa saat mengingat hal-hal lucu yang terjadi di masa lalu mereka.
Seorang pria mengeratkan pegangan pada sendoknya, melihat hal yang nyata jelas terpampang di depannya. Gadis itu dengan riangnya tertawa lepas, dia terlihat suka dan juga akrab dengan pria asing itu.
Kenapa dia kalau sama aku gak pernah tertawa seperti itu? batinnya meronta, ingin sekali dia mendatangi keduanya dan menarik Yumna kembali ke kamar.
"Sebenernya aku mau bawa kamu ke suatu tempat, tapi tempatnya agak jauh juga dari sini, takut kalau kamu gak mau!" ucap Seno.
"Ke bukit! Besok kan malam tahun baru, kamu kan gak suka pantai juga, kita pergi ke bukit lihat kembang api?" tanya Seno. Senyum Yumna mengembang di bibirnya.
"Boleh. Iiihh pengertian banget sih kamu! Pengen cubit deh!" ucap Yumna gemas, dia mencubit kedua pipi Seno dan di goyangkannya ke kanan dan ke kiri. Kebiasaan saat mereka sekolah dulu. Seno meringis kesakitan, dia mencoba menahan tangan Yumna.
Hawa panas terasa dalam diri seseorang yang masih memperhatikan tingkah laku keduanya. Kalau saja ada kamera pendeteksi hawa disana pastilah hawa dari Haidar yang paling mencolok, merah bercampur orange dan kuning!
"Eh, itu bukannya istri kamu ya?" tanya Vio melirik ke arah dimana Yumna dan Seno berada.
__ADS_1
"Istri kamu ternyata hebat juga ya. Baru saja kemarin kalian sampai disini, dia sudah gaet pria aja! Tapi bagus deh. Jadi biar dia ada temennya juga. Kalau dia jadian sama laki-laki itu kan, aku jadi gak khawatir kalau kamu akan dia rebut!" Vio mendekatkan dirinya ke arah Haidar, dan menggesekkan dada mont*knya ke lengan kekasihnya itu.
Bukannya reda mendengar perkataan Viola. Hawa panas dalam diri Haidar malah membuat darahnya mendidih.
"Sayang! Cepat habiskan sarapan kamu, aku ada pemotretan sebentar lagi!" ucap Vio lalu menyuapi Haidar dengan sendok miliknya.
Haidar tak mengalihkan pandangannya dari Yumna. Membuat wanita yang duduk disampingnya merengut sebal!
"Sayang! Kamu itu kenapa sih? Lihatin dia terus!" ucapnya sebal, dia mengambil dagu Haidar dan memutar kepala Haidar hingga mereka saling berhadapan. Mau tak mau Haidar harus mengalihkan pandangannya.
"Ingat ya Haidar! Kamu itu sedang sama aku! Jangan perhatikan yang lain!" ucap Vio marah. Haidar menatap mata Vio, lalu sorot mata tajamnya berubah menjadi lembut.
"Maaf sayang, bagaimana pun juga, aku harus perhatikan gerak-geriknya! Bagaimana kalau pria itu pria jahat?!" tanya Haidar.
"Dia kan wanita dewasa, dia bisa membela diri sendiri. Masa hanya sekedar teriak saja dia tidak bisa!" melepaskan tangannya dari dagu Haidar. Kesal!
"Ya sudah, sana! Kalau kamu khawatir sama dia, sana kamu pergi saja! Jangan pedulikan aku! Bahkan kalau aku jalan sama cowok lain! Sana. Pedulikan saja istrimu!" ucap Vio marah lalu bangkit dari kursinya.
"Tunggu Vi! Jangan marah! Maafkan aku, sayang!" Haidar mengambil pinggang Vio dan menarik wanita itu hingga kembali duduk di kursinya. Memeluk wanita itu erat.
"Jangan panggil aku sayang!" ketus Vio. Mencoba melwpaskan diri dari pelukan kekasihnya.
__ADS_1
"Honey?" tanya Haidar. Vio membuang wajahnya ke samping, membuat Haidar salah tingkah dan kelabakan membujuknya.
Haidar menoleh ke arah lain dia sudah tidak melihat Yumna lagi disana. Ada rasa kesal di dalam hatinya dan ia merasa menyesal kenapa dia tidak beralasan bangun siang saja pada Vio supaya dia bisa melarang Yumna untuk keluar.