
"Astaga... gini amat ya nasib gue. Lagi sakit, bukannya disayang diperhatikan, di elus manja. Malah di cerca dan dihina. Apa salah gue, Ya Rabb!" keluh Haidar pada Sang Maha Pencipta.
Agnes mendorong kepala Haidar keras dengan jari telunjuknya.
"Inget Gusti, Lo?" tanya Agnes dengan wajah tak bersalahnya.
"Asem lo emang. Ini kepala ...."
"Ya siapa bilang itu batok kelapa? Eh tapi kepala elo emang mirip batok kelapa sih, keras kayak batu." ejek Agnes. Haidar hanya bisa pasrah dengan kelakuan sepupunya ini yang emang gak pernah ada akhlak.
...***...
Suara telpone terdengar nyaring saat Yumna baru saja keluar dari kamar mandi. Gegas Yumna mendekat dan meraih hpnya. Yumna tersenyum dengan senang saat melihat deretan huruf yang ada disaana.
"Iya, Ma?"
Lily sangat senang mendengar suara putrinya yang kini tidak pernah lagi menolak panggilan telpon darinya.
"Kamu apa kabar?" tanya Lily.
"Baik, Ma. Yumna disini baik kok. Mama dan papa serta adik-adik yang lain bagaimana kabar?" tanya Yumna balik.
"Baik." jawab Lily.
Ibu dan anak itu saling bertukar kabar dan juga saling mengobrol satu sama lain.
Lily sangat rindu sekali dengan putrinya ini. Entah kapan anak itu akan pulang kembali ke rumah.
"Kamu kapan akan pulang kesini?? Mama kangen sekali." tanya Lily sambil menyusut air mata di pipinya.
Yumna pun sama, matanya kini sudah terasa panas karena saking kangennya dengan wanita yang telah melahirkannya ini.
"Segera, Ma. Yumna akan pulang kok. Sudah waktunya Yumna untuk plang. Yumna gak boleh lari dari masalah yang ada." jawab Yumna. Ya Yumna sudah memikirkan hal ini sedari kemarin. Dirinya sudah siap pulang kembali ke rumah mama, tunggu kerja sama dengan perusahaan asing ia dapatkan baru ia akan pulang ke rumah.
"Bagus lah kalau begitu, Mama sudah sangat kangen sama kamu."
Syifa yang mendengar sang mama menelpon dan mengatakan kangen sudah mengerti dengan siapa mamanya itu berbicara, gegas dia mendekat ke arah mama dan merangkul pinggang sang mama , membuat Lily terkejut.
"Iya Kak, aku juga kengen sekali sama Kakak. Kapan Kakak akan pulang? Aku akan jemput Kakak di bandara, apa Kakak akan pulang besiok?" tanya Syifa memberondong yang membuat bibir Yumna tertarik ke samping.
"Syifa kamu dari luar mandi dulu sana. Bau asem!" cerca Lily pada putri keduanya itu.
"Ih mama aku kan ingin mengobrol sama Kak Yumna. Kak aku kangen!" teriak Syifa dari belakang tubuh Mama Lily. Lily menekan tombol loudspeaker untuk mendengar suara Yumna hingga bisa terdengar pula oleh Syifa.
"Kakak juga kangen. Nanti ya kalau Kakak akan pulang pasti kakak akan kabari. Kita makan batagor dan cilok lagi di perempatan itu loh Dek!" ajak Yumna.
__ADS_1
"Iya kak, aku mau. Mau!" seru Syifa dengan semangat. Mendengar makanan kesukaannya disebutkan Syifa jadi merasa lapar tiba-tiba. Dia melepaskan pelukannya dari pinggang Mama Lily dan pergi begitu saja ke arah dapur. Lily hanya menggelengan kepala melihat tingkah unik putri keduanya itu.
'Eh Syifa, kakak juga mau beli martabak kacang coklatnya Bang Kumis ....'
"Syifa gak ada. Dia udah di dapur!" Mama memotong ucapan Yumna.
'Ih Dasar anak itu, yumna lagi ngomong juga.' Nada suara Yumna terdengar esal dari seberang sana. Lily terkekeh.
"Ya habis kalian ngomonginnya makanan. Tahu sendiri adik kamu kalau sudah bahas makanan suka lapar." Lily dan Yumna terkekeh bersamaan.
Yumna terdiam. "Ma, aku ... Mau tanya sesuatu."
Lily yang mendengar Yumna bertanya seperti itu kemudian menghentikan tawanya.
"Tanya apa?"
'Anu ... Ha ...." Yumna terdiam sebentar. "Mama percaya dengan mimpi? Apa mimpi itu bisa menjadi nyata?" tanya Yumna pelan.
"Mimpi apa? Kamu mimpi?" Lily balik bertanya.
"Eh, bukan Yumna, Ma. Ini temen ...." Yumna salah tingkah. malu lah kalau dia mengatakan kalau dirinya yang bermimpi.
"Memangnya kenapa?" tanya Lily.
Lily terdiam mendengarkan apa yang baru saja purtrinya ini bicarakan.
Apa Yumna yang mimpi Haidar kecelakaan? batiin Lily.
Apakah yang terjadi? Apa mungkin Yumna masih mencintai Haidar hingga ikatan batinnya pada pria itu sangat kuat sampai-sampai memimpikan Hiadar yang kecelakaan?
"Mama!" seru Yumna menyadarkan Lily dari lamunannya.
"Eh, Iya. Ah jangan pikirkan. Mimpi itu itu kan hanya bunga tidur. Jangan dipikirkan ya. Billang sama teman kamu itu, mimpi bukan apa-apa. Berdoa saja supaya tdak terjad hal yang buruk dan semoga terhindar dari apa yang dia impikan." ucap Lily.
Yumna menghela nafasnya dengan lega. Jika memang ada orang yang kecelakaan pasti mama Lily akan mengatakannya padanya jika mama mengenal orang itu.
"Ohh iya deh, nanti Yumna akan bilang sama dia. Ya sudah Ma. Yumna mau ke bawah dulu ya. Yumna mau belajar masak."
"Iya. Hati-hati pakai pisaunya kamu jangan sampai tangan teriris terus." gurau mama. Yumna terkekeh.
"Salam sama Nenek Melati ya," ucap mama kemudian.
"Mama tau aku disini?" Yumna kaget mendengar mamanya yang tahu akan keberadaan putrinya ini.
"Tau lah. Papa yang kasih tau Mama. Dan Papa di kasih tau Kakek Hadi." Lily terkekeh. begitupun Yumna yang ikutan tertawa kecil.
__ADS_1
"Ih, kakek ingkar janji! lain kali aku gak akan percaya lagi dengan kakek!" sungut Yumna kesal. Lily kembali tertawa.
"Lagian kamu juga mau kabur kemana coba? Ya sudah, Mama tenang kalau kamu ada disana, jaga diri baik-baik. Mama gak akan susulin kamu kalau bukan kamu gak minta kami datang. Ingat untuk jaga diri, ya. Mama selalu khawatir dengan kamu, Yumna." rasa sedih dan rindu yang sangat banyak membuat Lily kembali menitikkan air mata, begitupun Yumna yang kini mengusap air matanya. kedua orangtuanya ini emang sangat pengertian sekali pada semua anak-anaknya. Tdak mengekang, tidak juga memaksakan, selalu memberikan kenyamanan dan juga dukungan untuk Yumna dan ketiga adiknya.
"Yumna. Yumna kamu masih disana?" tanya Mama Lily saat tidak mendengar suara putrinya lagi.
"Eh iya ma. Aku masih disini."
"Katanya mau belajar masak? Gk jadi?" tanya Lily lagi.
"Jadi. Ya sudah aku ke bawah dulu, ya Ma. Trimakasih karena Mama mau mengerti dengan keadaan dan keinginan Yumna selama ini."
"Pasti Nak, kamu dan ketiga diku dalah prioritas utama kamu. Jangan patah semangat ya, terus berusaha untuk mendapatkan apa yang terbaik menurut kalian, apa yang menjadi kebahagiaan kalian kami tidak akan pernah melarang." Ucapan Lily terdegar sangat bijak.
Yumna dan Lily mengakhiri pembicaraan mereka. Yumna turun ke lantai bawah, sedangkan Lily menyandarkan dirinya pada sandaran soofa.
Lily tercenung dengan keadaan Yumna.
Sampai terbawa mimpi. Yuna apa kamu masih cinta dengan Haidar? batin Lily.
Lily tersentak saat Syifa menjatuhkan dirinya di sampingnya. hampir daja membuat jantubgnya copot karena dia sedang ada di alam lain tadi.
"Syifa ngagetin Mama aja deh!" cerca Lily seraya menepuk keras paha Syifa.
"Aww, Mama sakit!" pekik Syifa, diusapnya pajanya yang kini terlihat sedikit merah karena pukulan sang mama.
"Ma, kue brownies ilang di kulkas. Padahal tadi siang masih ada. Ini pasti kerjaan si duo rusuh, deh!" adu Syifa pada Lily. kedua tagnannya terlipat di depan dada, bibirnya mengerucut lucu tanda sedang kesal.
"Jangan suka fitnah!" ujar Lily memperingatkan putri keduanya.
"Ih siapa yang fitnah, kan emang biasa gitu mereka, suka makan punya aku!! Ngabisin brownies jatah aku!" seru Syifa tidak terima.
"Iya, itu tandanya kamu fitah mereka. Orang yang habisin brownies di kulkas mama kok!" Lily bangkit berdiri dan pergi dari hadapan Syfa untuk menyiapkan makan malam. Syifa menatap mamanya Tidak percaya, Dia berteriak dengan kesal karena mama menghabiskan jatah kuenya.
"Ih Mama, Kok gitu sih? terus aku mau makan apa sekarang?" seru Syifa. Lily yang hampir sampai di area dapur berteriak menjawab pertanyaan putrinya.
"Makan nasi kan bisa Syifa. Lagian kamu juga jangan terlalu banyak makan makanan manis. Ingat gigi kamu ada yang bolong, kamu kadang suka lupa gak gsok gigi makanya gigi kamu udah kena tambal dua kali!" teriak Mama yang membuat Syifa kembali mengerucutkan bibirnya.
"Mama jahat!" terak Syifa kesal.
"Mama gak jahat. Cuma menyelamatkan gigi kamu dan juga menmanjakan mulut Mama yang ingin ngemil!" jawab Lily sekenanya.
Syifa memasang muka memelas meski tidak ada siapapun yang melihatnya kini.
"Ya ampun. Miris banget. Meng-sad." gumam Syifa sedih.
__ADS_1