YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
126. Mitha: Tak Mau Menjadi Dayang Sumbi.


__ADS_3

Mitha menatap kesal pada putranya yang kini berbaring di atas kasur. Dia menutupi hidungnya dengan telapak tangannya, aroma minuman keras yang ada pada tubuh Haidar sangat menyengat membuat dia mual.


"Trimakasih, Pak Rif." ucap Mitha pada sopir pribadinya yang membantu menjemput Haidar dari pub.


"Sama-sama, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" taya Pak Arif.


"Tidak, Pak. Sudah. Bapak istirahat saja." Ucap Mitha. Pak Arif undur diri dari sana dan kembali ke kamarnya.


Mitha menopang satu tangannya di pinggang sedangkan satu tangan lagi masih ia gunakan untuk menutupi hidungnya.


Haidar keterlaluan! Bukannya anak ini sedang ada urusan di luar, kenapa malah ada di pub?! pikir Mami Mitha.


Dia kesal juga, jika urusannya sudah selesai kenapa dia tak pulang, dan malah menghabiskan waktu di pub? Dan sebab apa pula yang membuat anak ini ada disana sendirian tanpa teman? Biasanya kan dia ada di pub jika dengan wanita itu.


Mitha mendekat ke arah Haidar, dia menarik tangan Haidar untuk membukakan jaketnya. Sekesal apapun dia ada pria itu, dia tetaplah anaknya. Putra satu-satunya.


"Yumna!" lirih Haidar seraya membuka matanya. Dia tersenyum melihat wanita yang selama ini tak pernah ia temui lagi. Senyumnya sangat lebar hingga giginya terlihat, matanya sayu memendam rasa rindu yang mendalam pada wanita yang kini ia lihat di depannya.


"Ini Mami, bukan Yumna!" ucap Mitha dengan nada kesal. Dia menarik satu lengan jaket dan meloloskannya dari tangan Haidar.


"Mami?" Haidar mendekat dan menyipitkan kedua matanya, melebarkannya, lalu menyipitkannya lagi.


"Bukan. Yumna! Ini Yumna!" Dengan telapak tangannya yang besar Haidar menangkup pipi Mitha lalu tersenyum dengan lebar.


"Buka mata kamu Haidar! Ini Mami, bukan Yumna!" ucap mami kesal. Anak ini mabuk berat sampai dia tak jelas dengan siapa yang dia lihat.


"Masa, sih? Mami kan sudah tua. Kalau ini... masih muda!" Mitha merasa semakin kesal, dia di sebut tua? Belum terlalu tua karena dia belum memiliki cucu! Dan anak ini anak durhaka. Jika saja dia tak menjadikan pernikahan sebuah permainan tentu dirinya mungkin sudah memiliki cucu sekarang!


"Yumna aku kangen sama kamu! Kenapa kamu tinggalin aku? Kembali lah kesini, Yumna!" lirih Haidar, dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Mitha, melabuhkan kepalanya pada pundak Mami.


"Kamu tega sekali, aku kan kesepian semenjak kamu gak ada! Kamu juga kan sudah janji akan datang di setiap sidang kita, kenapa kemarin kamu gak datang, Huh?!"


"Aku sangat ingin lihat wajah kamu. Aku kangen sama kamu. Kamu kemana aja Na? Aku sangat.. sangat kengeeenn sekali sama kamu. Pulang lah kesini Na. Kita cerita-cerita lagi sebelum tidur." Haidar merajuk dalam pelukan mami. Mitha menatap iba pada putranya ini. Apa Haidar sudah jatuh cinta pada Yumna?

__ADS_1


"Na, hati gue hampa rasanya saat elo gak ada. Meski gue sama Vio, gue masih tetep ada yang kurang! Jangan pergi lagi ya...! Please. Ummm...." Haidar menarik wajahnya dan kembali mendekatkan dirinya dengan bibir yang mengerucut ke arah mami Mitha.


Mitha terkejut dengan kelakuan anaknya ini. Bisa-bisanya anak ini menyangka dirinya Yumna dan juga ingin menciumnya.


"Haidar eling! Ini Mami, bukan Yumna!" teriak Mitha, Haidar tak mengindahkan perkataan ibunya.


Mitha ketakutan Haidar tak sadar dan akan melakukan hal yang tak senonoh padanya, dia mendorong dada Haidar dengan keras, tapi Haidar masih tetap mendekatkan dirinya hingga Mami berteriak kesal.


"Haidar ini Mami, sadar kamu!" teriak Mitha sekali lagi. Masa iya Haidar akan menciumnya. Dia tak mau kisah Nyai Dayang Sumbi dan putranya terulang kembali. Dia tak mau Haidar jadi Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya, meski dia kini sedang dalam keadaan tak sadar. Tapi tetap saja perlakuan ini tak wajar dan tak benar!


Haidar tak akan bisa membuat danau dalam waktu satu malam, dan Mitha juga yakin kalau Haidar tak akan mampu menendang perahu hingga lalu tercipta lah gunung yang kini bernama Gunung Tangkuban Parahu.


"Eling Haidar. Sadar!" Mitha mencoba meraih kakinya, dia melepaskan sepatunya.


Tak!!!


Dalam keadaan hampir terdesak akhirnya dia berhasil mengambil sepatunya dan melayangkannya tepat ke wajah Haidar, tepat di hidungnya.


"Dasar Anak Durhaka!" Teriak Mitha dengan mengacungkan sepatunya di depan wajah Haidar. Dia lantas pergi dari hadapan anaknya itu dengan keadaan kesal. Keterlaluan! Bucin boleh, tapi jangan dia juga yang di jadikan korban! Ingat dia itu Mami Mitha, bukan Dayang Sumbi!


"Aw hidungku...! Yumna mau kemana kamu?" teriak Haidar memanggil orang yang di rindukanya.


...*...


"Huh... Anak itu!" Mitha menjatuhkan dirinya di ranjang. Dia merasa lelah akhir-akhir ini menghadapi sikap Haidar. Dari mulai pernikahan palsu bersama dengan Yummna, keinginannya bertunangan dengan wanita itu, dan kini pulang dengan keadaan mabuk dan terus mengatakan kalau dia rindu dengan Yumna. Apa yang sebenarnya ada di dalam otak Haidar? Yang dia suka siapa? Yumna kah? Atau Viola?


Ceklek.


Pintu terbuka. Arya baru saja pulang dari kantor. Dia melihat istrinya yang masih berpakaian formal. SHanya memakai sebelah sepatu.


"Mi, darimana?" tanya Arya yang kini mendekat sambil melonggarkan ikatan dasinya.


"Haidar, Pi. Dia mabuk lagi. Mami heran deh. Bukannya dia lagi di luar ya, kok sekarang sudah ada disini?" Mitha bangkit duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Urusannya sudah selesai. Haidar berhasil mendapatkan tender itu untuk perusahaan kita." Arya tersenyum dengan senang. Memang semenjak Haidar memegang tampuk kekuasaan perusahaannya kini berkembang dengan pesat. Anak itu diam-diam bisa mengembangkan diri dan membuatnya bangga, meski terkadang Nita mengeluh jika Haidar sering seenaknya datang dan pergi atau membatalkan dan menggeser jadwal dengan seenaknya.


"Ada apa anak itu mabuk? Apa dia bersama dengan pacarnya?" tanya Arya. Mitha menggeleng lemah.


"Lalu kenapa?" tanya papi.


"Gak tahu, Pi. Tapi Pi, sepertinya Haidar kangen deh sama Yumna, dia bilang kangen dan ingin Yumna balik lagi kesini. Apa mungkin Haidar cinta Yumna ya, Pi?" Mitha menceritakan keadaan Haidar tadi, apa yang dia katakan saat dia mabuk, minus perlakuan anaknya yang hampir menciumnya. Bisa-bisa Arya mengamuk meski dia adalah anaknya sendiri.


"Papi sudah menduga itu, Mi. Bahkan semenjak mereka masih bersama. Ingat perlakuan Haidar sama Yumna. Dan lagi saat mereka baru saja melakukan sidang. Haidar terlihat tak bahagia, kan? Tapi anak itu apa akan mengaku kalau dia sudah jatuh cinta pada istrinya? Dia terlalu bodoh untuk tahu siapa yang dia suka sebenarnya!"


Mitha mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.


"Mami pusing Pi, lihat Haidar yang gitu terus!" ucap Mami dia mengurut pangkal hidungnya dengan menggunakan jarinya menariknya hingga berubah sedikit kemerahan.


Arya tersenyum, dia mendekat ke arah istrinya dan duduk di belakang Mitha, mengambil alih memijit kepala istrinya dengan perlahan. Mitha menutup matanya merasakan nikmat pijatan tangan besar suaminya.


"Mi..." panggil papi.


"Hem..." jawab Mitha dengan nada malasnya.


"Papi udah berapa malam gak dapat kan ya?"


"Dapat apa?" yanya Mami tanpa membuka matanya.


"Itu tuh!"


"Itu apa?"tanya mami sekali lagi.


"Emmm... Papi kan udah pijitin mami, sudah ini gantian ya?"


Mitha membuka matanya, dia menoleh ke arah suaminya.


"Mau?" tanya Mitha dengan nada menggoda. Arya dengan malu-malu mengangguk. Mitha tersenyum dia lantas menarik tangan suaminya ke arah kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2