YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
69. Satu Kata Yang Menyakitkan Hati


__ADS_3

Yumna membalikan badannya di atas tempat tidur. Entah ini sudah yang ke berapa puluh kalinya dia melakukan hal itu. Dia tidak bisa tidur sekarang.


"Apa mungkin karena aku seharian tadi tidur?" Yumna bergumam sendiri. Dia melakukannya lagi dan lagi. Melihat ke arah hpnya, jam masih menunjukkan pukul sebelas malam.


"Huhhh.... Aku nonton tv saja deh!" Yumna bangkit dan keluar dari kamarnya menuju ke sofa. Dia menyalakan tv dan menonton film barat entah apa judulnya dengan tanpa minat.


"Gara-gara dia, aku jadi pulang duluan. Coba kalau dia gak lakuin itu kemarin malam, aku kan masih bisa jalan-jalan sama Seno! Aku melewatkan kembang api di malam tahun baru. Menyebalkan!!" ucapnya penuh sesal.


Yumna mengambil hpnya dan mengetikkan sesuatu.


Yumna💌


Lusa gue kerja. Kalau elo besok belum juga pulang, gue terpaksa pulang sendiri ke rumah mami, terserah elo mau kasih alasan apa sama mami. Gue gak mau bantuin lagi!


Merasa kesal, melemparkan hpnya ke atas sofa, dia mengambil cemilan dan memakannya.


"Awas saja dia. Kalau dia masih betah disana sama pacar gelapnya jangan salahkan kalau mami kemudian akan memecatnya dari kartu keluarga!" Yumna tersenyum, seketika wajahnya jadi terlihat menakutkan, sayangnya Haidar tidak bisa melihatnya.


Salah siapa punya kehidupan yang ribet seperti ini! batinnya.


(Hei... Hei.. Hidup kamu juga sama ribetnya, Yumna).


Yumna kembali ke kamar. Acara tv tak ada yang menarik baginya. Hanya film tengah malam yang menyuguhkan aksi saling pukul dan perang antar geng.


Tring.


Sebuah pesan ia dapatkan. Yumna membacanya lalu tertegun. Kemudian dia mengirimkan balasan.


...***...


Haidar membaca pesan dari Yumna. Dia tertawa lirih. Lalu mengetik balasan untuk Yumna.


Haidar💌

__ADS_1


Iya, aku akan pulang besok sore. Kamu belum tidur? tumben!


Yumna 💌


Gak bisa tidur.


Haidar💌


Kenapa?"


Yumna💌


Emang elo harus tahu?


Haidar💌


Mau telfon, boleh gak?


Haidar menahan nafasnya, dia takut jika Yumna masih marah atas kejadian kemarin malam.


Yumna💌


Dia tersenyum senang lalu menekan hpnya memanggil Yumna.


"Yumna. Soal yang kemarin itu, gue bener-bener minta maaf. Gue dalam pengaruh alkohol. Apa elo masih marah?", tidak mungkin kalau dia bilang dalam pengaruh obat yang di berikan Vio.


'Gue gak marah!" terbit senyuman di bibir Haidar.


'Tapi gue kecewa sama elo, karena elo sudah bikin gue takut. Haidar. Kalau nanti ada waktu yang tepat. Ayo kita bicarakan soal perceraian kita sama mami dan papi.'


Haidar tersentak, senyumnya menghilang seketika. dia terbangun dari pembaringannya.


"Kenapa? Kenapa elo mau cerai secepat ini?" Terasa sesuatu seperti menusuk hatinya saat mendengar kalimat itu dari mulut Yumna.

__ADS_1


'Kenapa? Elo gak mau cerai sama gue? Elo bisa bebas sama Vio. Lagian elo juga sangat bahagia kan sama dia. Gue yakin mami dan papi gak akan keberatan punya menantu Vio. Dia cantik. Dan yang terpenting dia yang elo cinta! Dia yang bisa buat elo bahagia. Gue yakin kebahagiaan Orangtua adalah melihat anaknya bahagia.'


Haidar hanya terdiam mendengar kata-kata Yumna. Sakit. Hatinya mulai terasa sakit.


'Elo ingat, pernikahan kita ini, pada awalnya hanya alasan karena kita menolak untuk di jodohkan dengan orang lain. Baik gue maupun elo, kita sama-sama ada dalam keadaan terpaksa. Kita nikah untuk keuntungan masing-masing. Supaya elo bisa sama Vio, dan supaya gue terbebas dari orang asing yang akan mengungkung hidup gue.'


'Gue gak akan lagi nuntut elo. Elo bisa bebas sama Vio, dan gue juga gak akan minta elo buat nunggu sampai gue punya calon lain. Pada kenyataannya, gue sepertinya ingin menjalani hidup gue sendiri.'


Jleb...


Haidar meremas dadanya sendiri, ribuan anak panah tak terlihat sedang menyerbu hatinya sekarang.


"Itu yang elo mau Yumna? Apa karena cowok yang elo temui disini kemarin?" suara Haidar bergetar. Kerongkongannya serasa ada yang mencekik. Dadanya terasa panas.


'Bukan, itu cuma temen lama gue. Alasan gue ingin pisah karena gue gak mau jadi orang ketiga dalam kehidupan percintaan elo. Meski iya gue cuma sementara hadir dalam hidup elo. Tapi setelah ini, mari kita lupakan. Mari kita hidup masing-masing seperti dulu, kita hanya saling kenal. Sebatas itu!'


Harusnya Haidar senang saat Yumna mengatakan kalau pria itu hanyalah teman lamanya, tapi kalimatnya yang lain kenapa membuat dia serasa ingin berteriak protes dan merasa tidak rela. Bahkan matanya sudah memanas kali ini.


...***...


Yumna mematikan telfonnya. Dia menyimpan hpnya di atas kasur. Menghela nafasnya berat. Ingat apa yang dia bicarakan pada Haidar barusan.


"Aku kira cerai sekarang atau nanti sama saja kan?!" gumam Yumna.


"Ma, pa. Kalian pasti akan marah dengan keputusan Yumna. Tapi rasanya tidak baik untuk Yumna menjadi orang ketiga dalam kisah mereka. Haidar juga harus bisa meraih kebahagiaannya sendiri. Bukan dengan cara seperti ini. Dia harus bisa jujur pada mami dan papi. Maafkan Yumna karena sudah berani membohongi kalian."


Yumna menatap foto kedua orang tuanya yag terpajang di dinding kamar. Dia kemudian membalikan badannya, memeluk bantal guling dengan erat. Dia memilih memejamkan matanya daripada merasakan hatinya yang terasa aneh.


...***...


Haidar masih terduduk di tempatnya. Merasakan hal aneh pada hatinya. Harusnya dia senang kan ada yang mendukung dirinya dengan Vio, tapi kenapa rasanya sakit, saat mendengar setiap kalimat yang Yumna ucapkan.


Cerai?

__ADS_1


Hanya satu kata, tapi membuat Haidar merasa tak nyaman.


"Kenapa ini?"


__ADS_2