YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
90. Pulang ke Rumah


__ADS_3

Pintu gerbang di buka oleh seorang security, Yumna melajukan mobilnya ke dalam pelataran rumah.


Bima sedang duduk berdua dengan Azkhan di teras, bermain catur. Mereka bersamaan menatap mobil yang batu saja datang, tak mereka kenal hingga akhirnya Yumna keluar dari sana.


Bima menyunggingkan senyumnya, apa lagi Azkhan, dia begitu rindu dengan kakak sulung bawelnya ini.


Azkhan berdiri dan setengah berlari kepada kakaknya, memeluknya dengan erat. Mungkin dia lebay? Tidak! Azkhan hanya rindu!


"Kak Yumna? Kok sendirian?" tanya Azkhan yang tak melihat Haidar disana.


"Sendiri saja Az." Yumna melepas pelukan adiknya.


"Tolongin kakak, ya. Ambilin koper di bagasi mobil." Yumna menyerahkan kunci mobil pada Azkhan. Meski pemuda itu bingung, dia akhirnya hanya mengangguk saja saat Yumna berjalan meninggalkannya dan berjalan menuju papa Bima.


Bima menyambut putrinya, memeluknya dengan sayang. Dia bingung, tak biasanya Yumna datang dengan muka sembab seperti itu, apalagi melihat Azkhan yang kemudian mendekat dan membawa koper?


Apa yang terjadi dengan mereka?


Yumna memeluk papa Bima dengan erat. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang papanya. Haidar memang bukan siapa-siapa, tapi bercerai dengan dia ada rasa sakit yang Yumna rasakan, ada rasa tak rela, tapi harus ia lakukan, Vio lebih utama daripada dirinya dalam kehidupan pria itu.


"Masuk lah dulu." ajak Papa Bima setelah Yumna tenang. Bajunya basah karena Yumna yang baru saja menangis. Azkhan membawa koper Yumna ke dalam, di belakangnya papa Bima dan Yumna berjalan beriringan.


Lily baru saja keluar dari dapur, dia masih memakai celemek dan membawa roti yang masih panas di tangannya. Asap tipis beterbangan di udara, wanginya terasa enak menggunggah selera.


"Eh, Yumna ...." Lalu terdiam, tak meneruskan ucapannya lagi saat melihat apa yang Azkhan bawa.


Bima hanya menggeleng dari tempatnya, tanda untuk tak menanyakan perihal kedatangan Yumna. Lily sudah mengerti isyarat itu. Hidup lebih dari dua puluh tahun dengan Bima membuat mereka saling mengerti meski tanpa berkata.


"Ayo duduk sini. Mama sudah buat roti selai stroberi. Masih panas tapi!" Lily tertawa seakan tak terjadi apa-apa, lalu menyimpan roti itu di atas meja.


Yumna tersenyum. Meski Mami Mitha dan papi Arya sangat baik padanya, tapi tetaplah ini adalah keluarganya, rumahnya. Tempat dimana dia untuk pulang. Yumna menahan air matanya yang siap meluncur ke bawah.


Lily menghampiri Yumna dan memeluknya erat. Begitu pun juga dengan putrinya itu. Dia memeluk erat sang mama yang sudah hampir dua minggu tidak ia temui.


Jangan menangis! Jangan menangis! batin Yumna.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Lily menarik kepalanya dan menatap Yumna yang sudah kembali sembab di matanya. Suaranya tercekat di tenggorokan.


Yumna mengangguk. Dia berusaha tegar. Ini bukan apa-apa. Jangan cengeng!


"Gak apa-apa kok, Ma! Jangan khawatir." ucap Yumna menenangkan mamanya.


Ingin rasanya Lily memarahi anak itu. Jangan khawatir dia bilang? Tak ada seorang ibu yang tidak khawatir pada anaknya, apalagi melihat keadaan Yumna yang seperti ini!


Yumna menghapus air mata Lily. Rasanya sedih sekali melihat sang mama harus menitikkan air mata. Tiba-tiba saja Yumna merasa bersalah pada mama. Mungkin kah ini karma karena tidak menurut padanya?

__ADS_1


Bima menatap kedua wanita yang di cintainya ini, rasa sedih menyelimuti mereka kini. Hatinya sakit.


"Bawa kopernya ke atas, dan minta Bu Sarah buat bersihkan kamar kakak!" titah Bima pada Arkhan.


Azkhan memang lebih penurut daripada kakak kembarnya. Dia segera mencari Bu Sarah, asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi di keluarga ini sekaligus koki memasak untuk membantu Lily.


"Bu Sarah!" panggil Azkhan. Wanita paruh baya itu sedang membantu Syifa membuat adonan kue, kali Ini yang mereka buat adalah brownies coklat, permintaan Syifa. Emmm... Bukan! Tepatnya Syifa lebih banyak bertanya dan mencolek adonan dari wadah dan merasainya daripada membuatnya. Nyatanya tetaplah wanita itu yang sibuk membuat kue!


"Ada apa, Mas?" tanya Bu Sarah.


"Tolong bersihkan lagi kamar Kak Yumna. Penghuninya datang!" ucap Azkhan, dia mendekat ke arah Syifa dan membersihkan rambut kakaknya yang terdapat adonan kue basah yang sudah mengering.


"Dikira Jin kali, penghuni!" ucap Syifa masih tak sadar Yumna datang.


"Eh? Kak Yumna datang?" serunya saat sadar, Azkhan mengangguk. Syifa segera berlari tanpa mencuci tangannya, dia sangat rindu dengan kakaknya yang satu itu.


Ada teman curhat dan mengadu! serunya dalam hati sambil terus berlari. Dia kesal dengan kedua adik kembarnya yang selalu menjahilinya.


Azkhan menggelengkan kepalanya melihat Syifa dengan tingkah laku seperti anak kecil.


"Tolong di bersihkan ya Bu." pinta Azkhan. Bu Sarah baru saja selesai memasukkan adonan brownies ke dalam oven dan mengatur suhu serta waktu untuk pemanggangan.


"Baik, Mas!" Bu Sarah mencuci tangannya dan melepas celemek dari tubuhnya. Lalu mengikuti Azkhan keluar dari dapur.


Bu Sarah mendekat ke arah Syifa.


"Mbak Syifa, Ibu mau bereskan kamar Mbak Yumna. Itu kue sudah ibu masukkan ke oven, tolong nanti di cek ya, kalau sudah matang di keluarkan." ucap Bi Sarah pada Syifa. Syifa merengut sebal, acaranya ingin bermanja dengan kakaknya harus terganggu dengan brownies di oven.


"Aaah .... Syifa masih kangen sama kak Yumna!" Memeluk Yumna erat, tak mau lepas. Dasar manja!


"Syifa, tanggung jawab, Nak. Kamu kan yang mau brownies, jadi kerjakan sampai selesai!" Lily menatap tajam putri keduanya.


"Iya!" ucap Syifa patuh akhirnya. Dia melepaskan pelukan dari kakaknya.


"Masih dua puluh menit lagi kok, Mbak!" ucap Bu Sarah. "Takut ibu belum selesai di atas." tambah Bu Sarah.


"Iya!" ucap Syifa lagi lalu memeluk Yumna erat dan bermanja dengan kakaknya.


"Kamu bau telur, Ih!" ejek Yumna sambil menutup hidungnya.


"Ih, kakak. Enggak, ah! Mana ada!" Syifa mencebik kesal.


"Ini apa?" Yumna mengambil adonan yang mengering dari rambut Syifa. "Adonan itu buat di panggang, Syifa. Bukan buat biasa di rambut!" Syifa semakin merengut mendengar ejekan kakaknya, Bima dan Lily tertawa bersamaan, semakin membuat Syifa kesal.


Bukannya tak sopan, Bu Sarah mengganggu acara temu kangen itu, tapi Bu Sarah mengikuti apa yang Lily ajarkan untuk semua anaknya. Berani berbuat, berani bertanggung jawab! Syifa ingin membuat brownies, berarti anak itu harus melakukannya sampai selesai!

__ADS_1


Azkhan mengangkat koper Yumna.


"Ibu bantu, Mas?" Bu Sarah sudah akan menyongsong koper itu.


"Gak perlu, Bu. Ringan kok. Ibu duluan saja ke atas." titah Azkhan, Bu Sarah mengangguk lalu mendahului Azkhan berjalan ke atas.


Bu Sarah mulai membereskan dan membersihkan kamar Yumna, sedangkan Azkhan baru saja sampai dan menyimpan koper di dekat ranjang kakaknya. Dia menatap nanar koper itu. Dirinya memang anak kecil, tapi sepertinya dia tahu apa arti dengan kepulangan kakaknya yang pulang dengan membawa koper kali ini.


Azkhan pergi ke kamarnya dan mendekat ke arah Arkhan, saudaranya itu sedang mendengarkan musik dengan menggunakan headphone sambil belajar.


Mereka memang kembar, tapi ada beberapa hal yang tak sama. Seperti ini contohnya, Arkhan harus selalu mendengarkan musik slow untuk belajar, sedangkan Azkhan butuh suasana yang tenang untuk belajar.


"Hei!" Azkhan menarik kabel headphone Arkhan yang tak juga kunjung menoleh saat ia panggil.


"Apa sih!" Arkhan mendengus sebal, menurunkan headphone nya ke leher. Dia tak suka jika sedang fokus belajar ada yang mengganggunya.


"Kak Yumna pulang." tutur Azkhan.


"Tumben? Ini bukan weekend." ujar Arkhan. Biasanya Yumna pulang jika dia libur dari bekerja. Azkhan mengangkat kedua bahunya.


"Kak Yumna bawa koper. Apa mungkin sedang marahan dengan Bang Haidar?" tanya Azkhan.


Arkhan menggebrak meja belajarnya dengan keras.


"Wah! Ini pasti Bang Haidar yang buat ulah!" Arkhan berkata dengan nada emosi. Dia melepas headphone nya dan menyimpannya dengan kasar.


Azkhan salah! Harusnya dia tidak mengatakan hal itu pada si emosian ini. Tapi bukan itu yang akan Azkhan maksud. Dia ingin Arkhan tak menanyakan perihal kepulangan Yumna yang mungkin akan lama kali ini dan membuat kakaknya itu bersedih.


"Gue ngomong bukan mau bikin elo emosi, Og*b!!" Azkhan memukul belakang kepala Arkhan, kesal. Arkhan mengelus kepalany yang sakit.


"Kampret. Sakit!" Arkhan bersiap membalas perlakuan yang sama pada adiknya, tapi Azkhan menghindar dengan cepat.


"Gue ngomong itu supaya elo gak sembarangan jeplak kalau ngomong. Lidah elo kan selalu keseleo, dan bikin kak Yumna kesel!" sungut Azkhan. Arkhan mencebik kesal.


"Iya! Kali ini gue gak akan sembarangan! Kak Yumna ngomong apaan pulang sambil bawa koper?" tanya Arkhan pada adiknya.


"Gak ngomong apa-apa sih!" jawab Azkhan.


Arkhan berdiri dari kursinya dan berjalan.


"Mau kemana?" tanya Azkhan.


"Ke bawah lah. Ketemu si bawel!" ucap Arkhan. Azkhan tersenyum kecil. Meski kakaknya ini terkesan cuek tapi rasa pedulinya pada saudara yang lain sangatlah besar.


Dia pun mengikuti langkah kaki kakaknya turun ke lantai bawah.

__ADS_1


__ADS_2