YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
341


__ADS_3

Setelah kepulangan mereka hari kemarin, Yumna dan Haidar masih hanya beristirahat saja di rumah. Haidar belum pergi ke kantornya karena jatahnya libur adalah satu minggu. Masih ada hari esok terakhir untuk dia bermalasan di rumahnya.


Yumna tengah membantu membersihkan rumah, hanya mengelap kaca saja yang ringan-ringan. Cukup untuknya tidur sedari kemarin sore sampai pagi tadi. Sementara Yumna mengelap kaca, asisten membereskan yang lainnya.


"Mbak Yumna," panggil sang asisten itu membuat Yumna mengalihkan tatapannya dari tugasnya.


"Ya?"


"Saya nemu ini," ucap wanita itu memberikan sesuatu yang ada di dalam bungkusan plastik, di luarnya tertulis nama suaminya, tapi dia tidak tahu apa isi dari di dalam sana karena nama barang tersebut ditutupi coretan.


"Oh, terima kasih. Apa ya ini?" gumam Yumna membolak balikkan bungkusan paket tersebut. Dia penasaran, tapi tidak berani membukanya meski itu milik sang suami.


Akhirnya Yumna menyimpannya ke dalam kamar, dia juga tidak membangunkan Haidar untuk bertanya. Paling tidak tega dirinya membangunkan orang yang sedang beristirahat, terkecuali untuk hal yang penting.


Yumna kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


"Apa tadi itu, Mbak?" tanya sang asisten, Yumna menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.


"Itu kayaknya paket lama deh. Saya pernah nemu dah ada dua mingguan deh," ucap asisten tersebut.


"Loh, kok nggak bilang?" tanya Yumna terkejut, dia tidak tahu sama sekali jika ada barang itu di dalam lemari.

__ADS_1


"Saya kira memang sengaja di simpan di sana, jadi saya nggak bilang. Terus saya lupa deh."


Yumna mengelap kaca itu dengan gerakan pelan, mencoba berpikir isi dari kotak tersebut. Tidak biasanya Haidar menyembunyikan sesuatu seperti itu.


Haidar terbangun dari tidurnya, dia tersenyum melihat Yumna yang duduk di dekatnya. Dia pun mendekat dan memeluk pinggang Yumna dengan erat.


"Kamu nggak tidur?" tanya Haidar.


"Nggak. Haidar, ini apa?" tanya wanita itu memperlihatkan paket yang dia pegang. Haidar seketika terhenyak dan bangun dari tidurnya.


"Oh itu ... untuk kamu sih," ucap Haidar. Surprise lain yang akan dia berikan sepertinya tidak akan surprise lagi. Tadinya dia akan memberikannya pada Yumna nanti, saat dia telah mempersiapkan semuanya.


"Buat aku?" Haidar mengangguk, jika sudah ketahuan masa iya mau diminta lagi?


"Kenapa nggak mau kasihkan sama aku langsung?"


"Tadinya nunggu waktu yang tepat, tapi keburu ketahuan ya," ucap haidar sambil tersenyum malu.


"Jadi, aku harus nunggu kamu bikin kejutan dulu?"


"Nggak juga, sudah ketahuan juga, kamu boleh buka kalau mau," ucap Haidar.

__ADS_1


Yumna membuka bungkusan tersebut, dia penasaran juga dengan apa isi yang ada di dalam sana. Sebuah jepit rambut yang sangat indah sekali, sehingga Yumna terpana melihatnya.


"Aku pesankan itu dari pengrajin langsung. Kamu suka nggak?" tanya Haidar yang melihat Yumna diam saja menatap benda tersebut.


"Cantik banget. Ini indah banget, Haidar," ucap Yumna senang.


Haidar tersenyum senang melihat raut wajah Yumna yang bahagia seperti itu.


"Aku pesan dah dari jauh hari buat kamu, tapi malah ketahuan ya sebelum pesta kejutan kecil itu," ujar Haidar.


"Harusnya kamu bawa dan kasih aku waktu di Swedia kemarin," ucap Yumna yang membuat Haidar menepuk keningnya.


"Kenapa aku nggak kepikiran, ya."


Yumna tertawa terkekeh melihat wajah suaminya. "Aku cantik nggak?" tanya Yumna setelah memasang jepit rambut itu di kepalanya, bersinar terkena sinar lampu karena benda tersebut bertahtakan berlian.


"Cantik, istriku sangat cantik sekali," ucap Haidar.


...***...


Mampir sini yuk.

__ADS_1



__ADS_2